Skip to content

cerita legenda jaka tole

Juni 6, 2011

Tersebutlah seorang anak
Madura bernama Jaka
Tole. Karena kesaktiannya,
ia berhasil menegakkan
pintu gerbang Keraton
Majapahit.
Agaknya nama Jaka Tole
mempunyai nilai tersendiri
di hati Raja Majapahit. Oleh
karena itu, jika ada hal–
hal yang sulit diatasi, Jaka
Tole disuruh
mengatasinya. Jika ada
pemberontakan yang
bertujuan mengurangi
kekuasaan Majapahit, Jaka
Tole diperintahkan Raja
memimpin pasukan untuk
memadamkan
pemberontakan itu.
Jaka Tole ternyata
seorang prajurit yang
tangkas dan cekatan
dalam memimpin
pasukan. Setiap
pemberontakan terhadap
Majapahit selalu berhasil ia
padamkan dengan tidak
terlalu banyak memakan
korban. Tidak aneh kalau
Raja sangat sayang
kepadanya. Ia sering
mendapat hadiah dari
Raja.
Karena Raja sangat
sayang kepada Jaka Tole,
ada beberapa orang iri hati
kepadanya. Mereka yang
merasa tidak senang itu
menyebarkan fitnah
bahwa kesetiaan Jaka Tole
kepada Raja hanya
setengah– setengah. Jaka
Tole berjuang bukan
untuk kejayaan Majapahit,
tetapi sekadar
mendapatkan hadiah dari
Paduka Raja.
Fitnah itu akhirnya sampai
ke telinga Raja. Raja
sebenarnya ragu akan
kebenaran berita itu. Raja
pun memutuskan untuk
menguji kesetiaan Jaka
Tole.
“Jaka Tole akan
kunikahkan dengan
putriku yang buta,” kata
Raja dalam hati, “kalau ia
menolak, pertanda ia tidak
taat kepadaku. Berarti
berita bahwa ia tidak setia
kepadaku itu memang
benar. Tetapi, apabila ia
mau menikah dengan
Dewi Ratnadi, putriku
yang buta, berarti berita
yang dilaporkan orang
kepadaku hanya fitnah
belaka.”
Raja pun memanggil Jaka
Tole. Setelah Jaka Tole
menghadap, Raja mulai
berbicara,“ Jaka Tole, aku
mempunyai seorang
putrid bernama Dewi
Ratnadi. Maukah engkau
seandainya ia kujodohkan
denganmu?”
“Saya siap dijodohkan
dengan putri Paduka,”
jawab Jaka Tole dengan
suara tegas.
“Tetapi, apakah engkau
tidak menyesal di
kemudian hari?” Tanya
Raja
“Mengapa saya akan
menyesal?” Tanya Jaka
Tole
“Ketahuilah,” kata Raja
menjelaskan, “putriku ini
buta. Apakah engkau tetap
bersedia mengawininya?”
“Saya tetap bersedia,”
jawab Jaka Tole dengan
suara mantap.
Raja tersenyum gembira
mendengar jawaban Jaka
Tole yang meyakinkan itu.
Beberapa hari kemudian,
pesta pernikahan Jaka Tole
dan Dewi Ratnadi
dirayakan di pusat
kerajaan Majapahit. Ada
bermacam– macam
komentar atas pernikahan
itu. Orang– orang yang
tidak senang kepada Jaka
Tole menganggap
pengantin yang sedang
bersanding merupakan
lelucon yang tidak lucu.
Mengapa? Karena
mempelai pria gagah
seperti Arjuna, sedangkan
mempelai wanita buta.
Pihak yang senang kepada
Jaka Tole merasa tidak
puas karena Jaka Tole
yang besar jasanya
kepada Negara Majapahit
dinikahkan dengan putri
yang buta. Menurut
mereka, Jaka Tole
sepantasnya dijodohkan
dengan putri raja yang
paling cantik.
Setelah upacara dan
pesta pernikahan itu
selesai, Jaka Tole dan
istrinya minta izin kepada
Raja untuk pulang ke
Sumenep. Raja
mengizinkan meraka.
Para pegawai keraton pun
menyiapkan tandu untuk
mengantar Dewi Ratnadi
ke Sumenep, tetapi Jaka
Tole menolak untuk
diantar.“Selagi badan saya
masih kuat untuk
menggendong Dewi
Ratnadi, izinkanlah kami
pulang berdua saja.”
Sambil menggendong
istrinya, Jaka Tole
berangkat ke arah timur
meninggalkan pusat
pemerintahan yang indah
permai. Meskipun Dewi
Ratnadi buta, Jaka Tole
tetap menunjukkan rasa
sayang kepada istrinya itu.
Dalam perjalanan, ia selalu
mencarikan buah–
buahan yang disukai Dewi
Ratnadi. Putri tidak
menyangka Jaka Tole akan
mencintainya sedemikian
rupa.
Setelah sampai di
pelabuhan Gresik, Jaka
Tole dan istrinya
beristirahat beberapa hari
di Bandar yang ramai
disinggahi perahu–
perahu dari berbagai
negeri. Kemudian, mereka
menyeberang laut menuju
ujung Barat Pulau Madura.
Setelah naik ke darat, Dewi
Ratnadi ingin mandi. Jaka
Toloe bingung karena di
sekitar tempat itu tidak ada
sumur atau sungai. Lalu,
ia mengambil tongkat
Dewi Ratnadi dan
menancapkannya ke
tanah. Setelah tongkat itu
dicabut, keluarlah air yang
memancar dari dalam
tanah langsung
menyemprot wajah Dewi
Ratnadi.
“Kanda Jaka Tole,” teriak
Dewi Ratnadi dengan
gembira,“aneh sekali,
mata saya sekarang bisa
melihat.”
“Benarkah itu, Dewi?”
tanya Jaka Tole setengah
tidak percaya.
“Betul,” jawab Dewi
Ratnadi, “untuk apa saya
berdusta. Coba lihatlah
kedua mata saya. Saya
sekarang sudah bisa
memandang wajah
Kanda.”
Jaka Tole pun
memperhatikan mata
istrinya. Tampak mata
Dewi Ratnadi sudah
terbuka dengan biji mata
seindah bintang kejora.
Hati Jaka Tole sangat
gembira.
Setelah puas mandi, Dewi
Ratnadi pun berganti
pakaian. Kini, ia bisa
memilih sendiri
pakaiannya karena kedua
belah matanya dapat
melihat dengan
sempurna.
Air yang keluar dari
dalam tanah itu akhirnya
menjadi sumber air yang
sangat jernih. Tempat itu
sampai sekarang disebut
Soca, artinya mata.
Mungkin karena di tempat
itu mata Dewi Ratnadi
yang buta dapat melihat.
Dalam perjalanan
selanjutnya, Dewi Ratnadi
tidak perlu digendong.
Selain sudah bisa melihat,
badannya terasa sehat
sekali. Mereka terus
berjalan ke arah timur.
Berhati – hari lamanya
mereka berjalan melewati
dataran rendah yang luas
dan naik turun perbukitan.
Mereka tidak susah
mencari makanan karena
daerah yang mereka lalui
itu banyak terdapat buah.
Ketika tiba di sebuah
tempat, Dewi Ratnadi ingin
mandi. Jaka Tole pun
menancapkan tongkatnya
ke tanah. Keluarlah air
yang sangat deras.
Setelah selesai mandi,
Dewi Ratnadi terkejut
karena pakaian dalamnya
dihanyutkan air yang
sangat deras alirannya. Ia
segera memberi tahu
suaminya. Tanpa pikir
panjang, Jaka Tole pun
memanggil air yang
menghanyutkan pakaian
dalam istrinya. Air yang
jauh mengalir itu pun
membelok dan mendekat
ke arah Jaka Tole. Setelah
pakaian itu tiba di
dekatnya, Jaka Tole cepat
memungut dan
mengembalikannya
kepada Dewi Ratnadi.
Sumber besar yang
terletak di sebelah timur
laut kota Sampang itu
sampai sekarang disebut
Omben. Kata omben
berasal dari bahasa
Madura, amben, yang
berarti pakaian dalam
wanita.
Perjalanan Jaka Tole dan
Dewi Ratnadi pun
diteruskan menuju ke
timur. Setelah sampai di
Sumenep, Jaka Tole
disambut gembira oleh
ayah bundanya serta
masyarakat Sumenep.
Apalagi Jaka Tole
membawa pulang istri
yang cantik rupawan.
Kakak Jaka Tole dari
puhak ibu bernama
Pangeran Saccadiningrat
adalah seorang Raja yang
memerintah negeri
Sumenep.
Pemerintahannya di
bawah kekuasaan
Majapahit. Setelah
Saccadiningrat memasuki
usia tua, Jaka Tole pun
dinobatkan sebagai adipati
yang memerintah wilayah
Sumenep. Di bawak
kepemimpinan Jaka Tole,
masyarakat Sumenep
benar– benar merasakan
kemakmuran dan
keadilan.
Kesimpulan
Cerita ini termasuk legenda
karena mengisahkan asal
usul nama sebuah tempat.
Legenda ini memberi
pelajaran agar orang yang
ingin hidup mulia harus
tahan menderita. Manusia
yang bermental baja dan
tahan menderita dalam
mencapai cita– cita
dengan tetap menghargai
hak dan kepentingan
orang lain, niscaya akan
cepat mencapai cita– cita
itu.

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: