Skip to content

cerita perlombaan perahu naga

Juni 6, 2011

Duanwu Jie (Hanzi: 端午節)
atau yang dikenal dengan
sebutan festival Peh Cun di
kalangan Tionghoa-
Indonesia adalah salah
satu festival penting dalam
kebudayaan dan sejarah
Cina. Peh Cun adalah
dialek Hokkian untuk kata
pachuan (Hanzi:扒船,
bahasa Indonesia:
mendayung perahu).
Walaupun perlombaan
perahu naga bukan lagi
praktek umum di kalangan
Tionghoa-Indonesia,
namun istilah Peh Cun
tetap digunakan untuk
menyebut festival ini.
Festival ini dirayakan setiap
tahunnya pada tanggal 5
bulan 5 penanggalan
Imlek dan telah berumur
lebih 2300 tahun dihitung
dari masa Dinasti Zhou.
Perayaan festival ini yang
biasa kita ketahui adalah
makan bakcang (Hanzi:肉
粽, hanyu pinyin: rouzong)
dan perlombaan dayung
perahu naga. Karena
dirayakan secara luas di
seluruh Cina, maka dalam
bentuk kegiatan dalam
perayaannya juga berbeda
di satu daerah dengan
daerah lainnya. Namun
persamaannya masih
lebih besar daripada
perbedaannya dalam
perayaan tersebut.
Perayaan perahu naga
selalu menjadi simbol
dalam semangat dan
kebudayaan bangsa
Tionghoa. Merupakan
salah satu dari perayaan
besar bangsa Tionghoa
yang diadakan setiap
tahun, dan saat ini bisa
disaksikan dari seluruh
penjuru dunia.
Berpartisipasi dalam
perayaan perahu naga,
baik sebagai peserta
ataupun penonton,
merupakan sesuatu yang
menyenangkan dan dapat
dinikmati oleh setiap
orang.
Anda dapat menyaksikan
perahu-perahu yang
beraneka warna, dengan
dihiasi kepala naga, ekor
naga dan lukisan
sepanjang badan perahu.
Anda dapat menyaksikan
para peserta yang
berusaha sekuat tenaga
untuk menjadi yang
pertama sampai pada
garis akhir. Penonton
yang berteriak dan
memberi semangat bagi
perahu pilihan mereka,
sementara itu pemukul
gendang memukul
gendangnya dan berteriak
untuk memberikan
semangat dan
menyelaraskan irama
dayung bagi setiap peserta
dalam perahunya.
Perayaan ini jangan
diharapkan sebagai suatu
perayaan yang tenang,
namun sebuah perayaan
yang ceria dan
menyenangkan, sebuah
pesta besar.
Untuk mengetahui asal
usul dari perayaan perahu
naga ini banyak yang tidak
atau kurang
mengetahuinya. Bahkan
banyak orang hanya
mengatakan asal usulnya
adalah“pada jaman
dahulu kala”.
Asal Usul
Dari catatan sejarah dan
cerita turun temurun
dalam masyarakat Cina,
asal usul festival ini dapat
dirangkum menjadi
beberapa kisah:
Bermula Dari Tradisi Suku
Kuno Yue di Cina Selatan
Perayaan sejenis Peh Cun
ini juga telah dirayakan
oleh suku Yue di selatan
Cina pada zaman Dinasti
Qin dan Dinasti Han.
Perayaan yang mereka
lakukan adalah satu bentuk
peringatan dan
penghormatan kepada
nenek moyang mereka.
Kemudian setelah
terasimilasi secara budaya
dengan suku Han yang
mayoritas, perayaan ini
kemudian berubah dan
berkembang menjadi
perayaan Peh Cun yang
sekarang kita kenal. Para
penganut kepercayaan
yang ada mempercayai
bahwa pertandingan
perahu dapat membawa
kemakmuran dan
kesuburan tanaman.
Perayaan mengambil
waktu pada saat musim
panas, waktu di mana
banyak terjadi bencana
dan kematian, dan dimana
manusia merasa tidak
berdaya atas kekuasaan
alam. Pertandingan itu
menjadi simbol atas
perlawanan manusia
menghadapi alam dan
pertarungannya melawan
musuh-musuh.
Peringatan atas Qu Yuan
Zhongzi
Kisah Qu Yuan
menjadikan Perayaan
Perahu Naga sebagai
bagian yang tidak
terpisahkan dari kehidupan
bangsa Tionghoa. Abad
ke-empat sebelum masehi
dikenal sebagai“masa
berbahaya” bagi Tiongkok.
Pada saat itu terjadi
peperangan besar antara
tokoh-tokoh kuat dan
pemerintah yang banyak
dilanda korupsi. Banyak
kerajaan-kerajaan akhirnya
menghilang, kecuali
kerajaan Chu, yang
merupakan salah satu dari
kerajaan terkuat pada saat
itu.
Qu Yuan dilahirkan pada
340 BC dan merupakan
salah satu anggota
keluarga dari tiga keluarga
terhormat pada Kerajaan
Chu. Qu Yuan adalah
seorang penasehat bagi
Raja Huai yang
memerintah dari 328 BC
sampai 299 BC.
Karena kepandaian dan
kejujuran dari Qu Yuan,
banyak pejabat korup
yang iri dan ingin
menyingkirkan Qu Yuan.
Persekutuan antara Chu
dan Qin yang telah terjalin
lama putus ketika Qin
mengumumkan perang
terhadap Chu dan
mengambil alih sebagian
wilayah Chu. Di tengah
masa pertempuran
tersebut, Qin mengajukan
usul gencatan senjata
kepada Chu dan
menginginkan
diadakannya pertemuan
membahas perdamaian.
Qu Yuan menasehati agar
Raja Huai tidak bersedia
datang ke Qin untuk
berunding. Namun
bujukan dari para pejabat
korup lebih berpengaruh
di pikiran Raja Huai
sehingga dia bersedia
datang. Raja Huai
langsung ditangkap pada
saat tiba dan meninggal
setelah tiga tahun dalam
penjara.
Anak tertua Raja Huai, Qin
Xiang menjadi raja.
Sedangkan anak lainnya,
Zi Lian, menjadi perdana
menteri. Saat kedua orang
itu berkuasa, Qu Yuan
langsung disingkirkan dan
diusir dari istana.
Dalam pengasingannya
Qu Yuan banyak
mengabdikan hidup
kepada rakyat dan
membantu rakyat,
sehingga rakyat sangat
cinta dan hormat terhadap
Qu Yuan.
Pada 278 BC tentara Qin
menguasai Ying, Ibukota
Kerajaan Chu. Berita ini
membuat Qu Yuan sangat
berduka. Qu Yuan sangat
menyesali dirinya sendiri
bahwa tidak satu hal juga
yang dapat dilakukan demi
menyelamatkan Kerajaan
Chu. Rasa sedih dan putus
asa yang mendalam
menyebabkan Qu Yuan
memutuskan bunuh diri
dengan menceburkan diri
di Sungai Miluo.
Mengetahui bahwa Qu
Yuan bunuh diri, ramai
orang berusaha mencari
jenasah Qu Yuan. Mereka
memukul-mukul
genderang untuk
mengusir ikan-ikan agar
tidak mengganggu
jenasah Qu Yuan.
Pencarian yang dilakukan
tidak memberikan hasil.
Pada keesokan harinya,
mereka membungkus
nasi dengan daun dan
melemparkan ke sungai
agar ikan-ikan yang ada
menjadi kenyang dan
tidak mengusik jenasah
Qu Yuan.
Demi mengenang Qu
Yuan, kebiasaan yang
dilakukan ini menjadi
sebuah perayaan besar
bagi bangsa Tiongkok dan
dikenal sebagai Perayaan
Perahu Naga.
Peringatan atas Cao-E
Berdasarkan legenda, pada
suatu tahun di hari ke lima
bulan ke lima Imlek
selama masa
pemerintahan Kaisar An Di
dari Dinasti Han Timur,
terdapat seorang pria
bernama Cao Ding yang
sedang menikmati suara
ombak.
Suara ombak sungai bagi
Cao Ding jauh lebih indah
dibandingkan suara
dedaunan tertiup angin,
juga dibandingkan
kemeriahan laskar tentara
yang sedang menikmati
kemenangan.
Ditengah keasyikannya,
secara tiba-tiba Cao Ding
tersapu ombak dan
menghilang.
Anak Cao Ding, Cao-E,
hanya dapat menemukan
kipas sang ayah. Cao-E
sangat sedih menyadari
bahwa sang ayah telah
meninggalkan dirinya.
Kesedihan semakin
bertambah demi
menyadari bahwa dirinya
tidak dapat menemukan
jasad sang ayah.
Para nelayan memberikan
nasehat agar Cao-E pulang
dan beristirahat, dan jasad
sang ayah kemungkinan
besar akan muncul ke
permukaan setelah dua
hari.
Tetapi tekad Cao-E sudah
bulat untuk terus
menunggu jasad sang
ayah. Penantian selama
tujuh hari dan tujuh
malam tanpa hasil. Di
tengah rasa putus asa dan
penyesalan yang sangat
mendalam, Cao-E
menceburkan diri ke
dalam sungai.
Tiga hari kemudian, jasad
Cao-E dan sang ayah
ditemukan pada saat dan
tempat yang sama.
Apa yang dilakukan Cao-E
membuat rakyat sekitar
sangat terharu. Oleh
sebab itu, pada setiap hari
ke lima bulan ke lima
Imlek, pada Perayaan
Perahu Naga, mereka
mendayung perahu naga
yang membawa patung
Cao-E demi mengenang
pengorbanan yang
dilakukan Cao-E.
Kegiatan dan Tradisi
Perayaan perahu naga
dirayakan pada saat“lima
dari lima”, yaitu hari ke-
lima dari bulan ke-lima
penanggalan Cina. Merah
mendominasi warna dari
perahu yang bertanding,
karena merah adalah
warna dari angka lima dan
merupakan simbol dari
panas, musim panas, dan
api. Panjang dari perahu
naga antara 30 sampai 100
kaki, dan cukup lebar
untuk menampung dua
orang secara sejajar.
Beberapa ritual asli masih
dilakukan sampai saat ini,
seperti“membangunkan
sang naga” dengan
memberikan tanda titik
pada kepala naga disetiap
perahu. Perayaan ini
dilakukan untuk
memberikan berkah
kepada daerah sekitar,
para perahu yang
bertanding, dan para
pesertanya. Juga
memberikan para perahu
dan pesertanya kekuatan
dari sang Naga dan berkah
dari Dewi Laut.
Sekalipun demikian,
banyak yang sudah
berubah dalam perayaan
itu. Seperti para penonton
tidak lagi melemparkan
batu kepada perahu
saingannya, dan tidak lagi
menenggelamkan satu
orang, yang mengejutkan
adalah pengorbanan itu
dahulu dianggap sebagai
pengorbanan terhadap
dewa dan sebagai tanda
keberuntungan.
Perayaan perahu naga
saat ini lebih banyak
berfungsi sebagai hiburan.
Tidak lagi diperuntukkan
bagi mengusir kejahatan
dan mendatangkan tahun
yang baik, tetapi bagi
memberikan sedikit
hiburan dan pendidikan
kepada rakyat tentang
sejarah dan kebudayaan
bangsa Tionghoa.
Sekarang tidak lagi seperti
dahulu, yang mana sangat
ketahyulan, namun tetap
terdapat kegembiraan
dalam perayaan tersebut.
* Lomba Perahu Naga :
Tradisi perlombaan
perahu naga ini telah ada
sejak Zaman Negara-
negara Berperang.
Perlombaan ini masih ada
sampai sekarang dan
diselenggarakan setiap
tahunnya baik di Cina
Daratan, Hong Kong,
Taiwan maupun di
Amerika Serikat. Bahkan
ada perlombaan berskala
internasional yang dihadiri
oleh peserta-peserta dari
manca negara,
kebanyakan berasal dari
Eropa ataupun Amerika
Utara. Perahu naga ini
biasanya didayung secara
beregu sesuai panjang
perahu tersebut.
* Makan Bakcang : Tradisi
makan bakcang secara
resmi dijadikan sebagai
salah satu kegiatan dalam
festival Peh Cun sejak
Dinasti Jin. Sebelumnya,
walaupun bakcang telah
populer di Cina, namun
belum menjadi makanan
simbolik festival ini. Bentuk
bakcang sebenarnya juga
bermacam-macam dan
yang kita lihat sekarang
hanya salah satu dari
banyak bentuk dan jenis
bakcang tadi. Di Taiwan, di
zaman Dinasti Ming akhir,
bentuk bakcang yang
dibawa oleh pendatang
dari Fujian adalah bulat
gepeng, agak lain dengan
bentuk prisma segitiga
yang kita lihat sekarang. Isi
bakcang juga bermacam-
macam dan bukan hanya
daging. Ada yang isinya
sayur-sayuran, ada pula
yang dibuat kecil-kecil
namun tanpa isi yang
kemudian dimakan
bersama serikaya, gula
manis.
* Menggantungkan
Rumput Ai dan Changpu :
Peh Cun yang jatuh pada
musim panas biasanya
dianggap sebagai bulan-
bulan yang banyak
penyakitnya, sehingga
rumah-rumah biasanya
melakukan pembersihan,
lalu menggantungkan
rumput Ai (Hanzi:艾草) dan
changpu (Hanzi: 菖埔) di
depan rumah untuk
mengusir dan mencegah
datangnya penyakit. Jadi,
festival ini juga erat
kaitannya dengan tradisi
menjaga kesehatan di
dalam masyarakat
Tionghoa.
* Mandi Tengah Hari :
Tradisi ini cuma ada di
kalangan masyarakat yang
berasal dari Fujian
(Hokkian, Hokchiu, Hakka),
Guangdong (Teochiu,
Kengchiu, Hakka) dan
Taiwan. Mereka
mengambil dan
menyimpan air pada
tengah hari festival Peh
Cun ini, dipercaya dapat
digunakan untuk
menyembuhkan penyakit
bila dengan mandi
ataupun diminum setelah
dimasak.
* Dan masih banyak
kegiatan dan tradisi lainnya
yang berbeda-beda di
masing-masing propinsi
di Cina. Suku Manchu,
Korea, Miao, Mongol juga
merayakan festival ini
dengan tradisi mereka
masing-masing.

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: