Skip to content

TUJUH ANAK LELAKI DARI ACEH

Juni 7, 2011

Alkisah, di sebuah
kampung di daerah
Nanggro Aceh
Darussalam, ada
sepasang suami-istri yang
mempunyai tujuh orang
anak laki-laki yang masih
kecil. Anak yang paling tua
berumursepuluh tahun,
sedangkan yang paling
bungsu berumur dua
tahun. Untuk memenuhi
kebutuhan hidup mereka,
sepasang suami-istri itu
menanam sayur-sayuran
untuk dimakan sehari-hari
dan sisanya dijual ke
pasar. Meskipun serba
pas-pasan, kehidupan
mereka senantiasa rukun,
damai, dan tenteram.
Pada suatu waktu,
kampung mereka dilanda
musim kemarau yang
berkepanjangan. Semua
tumbuhan mati karena
kekeringan. Penduduk
kampung pun mulai
kekurangan makanan.
Persediaan makanan
mereka semakin hari
semakin menipis,
sementara musim
kemarau tak kunjung usai.
Akhirnya,seluruh
penduduk kampung
menderita kelaparan,
termasuk keluarga
sepasang suami-istri
bersama tujuh orang
anaknya itu.
Melihat keadaan tersebut,
sepasang suami-istri
tersebut menjadi panik.
Tanaman sayuran yang
selama ini menjadi
sumber penghidupan
mereka tidak lagi tumbuh.
Sementara mereka tidak
mempunyai pekerjaan lain
kecualimenanam sayur-
sayuran di kebun. Mereka
sudah berpikir keras
mencari jalan keluar dari
kesulitan tersebut, namun
tidak menemukan
jawabannya. Akhirnya,
mereka bersepakat
hendak membuang
ketujuh anak mereka ke
sebuah hutan yang
letaknya jauh dari
perkampungan.
Pada suatu malam, saat
ketujuh anaknya sedang
tertidur pulas, keduanya
bermusyawarah untuk
mencari cara membuang
ketujuh anak mereka.
“Bang! Bagaimana caranya
agar tidak ketahuan anak-
anak?” tanya sang Istri
bingung.
“Besok pagi anak-anak kita
ajak pergi mencari kayu
bakar ke sebuah hutan
yang letaknya cukup jauh.
Pada saat mereka
beristirahat makan siang,
kita berpura-pura mencari
air minum di sungai,”
jelas sang Suami.
“Baik, Bang!” sahut sang
Istri sepakat.
Tanpa mereka sadari,
rupanya anak ketiga
mereka yang pada waktu
itu belum tidur
mendengar semua
pembicaraan mereka.
Keesokan harinya,
sepasang suami-istri itu
mengajak ketujuh
putranya ke hutan untuk
mencari kayu bakar.
Sesampainya di hutan
yang terdekat, sang Ayah
berkata kepada mereka:
“Anak-anakku semua!
Sebaiknya kita cari hutan
yang luas dan banyak
pohonnya, supaya kita
bisa mendapatkan kayu
bakar yang lebih banyak
lagi,” ujar sang Ayah.
“Baik, Ayah!” jawab
ketujuh anak lelaki itu
serentak.
Setelah berjalan jauh,
sampailah mereka di
sebuah hutan yang amat
luas. Alangkah
gembiranya mereka,
karena di hutan itu
terdapat banyak kayu
bakar. Mereka pun segera
mengumpulkan kayu
bakar yang banyak
berserakan. Ketika hari
menjelang siang, sang Ibu
punmengajak ketujuh
anaknya untuk beristirahat
melepas lelah setelah
hampir setengah hari
bekerja.
Pada saat itulah, sepasang
suami istri itu hendak
mulai menjalankan
recananya ingin
meninggalkan ketujuh
anak mereka di tengah
hutan itu.
“Wahai anak-anakku!
Kalian semua
beristirahatlah di sini dulu.
Aku dan ibu kalian ingin
mencari sungai di sekitar
hutan ini, karena
persediaan air minum kita
sudah habis,” ujar sang
Ayah.
“Baik, Ayah!” jawab
ketujuh anak itu serentak.
“Jangan lama-lama ya,
Ayah… Ibu…!’” sahut si
Bungsu.
“Iya, Anakku!” jawab sang
Ibu lalu pergi mengikuti
suaminya.
Sementara itu, setelah
menunggu beberapa lama
dankedua orangtua
mereka belum juga
kembali, ketujuh anak itu
mulai gelisah. Mereka
cemas kalau-kalau kedua
orangtua mereka
mendapat musibah.
Akhirnya, si sulung pun
mengajak keenam
adiknya untuk pergi
menyusul kedua orangtua
mereka. Namun, sebelum
meninggalkan tempat itu,
anak ketiga tiba-tiba
angkat bicara.
“Abang! Tidak ada
gunanya kita menyusul
ayah dan ibu. Mereka
sudah pergi meninggalkan
kitasemua,” kata anak
ketiga.
“Apa maksudmu, Dik?”
tanya si Sulung.
“Tadi malam, saat kalian
sudah tertidur nyenyak,
aku mendengar
pembicaraan ayah dan
ibu. Mereka sengaja
meninggalkan kita di
tengah hutan ini, karena
mereka sudah tidak
sanggup lagi menghidupi
kita semua akibat kemarau
panjang,” jelas anak
ketiga.
“Kenapa hal ini baru kamu
ceritakan kepada kami?”
tanya anak kedua.
“Aku takut ayah dan ibu
murka kepadaku, Bang,”
jawab anak ketiga.
Akhirnya ketujuh anak itu
tidak jadi pergi menyusul
kedua orangtuanya,
apalagi hari sudah mulai
gelap. Mereka pun segera
mencari tempat
perlindungan dari udara
malam. Untungnya, tidak
jauh dari tempat mereka
berada, ada sebuah
pohon besar yang
batangnya berlubang
seperti gua. Mereka pun
beristirahat dan tidur di
dalam lubang kayu itu
hingga pagi hari.
“Bang! Apa yang harus
kita lakukan sekarang? Ke
mana kita harus pergi?”
tanya si anak kedua.
“Kalian tunggu di sini! Aku
akan memanjat sebuah
pohon yang tinggi.
Barangkali dari atas pohon
itu aku dapat melihat
kepulan asap. Jika ada, itu
pertanda bahwa di sana
ada perkampungan,” kata
si Sulung.
Ternyata benar, ketika
berada di atas pohon, si
Sulung melihat ada
kepulan asap dari
kejauhan. Ia pun segera
turun dari pohon dan
mengajak keenam
adiknya menuju ke arah
kepulan asap tersebut.
Setelah berjalan jauh,
akhirnya sampailah
mereka di sebuah
perkampungan. Alangkah
terkejutnya mereka ketika
melihat sebuah rumah
yang sangat besar berdiri
tegak di pinggir kampung.
“Hei lihatlah! Besar sekali
rumah itu,” seru anak
keempat.
“Waaahhh… jangan-
jangan itu rumah
raksasa,” sahut anak
keenam.
Baru saja kata-kata itu
terlepas dari mulutnya,
tiba-tiba terdengar suara
keras dari dalam rumah
itu meminta mereka
masuk ke dalam rumah.
Beberapa saat kemudian,
penghuni rumah itu pun
keluar. Rupanya, dia
adalah raksasa betina.
“Hei, anak manusia! Kalian
siapa?” tanya Raksasa
Betina itu.
“Kami tersesat, Tuan
Raksasa! Orang tua kami
meninggalkan kami di
tengah hutan,” jawab si
Sulung.
Mendengar keterangan itu,
tiba-tibasi Raksasa Betina
merasa iba kepada
mereka. Ia pun segera
mengajak mereka masuk
ke dalam rumahnya, lalu
menghidangkan makanan
dan minuman kepada
mereka. Oleh karena
sudah kelaparan, ketujuh
anak itu menyantap
makanan tersebut dengan
lahapnya.
“Habiskan cepat makanan
itu, lalu naik ke atas loteng!
Kalau tidak, kalian akan
dimakan oleh suamiku.
Tidak lama lagi ia datang
dari berburu,” ujar
Raksasa Betina.
Oleh karena takut dimakan
olehRaksasa Jantan,
mereka pun segera
menghabiskan
makanannya lalu
bergegas naik ke atas
loteng untuk
bersembunyi. Tidak lama
kemudian, Raksasa Jantan
pun pulang dari berburu.
Ketika membuka pintu
rumahnya, tiba-tiba ia
mencium bau makanan
enak.
“Waaahhh… sedapnya!”
ucap raksasa jantan
sambil menghirup bau
sedap itu.
“Bu! Sepertinya ada
makanan enak di rumah
ini. Aku mencium bau
manusia. Di mana kamu
simpan mereka?” tanya
Raksasa Jantan kepada
istrinya.
“Aku menyimpan mereka
di atas loteng. Tapi
mereka masih kecil-kecil.
Biarlah kita tunggu mereka
sampai agak besar supaya
enakdimakan,” jawab
Raksasa Betina.
Si Raksasa Jantan pun
menuruti perkataan
istrinya. Selamatlah
ketujuh anak itu dari
ancaman Raksasa Jantan.
Keesokan harinya, ketika si
RaksasaJantan kembali
berburu binatang ke
hutan, si Raksasa Betina
pun segera menyuruh
ketujuh anak lelaki itu
pergi. Namun, sebelum
mereka pergi, ia
membekali mereka
makanan seperlunya
selama dalam perjalanan.
Bahkan, si Raksasa Betina
yang baik itu membekali
mereka dengan emas dan
intan.
“Bawalah emas dan intan
ini, semoga bermanfaat
untuk masa depan kalian,”
kata Raksasa Betina.
“Terima kasih, Raksasa
Jantan! Tuan memang
raksasa yang baik hati,”
ucap si Sulung seraya
berpamitan.
Setelah berjalan jauh
menyusuri hutan lebat,
menaiki dan menuruni
gunung, akhirnya tibalah
mereka di tepi pantai.
Mereka pun segera
membuat perahu kecil lalu
berlayar mengarungi
lautan luas. Setelah
beberapa lama berlayar,
tibalah mereka di sebuah
negeri yang diperintah
oleh seorang raja yang
adil dan bijaksana. Di
negeri itu mereka menjual
semua emas dan intan
pemberian raksasa kepada
seorangsaudagar kaya.
Hasil penjualan tersebut,
mereka gunakan untuk
membeli tanah
perkebunan. Masing-
masing mendapat tanah
perkebunan yang cukup
luas. Ketujuh bersaudara
itu sangat rajin bekerja
dan senantiasa saling
membantu.
Beberapa tahun
kemudian, mereka pun
telah dewasa. Berkat kerja
keras selama bertahun-
tahun, akhirnya mereka
memiliki harta kekayaan
yang banyak. Kemudian
masing-masing dari
mereka membuat rumah
yang cukup bagus.
Ketujuh lelaki itu pun
hidup damai, tenteram
dan sejahtera.
Pada suatu hari, si Bungsu
tiba-tibateringat dan
merindukan kedua
orangtuanya. Ia pun
segera mengundang
keenam kakaknya datang
ke rumahnya untuk
bersama-sama pergi
mencari kedua orangtua
mereka.
“Maafkan aku, Kakakku
semua! Aku mengundang
kalian ke sini, karena ingin
mengajak kalian untuk
pergi mencari ayah dan
ibu. Aku sangat
merindukan mereka, dan
aku yakin, mereka pasti
masih hidup,” ungkap si
Bungsu kepada saudara-
saudaranya.
“Iya, Adikku! Kami juga
merasakannya seperti itu.
Kami sangat rindu kepada
ayah dan ibu yang telah
melahirkan kita semua,”
tambah anak keenam.
“Baiklah kalau begitu!
Besok pagi kita bersama-
sama pergi mencari
mereka. Apakah kalian
setuju?” tanya si Sulung.
“Setuju!” jawab keenam
adiknya serentak.
Keesokan harinya,
berangkatlah ketujuh
orang bersaudara itu
mencari kedua orangtua
mereka. Setelah berlayar
mengarungi lautan luas,
tibalah mereka di sebuah
pulau. Di pulau itu,
mereka berjalan dari satu
kampung ke kampung
lain. Sudah puluhan
kampung mereka datangi,
namun belum juga
menemukannya. Hingga
pada suatu hari, mereka
pun menemukan kedua
orangtua mereka di
sebuah kampung dalam
keadaan menderita.
Ketujuh orang bersaudara
itu sangat sedih melihat
kondisi kedua orangtua
mereka. Akhirnya, mereka
membawaorangtua
mereka ke tempat tinggal
mereka untuk hidup dan
tinggal bersama di rumah
yang bagus.
Sejak itu, kedua orangtua
itu berkumpul kembali
dan hidup bersama
dengan ketujuh orang
anaknya. Mereka
senantiasa menyibukkan
diri beribadah kepada
Tuhan Yang Mahakuasa.
Segala keperluannya
sudah dipenuhi oleh
ketujuh orang anaknya
yang sudah cukup kaya.

4 Komentar leave one →
  1. Fikri Share permalink
    Juni 14, 2011 6:24 am

    panjang juga y ceritanya.. kl mau buat rate this itu buka aja menu rating (di atas menu tampilan) tinggal cek lis aja yang ada di situnya.

    • Juni 16, 2011 7:34 am

      iya…nanti aQ coba…..btw kLau bwt tombol Like di facebook gi mna?

  2. Juli 5, 2011 5:19 am

    lebih bagus lagi tambahin gambar animasi gan…..

    • Juli 6, 2011 10:22 am

      makasih gan…ats saranx..lain kali aQ coba..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: