Skip to content

cerita bunga untuk mama

Juni 7, 2011

Pada suatu pagi, seorang
pengusaha muda dengan
tergesa-gesa berangkat ke
kantor. Karena tidak
sempat sarapan, ia
singgah ke sebuah toko
roti untuk membeli roti.
Saat memilih roti, ia
melihat seorang anak kecil
yang usianya kurang lebih
10 tahun. Anak tersebut
ingin membeli bunga,
tetapi uangnya tidak
cukup untuk membeli
bunga yang dipilihnya.
Melihat ekspresi sedih dari
anak kecil itu, ia pun
bertanya, “Untuk siapa
bunga itu nak?” Si anak
kecil itu pun menjawab,
“Saya mau membelikan
bunga itu untuk mama,
karena hari ini mama
berulang tahun.”
Si pengusaha tersentak,
“Oh ya, aku hampir lupa;
hari ini istriku juga
berulang tahun. Kalau
sampai aku lupa
membelikan hadiah, ia
pasti marah.”
Si pengusaha pun segera
membeli seikat bunga dan
meminta agar diantar ke
rumahnya. Ia juga
memberi uang kepada si
anak kecil, agar si anak
kecil itu dapat membeli
bunga untuk ulang tahun
mamanya. Si anak sangat
senang dan ia sangat
berterima kasih pada
pengusaha tersebut.
Si pengusaha segera
bergegas melanjutkan
perjalanannya ke kantor.
Saat mengendarai mobil,
ia melewati anak kecil tadi
dan terheran karena anak
itu menuju ke
pemakaman umum yang
sering ia lewati saat ia
menuju kantornya. Ia pun
menghentikan mobilnya
dan mengikuti anak kecil
tersebut.
Ternyata anak itu menuju
ke satu makam yang
masih baru. Si pengusaha
bertanya, “Nak, ini makam
siapa?” Si anak menjawab,
“Ini makam mama saya,
Om. Hari ini mama
berulang tahun, tetapi
sayang, mama meninggal
dunia dua hari yang lalu.
Saya datang ke makam ini
untuk membawakan
mama bunga serta
mengucapkan selamat
ulang tahun.” Dengan
meneteskan air mata si
anak melanjutkan, “Saya
tinggal bersama paman.
Papa telah pergi bersama
wanita lain setahun yang
lalu, pergi meninggalkan
mama dan saya. Mama
tidak punya siapa pun
selain saya. Tidak ada
yang mempedulikan
mama dan tidak ada yang
ingat hari ulang tahun
mama.”
Si pengusaha tersentak, ia
teringat akan istrinya.
Dengan segera ia kembali
ke toko bunga dan
mengantar bunganya
sendiri ke rumah.
Setibanya di rumah, ia
berlari mendapatkan
istrinya. Ia mencium dan
memeluk istrinya, serta
berkata, “Sayang, selamat
ulang tahun.” Sambil
meneteskan air mata haru
ia berkata lagi, “TUHAN
terima kasih, karena
Engkau masih memberi
kami waktu dalam suatu
keluarga utuh.

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: