Skip to content

cerita nisan berlumuran darah

Juni 6, 2011

Mashor adalah pemuda
yang bertempat tinggal di
desa yang sekarang
sekitar Pekauman dan
Teluk Selong. Mashor
berasal dari keluarga yang
miskin, tetapi mempunyai
pendidikan yang tinggi
dan budi akhlaknya tinggi.
Dia mempunyai keahlian
membaca Al-Quran yang
sangat indah didengar.
Mashor sebagai orang
yang tidak mampu ikut
bekerja di rumah Fatimah
sebagai pembantu.
Fatimah merupakan gadis
dari keluarga sangat kaya.
Mereka tinggal di
seberang desa Mashor,
mungkin sekarang daerah
Kampung Melayu. Orang
tuanya merupakan
pedagang yang
mempunyai hubungan
dagang keluar daerah.
Terutama daerah
Singapura.
Mashor sebagai pembantu
mempunyai banyak
pekerjaan yang harus
dilakukannya seperti
menimba air, memotong
kayu, dan lain-lain. Hari
demi hari, bulan demi
bulan itu saja yang
dilakukannya untuk
membiayai hidup dan
orang tuanya. Selama
beberapa tahun Mashor
bekerja dirumah kaya itu
membuat Fatimah secara
tidak sadar jatuh cinta
kepadanya begitu juga
sebaliknya. Tetapi karena
adat yang menjaga ketat
pertemuan antara
perawan dengan
bujangan membuat
hubungan mereka tidak
diketahui oleh keluarga.
Mashor sadar percintaan
mereka pasti akan
ditentang oleh keluarga
Fatimah yang memegang
adat keluarga. Mereka
hanya akan menikahkan
anak gadisnya hanya
dengan orang yang
sederajat dan mempunyai
hubungan keluarga
bangsawan dan pasti
tentu harus pilihan
keluarga.
Tetapi Cinta di hati tidak
bisa menolaknya. Tidak
lama kemudian hubungan
mereka mulai diketahui
orang tua Fatimah. Betapa
marahnya orang tua
Fatimah mengetahui hal
itu. Mereka memutuskan
untuk menjauhkan
Mashor dari Fatimah
dengan menugaskan
Mashor menjaga kebun
karet dan ladang keluarga
Fatimah di seberang
sungai.
Kebun karet ini berada
jauh dari rumah Fatimah,
menujunya hanya bisa
dengan perahu“jukung”
karena melewati sungai
yang kecil. Mashor
diberikan pondok kecil
untuk berteduh dan
melakukan kegiatan
sehari-hari. Setiap hari dia
bekerja merawat kebun
karet tersebut. Setiap hasil
karet hanya orang
suruhan keluarga Fatimah
saja yang mengambilnya.
Dia tidak diberikan
kesempatan untuk ke
rumah sang Majikan.
Fatimah mengetahui kabar
Mashor hanya dengan
meminta keterangan acil
ijah, pembantu yang
sering mengatarkan beras
buat Mashor.
Suatu hari ada orang kaya
bernama Muhdar yang
masih ada hubungan
keluarga dengan Fatimah
badatang (melamar) ke
rumah Fatimah dengan
menggunakan satu buah
kapal yang sangat besar
sesuai dengan derajat
kekayaan orang tersebut.
Niat Muhdar disambut baik
oleh keluarga Fatimah,
mereka sepakat untuk
mengadakan perkawinan
besar-besaran. Hal ini
tidak menjadi beban bagi
Muhdar karena
kakayaannya.
Fatimah sangat
menentang niat orang
tuanya yang
menjodohkannya dengan
Muhdar. Dia kenal betul
perangai Muhdar.
Walaupun kaya tetapi dia
tidak mempunyai budi
pekerti dan ilmu agama
sebaik Mashor. Tetapi dia
harus menjalankan dua
pilihan yang sangat berat.
Di satu sisi dia
mempunyai pilihan dan
cinta yang diyakininya
membawa kebahagian di
dunia dan di akhirat yaitu
hidup bersama Mashor. Di
satu sisi dia harus
mengikuti perintah orang
tuanya, dia sadar
menyakiti hati orang tua
adalah perbuatan yang
durhaka. Akhirnya
Fatimah pasrah terhadap
perjodohan ini.
Perjodohan yang dilandasi
oleh harta, hubungan
keluarga bukan oleh Cinta.
Mashor yang berada jauh
tidak mengetahui
perjodohan ini.
Semuanya yang datang
ke gubuk Mashor bekerja
selalu menutupinya.
Mereka tidak ingin dipecat
majikan jika menceritakan
hal tersebut.
Akhirnya acara pernikahan
dimulai, Muhdar datang
dengan beberapa kapal
besar yang membawa
mas kawin atau jujuran.
Ada kapal yang
membawa isi kamar
lengkap, ada kapal yang
membawa perhiasan
emas dan batu permata,
ada kapal yang membawa
pakaian wanita yang
sangat indah-indah. Bagi
mereka semua itu hal
biasa, karena bisnis
dagang keluarga ini ke
Singapura berupa batu
permata dan kain. Mereka
mempunyai banyak
pelanggan di Singapura.
Pada jaman tersebut
sungai Martapura
digunakan sebagai jalur
perdagangan. Kapal-kapal
besar pedagang Martapura
sering berangkat
membawa barang
dagangan ke Pulau Jawa
dan Sumatera hingga
Singapura dan Malaysia.
Sesuai dengan jalur
perdagangan dunia antara
Malaysia dan pulau
Sumatera.
Pada malam harinya ketika
semua kelelahan. Muhdar
dan Fatimah tidur di
kamar penganten. Belum
sempat malam pertama
itu terjadi ternyata rumah
Fatimah terbakar akibat api
dapur lupa dimatikan.
Muhdar lari keluar dengan
segera tanpa
memperdulikan Fatimah.
Api semakin membesar
Fatimah terjebak di
dalamnya.
Mashor yang belum tidur
melihat dari kejauhan
warna merah di langit
yang menadakan
kebakaran. Dia yakin
kebakaran itu berada di
rumah Fatimah. Tanpa
peduli aturan majikannya
yang tidak
memperbolehkannya
mendekati rumah dia
langsung berlari
mengambil jukung.
Setelah sampai di rumah
Fatimah dia diberitahu
bahwa Fatimah terjebak di
dalamnya.
Dengan kekuatan
Cintanya dia terobos api
dan menemukan Fatimah
pingsan karena terlalu
banyak menghirup asap.
Dia angkat Fatimah
melewati api yang besar.
Dengan badannya dia
melindungi Fatimah dari
api dan kayu rumah yang
berjatuhan. Setelah dia
bawa keluar Mashor
disambut Muhdar dengan
merebut Fatimah dari
pangkuan Mashor.
Dengan demikian Mashor
akhirnya mengetahui
perkawinan tersebut.
Belum sempat dia
mendapatkan penjelasan,
Mashor pingsan karena
terlalu banyak luka bakar
yang dialaminya.
Keluarga Fatimah
memerintahkan agar
Mashor dirawat kembali di
gubuknya tempatnya
bekerja. Dan
menginginkan agar
peristiwa heroic ini jangan
sampai diketahui Fatimah.
Subuh harinya mashor
tidak bisa bertahan. Dia
meninggal karena luka
yang terlalu parah. Setelah
sholat dzuhur dia
dimakamkan di daerah
perkebunan karet tersebut.
Atau tepatnya sekarang
berada di desa
Tungkaran. Makam
Mashor sederhana dengan
nisan ulin. Untuk
mencegah babi hutan
kuburannya juga dipagar
bambu.
Semuanya berada di
pemakaman, baik teman-
teman Mashor maupun
keluarga Fatiamah. Tetapi
Fatimah tidak mengetahui
kematian ini. Dia masih
lemah di kamar rumah
Muhdar. Dia masih
bertanya di dalam hati
bagaimana dia bisa
selamat, suaminya sendiri
meninggalkannya saat
kebakaran itu terjadi.
Sewaktu malam hari
pertanyaan itu
dikeluarkannya pada Acil
Ijah yang sejak kecil
merawatnya. Acil Ijah
tahu betul perasaan
Fatimah kepada Mashor.
Karena tidak dapat
mendustai tuannya yang
sejak kecil dia pelihara
tersebut akhirnya dia
ceritakan peristiwa
kebakaran itu.
Fatimah yang sangat rindu
Mashor akhirnya
menanyakan keberadaan
Mashor. Dengan sangat
hati-hati Acil Ijah
menceritakan kematian
Mashor dan
memberitahukan letak
kuburannya. Dia berjanji
menemani Fatimah besok
untuk ziarah ke kuburan
Mashor.
Fatimah Sangat terpukul
hatinya mengetahui
pemuda yang melindungi
dan dicintainya telah tiada.
Menangislah Fatimah
sejadinya. Setelah semua
orang terlelap tidur, jam
3subuh tanpa
sepengetahuan yang lain
Fatimah keluar rumah.
Dia tidak dapat
menyimpan perasaan
rindu dan dukanya.
Tanpa menunggu siang
dia bertekad harus
menemukan ke kuburan
Mashor. Dia tidak yakin
kekasihnya sudah
meninggal jika tidak
menemukan kuburannya
langsung. Dia seberangi
sungai Martapura dan
berjalan menyisir jalan
setapak. Dia masih ingat
letak kebun karet
keluarganya ketika
ayahnya pernah
mengajak sewaktu kecil.
Malam itu hari hujan
dengan deras tetapi tidak
menyurutkan hati
Fatimah, di dalam hatinya
hanya ada satu nama
Mashor. Di pikirannya
hanya ada satu wajah
Mashor, pemuda yang
sangat mengerti dirinya.
Setelah tiba di kebun karet
keluarganya, Fatimah
tanpa sadar dan mungkin
karena ilusi yang muncul
karena obsesinya
bertemu Mashor, dia
melihat Mashor berdiri
tersenyum kepadanya di
tengah rintikan hujan.
Tanpa berpikir panjang
Fatimah berlari ingin
memeluk tubuh
kekasihnya melepaskan
segala kerinduannya.
Fatimah menabrak tubuh
lelaki itu hingga terjatuh
tanpa disadari pagar yang
terbuat dari bambu yang
melindungi kuburan
Mashor menusuk tubuh
Fatimah tepat di dadanya.
Darah mengucur dan
menetes di atas kubur
Mashor dan melumuri
nisannya. Fatimah
meninggal dengan
senyum dia yakin
menemukan cintanya.

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: