Skip to content

cerita teror kuntilanak muka rata

Juni 6, 2011

Begitu banyak cerita
misteri yang mengisahkan
makhluk yang satu ini.
Hantu bernama kuntilanak
ini digambarkan sebagai
sosok wanita berwajah
pucat dengan rambut
panjang serta memakai
gaun putih.
Pada umumnya, makhluk
ini sering menakuti para
korbannya ditempat yang
sepi dari keramaian.
Namun kali ini yang Misteri
ceritakan agak berbeda.
Kuntilanak muncul di
tengah keramaian orang
banyak yang sendang
mengaji serta tahlilan.
Malam itu sekitar pukul
21.00 WIB. Di Utan Kayu
Selatan, Jakarta Timur,
nampak sekumpulan
orang yang sedang
mengaji Yasin serta tahlil
di sebuah rumah.
Rupanya ada salah
seorang penduduk yang
meninggal dunia. Hadirian
yang lebih tua berada di
ruangan dalam,
sementara para pemudaa
duduk di depan rumah
dan sebagian memenuhi
bahu pinggir jalan.
Mereka bersama-sama
melantunkan surat Yasin,
serta mendoakan agar
yang meninggal dunia
dapat diampuni dari
kesalahan dan dosa
semasa hidup di dunia.
Di tengah khusyuknya
para pemuda membaca
Yasin, tiba-tiba kepala
mereka seperti ada yang
melempari dengan pasir.
“Aduh…siapa nih yang
iseng melempar pasir,
kurang kerjaan kali ya!”
cetus Dedi, pemuda
setempat.
Pemuda yang lain pun
merasa kesal karena
merasa dipermainkan.
Apalagi suasana kala itu
sedang dalam keadaan
duka.
Belum hilang rasa kesal
mereka, tiba-tiba
terdengar suara wanita
tertawa,“Hi…hi…hi…
hiiiii…!”
Secara serempak para
pemuda mendongakan
kepala ke atas, dan mereka
semua tercengang
sekaligus merinding tatkala
mereka melihat sesosok
wanita berwajah rata
dengan rambut panjang
bergelayutan di pohon
nangka.
Makhluk tersebut tertawa
seakan hendak menakuti
para pemuda yang ada di
bawahnya. Hasilnya, para
pemuda tersebut sebagian
memang ketakutan,
bahkan ada yang lari.
Para peserta tahlil yang
sudah Bapak-bapak, yang
berada di dalam
berhamburan keluar
mendengar suara gaduh.
Mereka menanyakan ada
apa ribut-ribut. Belum
selesai mereka bertanya,
mereka langsung terkejut
ketika melihat
penampakan kuntilanak di
atas pohon nangka.
Mereka baru sadar
makhluk itulah yang
mengganggu acara
tahlilan. Di antara mereka
ada yang pemberani dan
berkata,“Hai kuntilanak
jahaman, enyah kau dari
sini pergi sana jauh-jauh!”
Namun kata-kata itu malah
dibalas dengan tawanya
yang khas,
Semua merasa bingung
dan resah karena makhluk
itu tak mau pergi bahkan
dia makin menjadi-jadi
dengan bergelayutan dan
melompat antara satu
pohon ke pohon lainnya.
Sekali-kali juga dia
melempar pasir dan
mengenai orang-orang
yang ada di bawahnya.
Melihat situasi yang tak
menguntungkan tersebut,
Dedi berinisiatif
memanggil Ustadz Husin
yang lokasi rumahnya
hanya sekitar 300 meter
dari rumah tersebut, dan
kebetulan tidak ikut tahlil
malam itu karena kurang
enak badan.
Ustadz Husin memang
dikenal masyarakat
setempat sebagai orang
sholeh dan mempunyai
kemampuan khusus.
Beruntung, tak lama sang
Ustadz datang. Setiba
dilokasi kejadian, Ustadz
memandangi makhluk
yang masih bergelayutan
di atas pohon nangka itu.
Dengan nada membujuk
Ustadz Husin berkata,
“Saya mohon pergilah dari
sini jangan ganggu kami,
kami dalam keadaan
berduka.”
Namun kuntilanak itu tak
menggubris. Malah dia
melempari dengan pasir
sembari tertawa.
Merasa diremehkan,
Ustadz Husin kembali
berkata, “Baiklah kalau itu
maumu, aku akan
mengusirmu secara
paksa!”
Ustadz Husin pun nampak
merapal ayat-ayat
tertentu, kemudian kedua
telapak tangannya
dipadukan, lalu didorong
ke arah kuntilanak.
Kuntilanak yang mendapat
serangan itu tak mampu
mengelak. Dia terjungkal,
namun secara cepat dia
melayang ke atas pucuk
pohon. Dia diam sejenak
seperti menatap penuh
dendam kepada Ustadz
Husin, kemudian tertawa
lepas dan melayang pergi
meninggalkan orang-
orang yang
memandangnya.
Semua orang bersyukur
makhluk tersebut telah
pergi dan mereka pun
berterima kasih kepada
Ustadz Husin. Acara
tahlilan pun kembali
dilanjutkan.
Pagi harinya masyarakat
heboh dengan kejadian
tersebut. Kejadian itu
menjadi pembicaraan bagi
kalangan masyarakat,
terutama bagi ibu-ibu.
Seperti yang dikatakan ibu
Supri,“Rasanya makhluk
tersebut bukan
sembarang kuntilanak,
buktinya wajanya rata. Ini
kan beda dengan
kuntilanak pada
umumnya!”
“Ratunya kuntilanak kali,
kok nekad datang di
tempat orang pada ngaji!”
balas ibu yang lainnya.
Ustadz Husin
membenarkan makhluk
tersebut memang bukan
kuntilanak biasa. Dia
adalah seperti pimpinan
kuntilanak di daerah itu.
Maksud tujuan
penampakannya hanya
sekedar menakut-nakuti
orang yang sedang
mengaji.

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: