Skip to content

CERITA MALIN KUNDANG

Juni 6, 2011

Pada suatu waktu,
hiduplah sebuah keluarga
nelayan di pesisir pantai
wilayah Sumatra.
Keluarga tersebut terdiri
dari ayah, ibu dan
seorang anak laki-laki
yang diberi nama Malin
Kundang. Karena kondisi
keuangan keluarga yang
memprihatinkan, sang
ayah memutuskan untuk
mencari nafkah di negeri
seberang dengan
mengarungi lautan yang
luas. Maka tinggallah si
Malin dan ibunya di gubug
mereka.Seminggu, dua
minggu, sebulan, dua
bulan bahkan sudah 1
tahun lebih lamanya, ayah
Malin tidak juga kembali ke
kampunghalamannya.
Sehingga ibunya harus
menggantikan posisi ayah
Malin untuk mencari
nafkah.
Malin termasuk anak yang
cerdas tetapi sedikit nakal.
Ia sering mengejar ayam
dan memukulnya dengan
sapu. Suatu hari ketika
Malin sedang mengejar
ayam, ia tersandung batu
dan lengan kanannya luka
terkena batu. Luka
tersebut menjadi berbekas
dilengannya dan tidakbisa
hilang.
Setelah beranjak dewasa,
Malin Kundang merasa
kasihan dengan ibunya
yang banting tulang
mencari nafkah untuk
membesarkan dirinya. Ia
berpikir untuk mencari
nafkah di negeri seberang
dengan harapan nantinya
ketika kembali ke
kampung halaman, ia
sudah menjadi seorang
yang kaya raya. Malin
tertarik dengan ajakan
seorang nakhoda kapal
dagang yang dulunya
miskin sekarang sudah
menjadi seorang yang
kaya raya. Malin kundang
mengutarakan
maksudnya kepada
ibunya.
Ibunya semula kurang
setuju dengan maksud
Malin Kundang, tetapi
karena Malin terus
mendesak, Ibu Malin
Kundang akhirnya
menyetujuinya walau
dengan berat hati. Setelah
mempersiapkan bekal dan
perlengkapan
secukupnya,Malin segera
menuju ke dermaga
dengan diantar oleh
ibunya. “Anakku, jika
engkau sudah berhasil
dan menjadi orang yang
berkecukupan, jangan kau
lupa dengan ibumu dan
kampung halamannu ini,
nak”, ujar Ibu Malin
Kundang sambil berlinang
air mata. Kapal yang
dinaiki Malin semakin lama
semakin jauh dengan
diiringi lambaian tangan
Ibu Malin Kundang.
Selama berada di kapal,
Malin Kundang banyak
belajar tentang ilmu
pelayaran pada anak buah
kapal yang sudah
berpengalaman. Di tengah
perjalanan, tibatiba kapal
yang dinaiki Malin
Kundang di serang oleh
bajak laut. Semua barang
dagangan para pedagang
yang berada di kapal
dirampas oleh bajak laut.
Bahkan sebagian besar
awak kapal dan orang
yang berada di kapal
tersebut dibunuh oleh
para bajak laut.
Malin Kundang sangat
beruntung dirinya tidak
dibunuh oleh para bajak
laut, karena ketika
peristiwa itu terjadi, Malin
segera bersembunyi di
sebuah ruang kecil yang
tertutup oleh kayu. Malin
Kundang terkatung-
katung ditengah laut,
hingga akhirnya kapal
yang ditumpanginya
terdampar di sebuah
pantai. Dengan sisa tenaga
yangada, Malin Kundang
berjalan menuju ke desa
yang terdekat dari pantai.
Sesampainya di desa
tersebut, Malin Kundang
ditolong oleh masyarakat
di desa tersebut setelah
sebelumnya menceritakan
kejadian yang
menimpanya. Desa
tempat Malin terdampar
adalah desa yang sangat
subur. Dengan keuletan
dan kegigihannya dalam
bekerja, Malin lama
kelamaan berhasil menjadi
seorangyang kaya raya.
Ia memiliki banyak kapal
dagang dengan anak buah
yang jumlahnyalebih dari
100 orang.
Setelah
menjadi
kaya
raya,
Malin
Kundang
mempersunting
seorang
gadis
untuk menjadi istrinya.
Berita Malin Kundang yang
telahmenjadi kaya raya
dan telah menikah sampai
juga kepada ibu Malin
Kundang. Ibu Malin
Kundang merasa
bersyukur dan sangat
gembira anaknya telah
berhasil. Sejak saat itu, ibu
Malin Kundang setiap hari
pergi ke dermaga,
menantikan anaknya yang
mungkin pulang ke
kampung halamannya.
Setelah beberapa lama
menikah, Malin dan
istrinya melakukan
pelayaran dengan kapal
yang besar dan indah
disertai anak buah kapal
serta pengawalnya yang
banyak.
Ibu Malin Kundang yang
setiap hari menunggui
anaknya, melihat kapal
yang sangat indah itu,
masuk ke pelabuhan. Ia
melihat ada dua orang
yang sedang berdiri di
atas geladak kapal. Ia
yakin kalau yang sedang
berdiri itu adalah anaknya
Malin Kundang beserta
istrinya. Malin Kundang
pun turun dari kapal. Ia
disambut oleh ibunya.
Setelah cukup dekat,
ibunya melihat belas luka
dilengan kanan orang
tersebut, semakin yakinlah
ibunyabahwa yang ia
dekati adalah Malin
Kundang. “Malin Kundang,
anakku,mengapa kau
pergi begitu lama tanpa
mengirimkan kabar?”,
katanya sambil memeluk
Malin Kundang. Tapi apa
yang terjadi kemudian?
Malin Kundang segera
melepaskan pelukan
ibunya dan
mendorongnya hingga
terjatuh. “Wanita tak tahu
diri, sembarangan saja
mengaku sebagai ibuku”,
kata Malin Kundang pada
ibunya. Malin Kundang
pura-pura tidak mengenali
ibunya,karena malu
dengan ibunya yang
sudah tua dan
mengenakan baju
compang-camping.
“Wanitaitu ibumu?”,
Tanya istri Malin Kundang.
“Tidak, ia hanya seorang
pengemis yang pura-pura
mengaku sebagai ibuku
agar mendapatkan harta
ku”, sahut Malin kepada
istrinya.
Mendengar pern

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: