Skip to content

CERITA MASA KERAJAAN SRIWIJAYA

Juni 6, 2011

Banyak orang menduga
bahwa awal masuknya
agama Buddha ke
Indonesia adalah pada
kedatangan Aji Saka ke
tanah Jawa pada awal
abad kesatu. Dugaan ini
berawal dari etimologis
terhadap Aji Saka itu
sendiri, serta hal-hal yang
berkaitan dengannya. Kata
‘Aji’ dalam bahasa Kawi
bisa berarti ilmu yang ada
hubungannya dengan
kitab suci, sedangkan
‘Saka’ ditafsirkan sebagai
kata Sakya yang
mengalami transformasi.
Dengan demikian
mungkin kata Aji Saka
ditafsirkan sebagai gelar
raja Tritustha yang ahli
mengenai kitab suci
Sakya, dalam hal ini ahli
tentang Buddha Dhamma,
selain dianggap sebagai
orang yang bertanggung
jawab terhadap
pembuatan aksara Jawa.
Bila hal ini benar, tarikh
Saka yang permulaanya
dinyatakan sebagai ‘Nir
Wuk Tanpa Jalu’ (Nir
berarti kosong (0), Wuk
berarti tidak jadi (0), Tanpa
berarti 0 dan Jalu sama
dengan 1) yang sekaligus
dimaksudkan untuk
mengabadikan pendaratan
pertama beliau di Jepara.
Sumber pengetahuan kita
tentang Agama Buddha
diambil dari prasasti yang
ditemukan dan dari berita-
berita luar negri, yaitu dari
orang China yang
mengunjungi Indonesia.
Prasasti yang berasal dari
abad kelima hingga
ketujuh tidak terlalu
banyak memberikan
informasi. Prasasti itu
berasal dari Kalimantan,
Sumatra dan Jawa. Dari
prasasti itu kita hanya
mengetahui bahwa pada
waktu itu ada raja-raja
yang memiliki nama yang
berbau India, seperti
Mulawarman di Kutei dan
Purnawarman di Jawa-
barat. Tetapi hal itu tidak
berarti bahwa raja
tersebut berasal dari India.
Yang paling mungkin
adalah raja-raja tersebut
adalah orang Indonesia
asli yang sudah masuk
agama yang datang dari
India. Selanjutnya prasasti
tersebut menunjukan
bahwa agama yang
dipeluk adalah agama
Hindu. tapi dari penemuan
patung-patung Buddha,
dapat disimpulkan bahwa
agama Buddha juga
sudah ada, walaupun
jumlahnya masih sedikit.
Informasi paling tua
tentang keberadaan
Agama Buddha di Jawa
dan Sumatra didapat dari
pengelana China bernama
Fah-Hien, yang
sekembalinya dari Ceylon
ke China pada tahun 414
terpaksa mendarat di negri
yang bernama Ye-Po-Ti
karena kapalnya rusak.
Sekarang tidak terlalu jelas
apakah Ye-Po-Ti itu Jawa
atau Sumatra. Beberapa
ahli mengatakan bahwa
Ye-Po-Ti adalah Jawa
(Javadvipa). Fah-Hien
menyebutkan ada umat
Buddha di Ye-Po-Ti,
walaupun cuma sedikit.
Sekalipun demikian
agaknya sesudah abad
kelima keadaan berubah.
Tidak sampai tiga ratus
tahun kemudian, pada
akhir abad ketujuh, Biksu
China I-tsing mencatat
dengan lengkap agama
Buddha dan aplikasinya di
India dan Melayu.
Ketertarikan utamanya
adalah pada ‘rumah
agama Buddha’ India utara
dimana I-tsing tinggal dan
belajar disana selama lebih
dari sepuluh tahun. Dari
catatannya dapat dikatakan
bahwa agama Buddha di
India dan Sumatra
mempunyai banyak
kesamaan, dimana I-tsing
juga menemukan
perbedaan antara agama
Buddha di China dan di
India.
I-tsing menghabiskan
waktunya hidup sendirian
sebagai Biksu di India dan
Sumatra. Seluruh
bukunya merupakan
catatan lengkap tentang
kehidupan biarawan. Ia
tinggal di India seluruhnya
berdasarkan peraturan
vinnaya.
Bila dibandingkan catatan
Fah-Hien tahun 414
dengan catatan I-tsing,
dapat diambil kesimpulan
bahwa agama Buddha
dipulau Jawa dan Sumatra
telah dibangun dengan
sangat cepat. Pekerjaan I-
tsing selain menulis
catatan seperti
dikemukakan diatas, ia
juga menulis buku tentang
perjalanan seorang guru
agama terkenal yang pergi
ke negri disebelah barat
(Sriwijaya ?).
Diceritakannya pada
catatannya itu, kehidupan
biarawan yang pada
intinya hampir sama
dengan yang ada di India.
Dalam bukunya dikatakan
bahwa Biksu asli Jawa dan
Sumatra adalah sarjana
sanskrit yang sangat
bagus. Salah saatunya
adalah Jnanabhadra yang
merupakan orang Jawa
Asli yang tinggal di
Sumatra dan bertindak
sebagai guru bagi biksu
China dan membantu
menterjemahkan sutra
kedalam bahasa China.
Bahasa yang digunakan
oleh biksu Buddha adalah
bahasa sanskrit. Bahasa
pali tidak digunakan.
Bagaimanapun hal ini tidak
boleh dijadikan patokan
bahwa agama Buddha
yang berkembang disini
adalah Mahayana. I-tsing
menjelaskan dalam
bukunya
Agama Buddha dipeluk
diseluruh negri ini dan
kebanyakan sistem yang
diadopsi adalah Hinayana,
kecuali di Melayu dimana
ada sedikit yang
mengadopsi Mahayana
Sudah banyak diketahui
umum bahwa literatur
agama Buddha berbahasa
sanskrit tidak melulu
berarti Mahayana.
Inilah bentuk agama
Buddha yang mencapai
kepulauan di laut selatan.
I-tsing mengatakan di
kepulauan di laut selatan,
Mulasarvastivadanikayo
hampir secara universal di
adaptasi. I-tsing
tampaknya tidak
mempermasalahkan
perbedaan antara
penganut Hinayana dan
Mahayana. Dikatakannya :
Mereka yang menyembah
Bodhisatta dan membaca
sutra mahayana disebut
penganut Mahayana.
Sementara yang tidak
disebut penganut
Hinayana. Kedua sistem ini
sesuai dengan ajaran
Dhamma. Dapatkah kita
katakan mana yang benar?
Keduanya mengajarkan
kebajikan dan
membimbing kita ke
Nirvana. Keduanya
menuju kepada
pemusnahan nafsu dan
penyelamatan semua
mahluk hidup. Kita tidak
boleh mempersoalkan
perbedaan ini. membuat
keraguan yang malah
akan membuat
kebingungan.
Dari karya-karyanya dapat
dikatakan bahwa I-tsing
tidaklah terlalu dalam
bergelut dalam masalah
filosofi buddhis tetapi
hanya tertarik pada
kehidupan biarawan dan
tugas-tugas yang
diemban oleh mereka.
Dengan kata lain, ia
memberikan seluruh
waktunya untuk belajar
vinnaya dan kehidupan
biarawan.
Seperti dikemukakan
diatas, di Sumatra dan
Jawa lebih berkembang
Hinayana. I-tsing
menceritakan bahwa di
Melayu, ditengah-tengah
pesisir timur Sumatra ada
pula yang menganut
Mahayana. Dari sumber
lain dijelaskan bahwa
sebelum kedatangan I-
tsing, telah datang biksu
dari India Dharmapala, ke
Melayu dan menyebarkan
aliran Mahayana. Awal
abad ke-20, dua prasasti
ditemukan di dekat
Palembang yang bercorak
Mahayana. Prasasti lain
yang dibuat tahun 775,
ditemukan di Viengsa,
semenanjung Melayu
mengemukakan bahwa
salah satu raja Sriwijaya
dari keturunan Syailendra
– yang tidak cuma
memerintah di selatan
Sumatra tapi juga dibagian
selatan semenanjung
Melayu – memerintahkan
pembangunan tiga stupa.
Ketiga stupa tersebut
dipersembahkan kepada
Buddha, Bodhisatwa
Avalokitesvara dan
Vajrapani. Dan ditempat
lain ditemukan plat emas
yang bertuliskan beberapa
nama Dyani Buddha ;
yang jelas-jelas
merupakan aliran
Mahayana.
Dari berita I-tsing itu
selanjutnya kita dapat
mengambil kesimpulan
bahwa pada waktu itu
Sriwijaya menjadi pusat
agama Buddha. Disana
terdapat sebuah
perguruan tinggi Buddha
yang tidak kalah dengan
perguruan yang ada di
Nalanda India. Ada lebih
dari 1000 biksu yang
ajaran serta tata
upacaranya sama dengan
yang ada di India. Kecuali
pengikut Hinayana, di
Sriwijaya juga terdapat
pengikut Mahayana.
Bahkan ada guru
Mahayana yang mengajar
disitu. Dari berita ini jelas
bahwa Sriwijaya adalah
pusat agama Buddha
Mahayana, yang terbuka
bagi gagasan baru dan
yang juga senang
mengadakan pekerjaan
ilmiah. Oleh karena itu
musafir China yang ingin
belajar di India pasti
singgah di Sriwijaya untuk
mengadakan persiapan.
Hal itu juga dilakukan oleh
I-tsing sendiri.
Agaknya kemudian
Mahayanalah yang
berkembang dan
berpengaruh besar. Hal ini
terbukti dari beberapa
prasasti yang didapat
disekitar Palembang yang
menyebutkan bahwa
daputa hyang – barangkali
perdana menteri –
berusaha mencari berkat
dan kekuatan gaib guna
meneguhkan kerajaan
Sriwijaya, agar segala
mahluk dapat
menikmatinya. Dari
ungkapan yang
digunakan, dapat diambil
kesimpulan bahwa
upacara ini adalah upacara
indonesia kuno yang
sesuai dengan ajaran
Mahayana. Dari berita-
berita yang lain jelaslah
bahwa Mahayanalah yang
berkuasa pada masa itu.
Bahkan bukan cuma itu
saja, mungkin pengaruh
tantra, yang di India
mempengaruhi agama
Buddha sejak pertengahan
abad ketujuh, juga
terdapat di Sriwijaya. Hal
ini didapat dari uraian
bahwa salah satu tingkat
untuk mendapatkan
hikmah tertinggi adalah
wajrasarira, tubuh baja
(intan) yang mengingatkan
kepada ajaran wajrayana.
Semua ini menunjukan
bahwa pada tahap
permulaan masih ada
hubungan yang erat
antara Indonesia dan
India

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: