Skip to content

cerita kuntilanak ingin menarik kemaluanku

Juni 6, 2011

Kuntilanak yang akan aku
ceritakan ini sering muncul
dan menampakan dirinya
di atas pohon Beringin.
Konon, pohon itu
memang merupakan
tempat tinggal si
Kuntilanak. Peristiwanya
memang sudah lama
terjadi. Waktu aku masih
remaja dan belum
menikah. Ketika itu saya
masih tinggal dengan
orang tua angkat yang
kebetulan menjabat
sebagai kepala sekolah
SDN 92 Mentok,
Bangka. Jadi, kami tinggal
di rumah dinas dekat
sekolah dimaksud.
Kebetulan juga, SDN 92
Mentok termasuk
sekolahan paling tua di
kota ini. Ketika itu saya
termasuk remaja yang
bandel. Salah satunya
saya sering keluar malam
bersama teman-teman
dengan menggunakan
sepeda. Kami sering pergi
menonton pertunjukkan
musik dan layar tancap.
Walau pun tempat
pertunjukkan itu jauh,
bukan halangan bagi kami
untuk mendatanginya.
Saya pun sering pulang
sampai larut malam,
bahkan hingga menjelang
pagi. Pokoknya, saya
jarang tidur di rumah.
Hingga pada suatu
malam, malam Jum’at
Kliwon. Malam itu saya
merasa sangat suntuk,
sebab semua lamran
pekerjaan yang saya
kirimkan tidak ada satu
pun kabar
pemanggilannya. Tiba-tiba
datanglah serombongan
teman-teman mengajakku
menonton pertunjukan
film di gedung serba guna
di kawasan tempat
pengolahan biji timah,
atau yang biasa disebut
Peltim. Aku pun segera
berangkat. Singkat cerita,
usai pertunjukan, karena
hari sudah larut malam
jadi kami memutuskan
langsung pulang. Saat
mau membukan kunci
pengaman sepeda
ternyata kuncinya macet.
Karena lama
membukanya saya pun
ditinggal. Jadi saya pulang
sendirian. Sesampai di
rumah waktu
menunjukkan pukul 01.30
WIB. Karena takut
mengganggu, akhirnya
saya langsung ke belakang
rumah, disana terdapat
gudang tua sekolah SD itu.
Aku pun tiduran dengan
posisi terlentang dan
tangan dilipat di atas dahi,
dengan posisi kaki agak
mengangkang. Malam
makin bertambah larut,
mataku belum juga
terpejam. Tiba-tiba
terdengar suara sayu-
sayup memanggil
namaku. Kedengarannya
dari arah belakang
gudang. Ya, dekat pohon
beringin. Suara itu mirip
sekali dengan suara
temanku, akan tetapi tidak
saya hiraukan. Namun
suara tersebut makin lama
makin dekat dan terus
memanggil:“Dik…Dik…
Marsudik!” “Bukakan pintu,
dong, Marsudik!” bunyi
suara itu memanggil
namaku. Akan tetapi saya
tetap tidak
menghiraukannya. Aneh,
akhirnya pintu gudang
terbuka sendiri. Kemudian
telihat jelas olehku sesosok
wanita bergaun putih,
dengan rambut hitam
lebat panjang sampai
kelantai. Muka tak terlihat,
ditutupi rambutnya. Dia
seperti melayang,
mendekat ke arahku. Ya,
sedikit demi sedikit
makhluk itu mendekatiku.
Saat dia mengangkatkan
tangannya kedepan terlihat
kukunya yang sangat
panjang dan tajam.
Kemudian dia duduk di
antara kakiku yang terbuka
itu. Waktu itu aku sudah
terbaring kaku, tidak bisa
bergerak lagi. Bahkan,
mulut pun terasa bisu.
Kemudian, tangan si
Kuntilanak perlahan-lahan
kedepan, maksudnya
ingin meraih dan menarik
kemaluanku. Saya sudah
pasrah, namun masih
berharap bisa merapatkan
kedua kakiku, sehingga si
Kuntilanak terjepit dengan
keras. Tapi tidak bisa. Aku
coba berdoa sebisanya di
dalam hati. Akhirnya,
Kuntilanak itupun merasa
panas. Dia kemudian
terbang keluar sambil
tertawa, lalu aku yang
sejak tadi berusaha
merapatkan kedua kaki
pun baru bisa terlaksana,
sehingga kedua belah
kakiku berbenturan sangat
keras. Sakitnya luas biasa.
Sambil merasakan
kesakitan aku pun masih
bisa mencaci maki
Kuntilanah itu. Tetapi dia
terus tertawa dan akhirnya
hilang. Kejadian ini
membuatku tidak bisa
tidur sampai pagi.
Anehnya, siang harinya
saya merasa senang
sebab seperti ketiban
bulan mendapat panggilan
kerja di perusahaan
terbesar di Bangka, serta
langsung diangkat
karyawan tetap hingga
sekarang. Kata orang,
kalau kita bertemu dengan
Kuntilanak, maka kita akan
mendapat peruntungan.
Benarkah? Ah, mungkin
saja. Kuntilanak di
Perumahan Suradita
Permuhan Suradita
Cisauk, Serpong, Kab.
Tanggerang, banyak
dihuni Kuntilanak. Endang
dan Maya, warga
perumahan
membeberkan
kesaksiannya. Pada
pertengahan September
2003, hari kamis malam
Jum’at Kliwon, Endang
dan Maya baru saja
pulang dari rumah
temannya yang sedang
merayakan pesta ulang
tahun. Sekitar pukul 22.30
WIB. Mereka pulang
terburu-buru karena hujan
akan turun. Sesampai di
depan sebuah rumah
kosong, tepatnya di jalan
Kenanga, Endang dan
Maya mendengar suara
tawa dari arah rumah itu.
Suara tawa tersebut
semakin lama semakin
jelas terdengar. Mereka
kaget, karena mereka tahu
kalau rumah itu tidak ada
penghuninya. Kemudian
mereka melihat ke arah
rumah itu dan suara
tawanya pun hilang.
Namun, tiba-tiba muncul
bayangan putih yang
sangat jelas berupa
perempuan berpakaian
serba putih, mukanya
pucat dan mulutnya
bertaring. Melihat
pemandangan seperti itu
langsung membuat
Endang dan Maya
ketakutan. Mereka pun
segera lari. Tapi anehnya
mereka hanya berlari di
sekitar rumah kosong itu
saja. Akhirnya mereka
berhenti berlari karena
letih. Dan, suara tawa
kembali terdengar
bergantian dengan suara
orang menangis.
Anehnya, bayangan
perempuan tadi
menghilang. Kejadian
seperti itu berlangsung
sekitar lima belas menit.
Setelah itu suara dari
rumah kosong berhenti.
Mereka pun langsung
pulang. Keesokkan
harinya, Endang
menceritakan kejadian
yang dialaminya bersama
Maya kepada Ibu Suhaya,
50 tahun, warga asli Desa
Suradita yang tahu persis
sejarah tempat tersebut.
“Dulu sebelum
perumahan ini di bangun
di sini banyak sekali
pohon-pohon besar, dan
setiap malam Jum’at
Kliwon sering terdengar
suara orang menangis
dan suara orang tertawa,”
tutur ibu Suhaya.
Mungkin, karena
tempatnya dulu sudah
hilang, maka jin-jin
tersebut mencari tempat
baru, dan rumah-rumah
kosonglah yang mereka
pilih.
Dimuat

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: