Skip to content

cerita kado ulang tahun dari mama

Juni 6, 2011

Setiap tanggal 7 Juni
Mama selalu merayakan
ulang tahunku. Pada
ulang tahunku yang ke 12,
mama memberiku sebuah
kado yang sangat
menarik. Sebuah sepeda
mini termahal yang
pernah dijual di Indonesia.
Aku senang menerima
hadiah dari mama. Bukan
saja karena harganya
yang sangat mahal, tetapi
juga karena mama
memperbolehkan aku
bersepeda ke sekolah.
“Ketika usiamu menginjak
12 tahun engkau boleh
bersepeda ke sekolah,”
kata mama suatu hari.
“Kenapa harus menunggu
usia 12 tahun?” aku
bertanya dengan kesal.
“Tubuhmu kecil Nita.
Kalau engkau bersepeda
pada usia 10 tahun, aku
khawatir akan
keselamatanmu.
Kendaraan yang begitu
padat selalu
menghantuiku.”
Akhirnya aku memaklumi
kekhawatiran mama.
Kini aku boleh bersepeda
ke sekolah. Teman-
temanku menyambutku
dengan riang. Mereka
senang karena aku
mempunyai sepeda baru.
“Aku boleh pinjam ya
Nita?” seru Triana sambil
mendekatiku.
“Aku juga ya Nita?” kata
yang lain.
Aku mengangguk lemah.
Bukan aku tidak mau
memberi pinjaman
kepada teman. Aku
khawatir mereka tidak bisa
bersepeda dengan baik.
Jika jatuh tentu sepedaku
lecet, atau ada bagian
yang rusak. Tapi tak
mungkin aku menolak
keinginannya.
“Tapi hati-hati ya!” seruku
mengingatkan.
Triana senang sekali ketika
aku mengijinkan dia naik
sepeda. Selama ini dia
tidak pernah mempunyai
sepeda. Kalau ingin naik
sepeda selalu pinjam
teman. Biasanya teman-
teman jarang yang
memberi pinjaman.
Alasannya sederhana saja,
takut sepedanya rusak.
Aku hanya melihat-lihat
Triana bersepeda. Suatu
saat hampir saja ia jatuh,
tapi aku berhasil
menangkapnya. Setelah
itu aku tidak
memperbolehkannya lagi.
Setelah Triana kini Nunung
yang pinjam. Karena aku
sudah berjanji untuk
memberikan pinjaman
maka kuberikan sepeda
kesayanganku.
Nunung lebih mahir
bersepeda dari pada
Triana, walaupun begitu
dia agak ugal-ugalan. Di
tempat yang sempit pun
dia berani naik sepeda.
Karena sikapnya yang
ugal-ugalan itu maka ia
terjatuh. Aku menjerit tapi
Nunung hanya tersenyum
saja.
“Wah…pasti aku dimarahi
mama,” kataku kepada
Nunung.
“Ah begitu saja marah.
Mana mungkin mamamu
akan marah? Bukankan
kamu anak kesayangan?”
kata Nunung tanpa
memperdulikan
perasaanku.
“Enak saja kamu
berbicara. Di rumah pasti
mama memarahiku. Bisa-
bisa aku tidak boleh naik
sepeda lagi.”
Ketika pulang sekolah
hatiku bimbang. Pikiranku
hanya teringat mama.
Kalau aku bercerita terus
terang tentu mama akan
marah, tapi jika aku
berbohong aku merasa
berdosa. Kini sayap depan
sepedaku terkelupas
sedikit. Mama pasti akan
mengetahuinya. Karena
itu aku akan bercerita terus
terang.
“Bagaimana Nita enak kan
memakai sepeda baru?”
Aku mengangguk.
“Lho, kenapa wajahmu
kusam? Ada apa,
sayang?”
Aku secepatnya
menjelaskan masalahnya.
Hatiku bimbang.
“Jadi temanmu yang
jatuh?”
Aku mengangguk.
“Semahal apapun sepeda
tidak lebih baik dari
persahabatan,” kata mama
dengan wajah tenang.
“Maksud mama?”
“Jangan risaukan semua
itu. Mama memang
memberimu hadiah ulang
tahun, tapi mana mungkin
engkau sendiri yang akan
naik sepeda? Bukankah
teman-temanmu juga
ingin mencobanya?”
Sungguh aku malu kepada
Nunung. Ketika Nunung
menjatuhkan sepedaku,
aku cemberut dan marah-
marah. Ternyata mama
justru sebaliknya.
“Apakah engkau
memarahi Nunung?”
“Tentu saja Ma. Aku
sayang sekali dengan
sepeda baru itu. Mama
membelinya dengan uang
yang sangat banyak.”
Mama tertawa mendengar
pengakuanku.
“Nita, Nita…sekali lagi
mama katakan…jangan
engkau tukar
persahabatan dengan
sebuah sepeda. Jika
engkau tidak mempunyai
teman, pasti engkau
susah. Tetapi jika kamu
bersepeda dengan sepeda
yang rusak sedikit, engkau
masih tetap bahagia.”
Keesokan harinya, aku
buru-buru menemui
Nunung. Aku ingin minta
maaf karena aku marah-
marah kepadanya. Tetapi
kata Triana, Nunung tidak
masuk sekolah karena
takut telah merusak
sepedaku. Aku mengajak
Triana ke rumah Nunung.
Begitu tahu kedatanganku,
Nunung berlari masuk ke
rumahnya.
“Nunung, aku datang
untuk minta maaf
kepadamu. Mama tidak
memarahiku, mama
maklum kesalahanmu.
Karena itu aku kemari
ingin minta maaf.”
Tak berapa lama, Nunung
keluar dari kamarnya dan
segera memelukku.
“Maafkan aku, Nita. Aku
telah merusak sepeda
kesayanganmu!”
“Maafkan aku juga Nung.
Aku terlalu emosi!”
Kami menjadi teman baik
kembali.

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: