Skip to content

bercinta dengan anak bos part 2

November 9, 2011

Rupanya Revo mendengar ucapanku, menyebabkan ia
menoleh ke arahku, dan wajahnya tepat di depanku.
Dengan badan yang masih membungkuk
dipandanginya mataku dan tanpa ada yang memberi
komando, tiba-tiba saja bibirnya sudah menyentuh
bibirku. Saat itu juga entah magnet apa yang menarik kita berdua dalam ciuman lembut, ciuman pertamanya
yang tak akan pernah kulupakan, kubalas ciumannya
dengan penuh nafsu. Aku sudah tidak peduli lagi siapa Revo dan segala
resiko yang harus kutanggung bila ada yang melihat
kejadian itu. Bibirnya memagut bibirku dan kami saling
berciuman dengan lembutnya. Kupermainkan lidahku di
mulutnya, dan ia membalas walau masih dengan rasa
ragu. Namun perlahan ia mulai terasa rileks. Cukup lama kami saling mempermainkan lidah, ciumannya tak lepas
dariku, aku menikmati Fench kiss itu. Aku mencoba bangkit dari dudukku. Kubaringkan
dirinya di atas mejaku sambil terus memeluknya.
Belaian lidahnya di dalam mulutku, kurasakan
geloranya, dan dia semakin menggila dengan
permainan bibirnya. Aku melihat dia begitu menikmati
ciuman itu. Bibir dan lidahnya yang berdansa dalam mulutku, Aku mulai membuka dasi dan kancing
bajunya, tangannya yang halus digosokkannya ke
tubuhku, aku kegelian dan menikmati kegelian itu. Aku
mulai memainkan lidah di tubuhnya, di telinga, di leher,
di puting susunya, kuhisap, begitu lembutnya. Aku
begitu menikmati tubuhnya. Kulihat kesabaran dirinya, untuk tidak langsung ke bagian lain. Ia menikmati
jilatan itu. Ia sudah begitu horny dan hampir mencapai
puncaknya. Revo mencoba untuk membuka
pakaianku, tetapi akal sehatku segera sadar apa yang
telah kami lakukan dan di mana kami berada. Aku
mencoba menahan tangannya, “Jangan… Vo”, kataku sambil tersengal, “Nanti ada yang lihat…”
“Mas, kunci pintunya…” pintanya memohon dengan
mata yang penuh pengharapan.
“Mas… oh… Mas… Teruskan…” dia masih terus
mendesis menahan birahi yang terus memuncak. Aku tidak tega melihat wajahnya. Kutarik tangannya
untuk berdiri dan membimbingnya perlahan ke sofa di
sudut ruang kerjaku. Kami berjalan sambil terus
berciuman. Kubaringkan tubuhnya di sofa. Untuk
memastikan rasa aman, kukunci pintu ruang kerjaku,
dan kugantung gagang telepon sehingga kami tidak terganggu dengan dering telepon yang masuk. Paling
tidak, orang di luar pasti mengira aku masih on line. Setelah kurasakan aman, kami langsung mulai.
Sekarang kami bebas. Kami duduk di sofa. Tanganku
meraba paha Revo. Dan tangan Revo kurasakan di
pahaku juga. Sekarang tak usah berbicara lagi.
Sekarang tak usah memikirkan lagi apa yang
sebaiknya dilakukan. Semuanya sekarang dikendalikan emosi kami. Sambil saling meraba paha, kami saling
menatap dengan mata. Dan tiba-tiba bibir Revo
mendekati bibirku lagi. Seperti tadi di atas meja, lidah
kami saling mengulum. Saya jatuh ke belakang,
sekarang saya berbaring di sofa, kepalaku berada di
atas lengan kursi. Badan Revo di atas badanku. Lidahnya di dalam mulutku. Tanganku mulai meremas
pantatnya lagi. Sayang sekali, dia masih memakai
celana. Aku ingin sekali meremas pantatnya yang sekal. Tetapi sebelum aku mulai melepaskan pakaian Revo,
aku yang lebih dahulu ditelanjanginya. Dia membuka
dasi dan kemeja yang kupakai. Sekarang aku telanjang
dada. Revo ternyata terangsang melihatku begitu. Ia
meraih kepalaku dengan kedua tangannya, dan
menciumi setiap jengkal daging wajahku, aku menggeliat saat ia menjilat kuping dan tengkukku,
tangannya terus ke bawah dan mencoba meraba
batang kemaluanku. Nafasnya kuat sambil lidahnya
turun dari mulut lewat leher ke dadaku. Tiba-tiba
bibirnya sudah ada di puting susuku. “Wah… enak
sekali rasanya…” saya mulai merintih. “Oh… eh… oh yah… mhm… oh, Revooo…” Revo tidak berhenti. Dia terus menjilat putingku,
menggigit sedikit dilanjutkan dengan menjilat dadaku.
Akhirnya lidahnya turun ke bawah lagi. Dia membuka
celana panjang yang kupakai. Sekarang aku hanya
memakai celana dalam saja. Revo membukanya sedikit,
hanya sedikit. Bulu kemaluan di pangkal batang kemaluanku sudah kelihatan. Bulu kemaluan itu
dibasahinya dengan lidahnya. Wah, ternyata Revo tahu bagaimana caranya untuk
merangsang cowok. Selama ini saya kira dia masih naif,
paling tahu bagaimana main sendiri. Ternyata dia pintar
sekali. Umurnya baru 25, tetapi pengalamannya pasti
sudah banyak. Tetapi bagus juga kalau begitu, enak juga
menikmatinya. Aku merasa sebentar lagi dia akan
melepaskan celana dalamku. Pasti dia ingin melihat
batang kemaluanku yang sedang tegang. Oh, aku
hampir tak sabar lagi. Kapan dia akan membuka CD-ku?
Belum lagi! Sekarang lidahnya pindah ke pahaku, dijilatinya, dan… wah, lidahnya masuk ke bawah celana
dalam, biji kemaluanku dijilatinya juga. Kini lidahnya di buah pelirku. Enak sekali rasanya! Aku
merintih lagi, merenggangkan paha, dan mengangkat
pinggul. Sejak mulai main, kami belum berbicara lagi.
Tiba-tiba Revo mengangkat kepala. Aku mendengar
suaranya, “Mas, sekarang Revo ingin melihat lagi apa
yang tersembunyi di sini!” Dan sambil tersenyum, dia melepaskan celana dalamku. Sekarang aku bugil.
Telanjang bulat. Batang kemaluanku yang tegang dan
keras kelihatan. “Sekarang tak ada yang tersembunyi lagi”, kataku.
Revo tidak menjawab. Revo memang tidak bisa
menjawab. Beberapa detik setelah melihat kemaluanku,
dia mulai mengulumnya. Batang kemaluanku hingga
pangkalnya berada dalam mulutnya. Aku bergoyang
dengan pinggulku. Lidahnya terasa di kepala batang kemaluanku. Aku benar-benar menikmatinya. Sambil
mengulum batang kemaluan, Revo membelai biji
kemaluanku dengan jarinya. Dan karena aku
merenggangkan paha lagi, jarinya pelan-pelan ke
bawah lagi. Wah, sekarang jarinya di antara pahaku,
sekarang sudah di pantat. Pada saat itu aku merintih kuat, “Ooh… ehh… yaaah…
Revooo.” Karena aku merintih kuat, dikiranya aku
sudah menjelang orgasme. Dia berhenti mengulum
batang kemaluanku. Sekarang dia menjilatinya, mulai
dari kepala terus sampai pangkalnya terus sampai biji
kemaluan. Dan jarinya selalu berada di pantatku. Memang enak sekali dilayani begitu, tetapi aku ingin
bekerja juga. Aku mau melihat Revo dalam keadaan
telanjang bulat juga. Makanya aku duduk dan
membuka bajunya. Revo hanya tersenyum. Matanya menatapku. Wah,
kalau dipandang begitu, jantungku berdebar lebih
cepat lagi. Sebelum batang kemaluannya, aku ingin
menikmati putingnya, kemejanya kubuka kancing demi
kancing. Revo hanya diam melihat kemejanya
ditanggalkan, dia menurut saja. Dadanya yang putih dihiasi putingnya yang tegang berwarna coklat tua.
Putingnya kukocok, hingga makin keras. Sekarang Revo telanjang dada. Seksi benar badannya.
Aku langsung mulai menjilati dadanya. Sekarang aku
menjilati putingnya. Dan ternyata dia menikmatinya
juga. Makanya aku lama bermain di putingnya. Tetapi
aku ingin menjilati semua badannya, bukan hanya
dadanya saja. Makanya lidahku turun ke bawah lagi, ke perut. Sambil perutnya kujilati, tanganku membuka
celananya. Revo membantuku membukakan kancing
celananya dan memperlihatkan batang kemaluannya
setengah tegang di balik CD putihnya. Bau khas cowok
mulai tercium, membuatku tidak sabar untuk melihat
isinya. Celana panjangnya dijatuhkan ke lantai sekarang dia hanya memakai CD, pantatnya yang
gembul membulat tercetak oleh CD-nya. Sekarang Revo
hanya pakai celana dalam. Ada yang menonjol di dalam
celana ini. Tentu aku ingin melihatnya. Tetapi ada yang lain yang ingin kulihat lebih dulu.
Makanya kuminta Revo menelungkup. Baru sekarang
aku melepas celana dalamnya. Wah… bagus sekali
pantatnya. Aku sangat terangsang melihatnya. Tanganku langsung mulai meremas-remas. Revo
merintih nikmat sambil bergoyang-goyang dan sambil
merenggangkan kedua pahanya lebar-lebar biar semua
bisa kulihat biji kemaluannya, bulu-bulu di belakang
bijinya, lubangnya, semua kelihatan. Tanganku
meraba-raba pantatnya, jariku membelai buah kemaluannya dari belakang, dan lidahku sibuk juga di
bijinya dan di pantatnya sampai nafasnya makin lama
makin berat karena menahan nafsu. Sekarang Revo merintih seperti yang kulakukan tadi,
“Ooh, eeeh, Mas, teruus, mmh… enak… jangan
berhentiii… teruus!”
Ternyata dia paling suka merasakan lidahku di
pantatnya dan di lubang pantatnya. Tetapi aku mau
melayani bagian badannya yang lain juga. Kubalikkan badannya, batang kemaluannya tegang
dan keras. Bagus bentuknya, kepala batang kemaluan
yang besar dan merah, pangkalnya yang panjang, biji
kemaluannya, rambut kemaluan yang belum begitu
lebar. Kulit Revo memang halus dan bersih dan itu
yang aku sukai. Melihat semua itu, nafsuku tak bisa dikendalikan lagi.
Aku langsung mulai mengulum batang kemaluannya.
Pada saat batang kemaluannya masuk ke mulutku,
badannya gemetar. Kuputar lidahku mengelilingi kepala
batang kemaluannya. Kemudian aku berhenti di bagian
lubang maninya, dan kumainkan lidahku di lubang itu. Tak kusangka ternyata dia mengalami kenikmatan
yang belum pernah dia rasakan sebelumnya, sehingga
dia menggelinjang kenikmatan dan mengeluarkan
lenguhan yang tertahan. “Oooh… enak sekali… Mas,
teruus, kuatlah, ooooh…” batang kemaluannya
sampai pangkalnya di dalam mulutku. Sambil mengulum kemaluan, aku melihat perutnya yang
bergoyang, aku merasakan kedua kakinya di atas
pundakku. Supaya Revo tidak terlalu cepat mencapai puncak
nikmatnya, aku berhenti dulu. Sekarang aku menjilati
batang kemaluannya. Lidahku mulai di kepala batang
kemaluannya, turun ke bawah, ke biji pelirnya antara
pahanya. Kemudian ke atas lagi. Batang kemaluannya
kucium lagi pucuknya kemudian masuk ke mulutku, kuhisap dengan sekuat tenaga dia menggelinjang dan
melenguh dengan suaranya yang serak-serak basah.
“Oouuggghhh… sssttt… ssshh… aaakhhh…” Aku semakin bernafsu menghisapnya hingga basah.
Revo menggeliat-geliat kenikmatan. Revo terlihat
mengejang, tangannya meremas-remas rambutku.
Nampaknya dia akan mencapai klimaks. Dadanya turun
naik menahan nafsu yang memuncak, “Mas… aku
mau keluar…” Aku terus mengulum batang kemaluannya, 5 menit
berlalu sampai pertahanannya runtuh dan
menyemburkan mani. Semburan air maninya memancar
kuat beberapa kali. “Crot… crot… crot… crot…
crot…” Kutelan spermanya dengan beberapa kali
tegukan sambil terus menjilat batang kemaluannya hingga bersih. Setelah mereda, ia terdiam beberapa saat
menikmati sensasi itu. Kupeluk tubuhnya, namun tangannya segera meraih
batang kemaluanku, tubuhnya membungkuk dan
mulutnya diarahkan ke batang kemaluanku. Rupanya
ia ingin memuaskanku juga. Entah berapa lama dia
terus mengulum dan menjilat batang kemaluanku yang
sedari tadi tegang. Aku semakin hanyut dalam kenikmatan. Dibelainya batang kemaluanku dengan
lidahnya, dijilatinya. Aku senang sekali, kemudian dia
mengangkat panggulku, sehingga kakiku ke atas
membentuk huruf V, dimainkannya lidahnya di
selangkanganku. Dijilatinya batang kemaluanku,
anusku, tempat yang paling sensitif yang enak sekali kalau disentuh dengan lidah. “Akhh betapa
nikmatnya, aku senang sekali”. Mulutnya kembali ke batang kemaluanku, mungkin
karena ia begitu pandai memainkan lidahnya atau
karena ada sedikit rasa khawatir karena kami
melakukannya di kantor, tidak berapa lama kemudian
aku mulai merasakan desakan air maniku untuk segera
keluar. Kutahan suaraku agar tidak terdengar ke luar ruangan. Dan batang kemaluanku segera memancarkan
cairan kenikmatan yang sejak tadi kutahan untuk
keluar. Revo menjilati batang kemaluanku dan menelan
spermaku dengan lahapnya. Dia masih terus menjilati
batang kemaluanku hingga bersih. Aku kemudian bangkit dan membereskan pakaianku
yang sudah tercampak di lantai. Tidak banyak waktu
yang tersedia untuk menikmati sisa-sisa kenikmatan
karena sebentar lagi jam istirahat siang yang hanya
satu jam hampir habis. Revo juga mengikuti
tindakanku sambil sesekali dia memandang ke arahku sambil tersenyum. Sejak saat itu, aku dan Revo semakin akrab. Namun
kuingatkan dia agar bisa menjaga tindakannya di
kantor supaya tidak ada yang curiga. Ada perasaan
khawatir yang muncul mengingat dia adalah anak
boss-ku. Kalau boss-ku tahu, entah bagaimana kondite-
ku nanti pada saat penilaian hasil kerja. Namun perasaan itu segera terpupus setiap kali Revo datang.
Dia begitu manis untuk ditolak. Namun aku juga tidak
begitu bodoh untuk melakukannya di kantor lagi. Kami
cari tempat yang aman. Lagi pula, kupikir, toh boss-ku
8 bulan lagi akan pensiun. Berarti tidak lama lagi status
Revo bukan lagi anak boss-ku. Kupikir, pandanganku ini hanya untuk pembenaran tindakanku saja.

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: