Skip to content

ULAR DADAUNG

Juni 7, 2011

Konon, dahulu kala ada
sebuah kerajaan. Tidak
disebutkan oleh pencerita
apa nama kerajaan itu.
Menurut cerita, kerajaan
itu cukup besar. Negerinya
kaya raya sehingga
penghasilan rakyat
melimpah ruah. Rajanya
adil dan bijaksana.
Kekayaan kerajaan bukan
hanya dinikmati raja dan
keluarganya, tetapi rakyat
pun turut menikmati.
Pantaslah jika kerajaan itu
selalu dalam suasana
tenteram dan damai.
Dengan kerajaan-kerajaan
lain pun, tidak pernah
terjadi silang sengketa
sehingga mereka dapat
hidup berdampingan
secara damai.
Sayang, ketenteraman itu
tidak bertahan lama. Tidak
disangka-sangka musibah
datang menimpa mereka.
Mereka bukan diserang
musuh yang iri pada
kemakmuran dan
kerukunan kerajaan, tetapi
oleh burung raksasa yang
tiba-tiba muncul. Langit
menjadi gelap gulita
karena tubuh burung itu
amat besar. Kepak
sayapnya memekakkan
telinga.
Karena serbuan burung
raksasa itu demikian
mendadak, rakyat
kerajaan panik luar biasa.
Mereka bingung dan tidak
tahu akan berbuat apa
menghadapi suasana itu.
Mereka menyangka kiamat
sudah datang.
Dalam sekejap mata,
kerajaan itu musnah
binasa dengan segala
isinya. Bangunan rata
dengan tanah. Pohon-
pohon bertumbangan.
Rakyat dijemput maut
tertimpa pohon atau
terbenam dalam
reruntuhan rumah dan
gedung mereka.
Ibarat sebuah negeri kalah
perang, kerajaan yang
sebelumnya subur
makmur itu menjadi
sebuah lapangan terbuka.
Tiada tumbuhan, hewan,
dan manusia di sana,
kecuali raja bersama
permaisuri dan ketujuh
putrinya. Mereka bingung
dan takut, barangkali
datang serangan kedua.
Jika hal itu terjadi, tamatlah
riwayat mereka. Dengan
mudah burung raksasa itu
melihat mereka sebab
tidak selembar daun lalang
pun dapat dijadikan
tempat untuk berlindung.
Akan tetapi, mereka tetap
bersyukur kepada Tuhan
karena terhindar dari
malapetaka. Tuhan yang
Mahabesar masih
menginginkan kehadiran
mereka di dunia.
Dalam keadaan tidak
menentu itu mereka
dikagetkan lagi dengan
kejadian yang membuat
mereka semakin putus
asa. Entah dari mana
datangnya, tiba-tiba
seekor ular raksasa hadir
di depan mereka. Ular itu
mengangakan mulutnya
sehingga lidahnya yang
besar dan berbisa
bergerak-gerak keluar
masuk mulutnya. Raja
bersama permaisuri dan
ketujuh putri berkumpul
menjadi satu kelompok.
Mereka sating merangkul.
Raja berpikir, jika harus
mati, biarlah mereka mati
bersama menjadi mangsa
ular raksasa itu.

Paduka tak usah takut,”
tiba-tiba ular itu berkata.
“Hamba tidak akan
mengganggu Paduka,
permaisuri, dan putri-putri
Paduka, asalkan Paduka
mengabulkan
permohonan hamba.”
Rasa takut raja sekeluarga
berkurang mendengar
ular itu dapat berbicara
seperti manusia.
“Siapakah engkau? Apakah
keinginanmu?” tanya sang
raja.
“Nama hamba Dandaung.
Ular Dandaung,” ujar ular
raksasa itu. “Hamba ingin
memperistri salah seorang
putri Paduka.”
Tertegun sejenak sang
raja mendengar
permintaan Ular
Dandaung. Seekor ular
raksasa ingin memperistri
anaknya? Tidak masuk
akal ular menikah dengan
manusia. la tidak berani
menolak karena takut
akibatnya.
“Aku tidak menolak, tetapi
juga tidak menerima
lamaranmu,” sahut sang
raja. “Aku harus
menanyakan hal ini
kepada putriku satu per
satu!”
Seorang demi seorang
putrinya ditanya. Putri
sulung sampai dengan
putri keenam menolak
diperistri Ular Dandaung.
Sang raja sudah
membayangkan akibat
buruk yang akan mereka
terima andaikata putrinya
menolak.
“Hamba bersedia menjadi
istrinya,” kata putri
bungsu ketika ditanya
ayahandanya.
Tentu saja kakak-kakaknya
mengejek putri bungsu.
Berbagai cemooh mereka
lontarkan, tetapi putri
bungsu menerimanya
dengan tabah.
Pendiriannya tidak
tergoyahkan.
Pada suatu matam, putri
bungsu terbangun dari
tidur. Ia amat kaget karena
bukan Ular Dandaung
yang berbaring di sisinya
melainkan seorang
permuda tampan. Belum
habis rasa herannya,
pemuda itu berkata, “Aku
bukan orang lain, aku
suamimu si Ular
Dandaung. Aku seorang
raja yang Baru terbebas
dari kutukan.”
Raja dan permaisuri
terkejut melihat kejadian
itu. Akan tetapi, mereka
bangga mendapat
menantu yang sangat
tampan, apatagi is
seorang raja. Hanya
keenam putrinya tidak
habis-habisnya menyesaii
diri mereka.
Di kemudian hari terbukti
bahwa di samping
seorang raja yang
tampan, Ular Dandaung
juga seorang yang
mempunyai kehebatan.
Dengan kesaktiannya,
burung raksasa yang
menghancurkan kerajaan
mertuanya dapat
ditaklukkan dan dibunuh.
Ia juga menciptakan
sebuah kerajaan Baru,
lengkap dengan segala
peralatan dan rakyatnya.
Ketika mertuanya tidak
mampu memerintah lagi,
Ular Dandaung
menggantikannya dan
putri bungsu menjadi
permaisurinya

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: