Skip to content

cerita jayaprana dan layonsari

Juni 6, 2011

Dua orang suami istri
bertempat tinggal di Desa
Kalianget mempunyai tiga
orang anak, dua orang
laki-laki dan seorang
perempuan. Oleh karena
ada wabah yang
menimpa masyarakat
desa itu, maka empat
orang dari keluarga yang
miskin ini meninggal dunia
bersamaan. Tinggallah
seorang laki-laki yang
paling bungsu bernama I
Jayaprana. Oleh karena
orang yang terakhir ini
keadaannya yatim piatu,
maka ia pun
memberanikan diri
mengabdi di istana raja. Di
istana, laki-laki itu sangat
rajin, rajapun amat kasih
sayang kepadanya.
Kini I Jayaprana baru
berusia duabelas tahun. Ia
sangat ganteng paras
muka tampan dan
senyumnya pun sangat
manis menarik.
Beberapa tahun
kemudian………………
Pada suatu hari raja
menitahkan I Jayaprana,
supaya memilih seorang
dayang-dayang yang ada
di dalam istana atau gadis
gadis yang ada di luar
istana. Mula-mula I
Jayaprana menolak titah
baginda, dengan alasan
bahwa dirinya masih
kanak-kanak. Tetapi karena
dipaksa oleh raja akhirnya
I Jayaprana menurutinya.
Ia pun melancong ke
pasar yang ada di depan
istana hendak melihat-lihat
gadis yang lalu lalang
pergi ke pasar. Tiba-tiba ia
melihat seorang gadis
yang sangat cantik jelita.
Gadis itu bernama Ni
Layonsari, putra Jero
Bendesa, berasal dari
Banjar Sekar.
Melihat gadis yang elok itu,
I Jayaprana sangat terpikat
hatinya dan pandangan
matanya terus
membuntuti lenggang
gadis itu ke pasar,
sebaliknya Ni Layonsari
pun sangat jatuh hati
memandang pemuda
ganteng yang sedang
duduk-duduk di depan
istana. Setelah gadis itu
menyelinap di balik orang-
orang yang ada di dalam
pasar, maka I Jayaprana
cepat-cepat kembali ke
istana hendak melapor
kehadapan Sri Baginda
Raja. Laporan I Jayaprana
diterima oleh baginda dan
kemudian raja menulis
sepucuk surat.
I Jayaprana dititahkan
membawa sepucuk surat
ke rumahnya Jero
Bendesa. Tiada diceritakan
di tengah jalan, maka I
Jayaprana tiba di rumah
Jero Bendesa. Ia
menyerahkan surat yang
dibawanya itu kepada Jero
Bendesa dengan
hormatnya. Jero Bendesa
menerima terus langsung
dibacanya dalam hati. Jero
Bendesa sangat setuju
apabila putrinya yaitu Ni
Layonsari dikawinkan
dengan I Jayaprana.
Setelah ia menyampaikan
isi hatinya “setuju” kepada
I Jayaprana, lalu I
Jayaprana memohon diri
pulang kembali.
Di istana Raja sedang
mengadakan sidang di
pendopo. Tiba-tiba
datanglah I Jayaprana
menghadap pesanan Jero
Bendesa kehadapan Sri
Baginda Raja. Kemudian
Raja mengumumkan pada
sidang yang isinya antara
lain: Bahwa nanti pada hari
Selasa Legi wuku
Kuningan, raja akan
membuat upacara
perkawinannya I
Jayaprana dengan Ni
Layonsari. Dari itu raja
memerintahkan kepada
segenap perbekel, supaya
mulai mendirikan
bangunan-bangunan
rumah, balai-balai
selengkapnya untuk I
Jayaprana.
Menjelang hari
perkawinannya semua
bangunan-bangunan
sudah selesai dikerjakan
dengan secara gotong
royong semuanya serba
indah. Kini tiba hari
upacara perkawinan I
Jayaprana diiringi oleh
masyarakat desanya,
pergi ke rumahnya Jero
Bendesa, hendak
memohon Ni Layonsari
dengan alat upacara
selengkapnya. Sri Baginda
Raja sedang duduk di atas
singgasana dihadap oleh
para pegawai raja dan
para perbekel baginda.
Kemudian datanglah
rombongan I Jayaprana di
depan istana. Kedua
mempelai itu harus turun
dari atas joli, terus
langsung menyembah
kehadapan Sri Baginda
Raja dengan hormatnya.
Melihat wajah Ni
Layonsari, raja pun
membisu tak dapat
bersabda.
Setelah senja kedua
mempelai itu lalu
memohon diri akan
kembal ke rumahnya
meninggalkan sidang di
paseban. Sepeninggal
mereka itu, Sri Baginda
lalu bersabda kepada para
perbekel semuanya untuk
meminta pertimbangan
caranya memperdayakan
I Jayaprana supaya ia
mati. Istrinya yaitu Ni
Layonsari akanmasuk ke
istana untuk dijadikan
permaisuri baginda.
Dikatakan apabila Ni
Layonsari tidak dapat
diperistri maka baginda
akan mati karena
kesedihan.
Mendengar sabda itu salah
seorang perbekel lalu
tampak ke depan hendak
mengetengahkan
pertimbangan, yang isinya
antara lain: agar Sri Paduka
Raja menitahkan I
Jayaprana bersama
rombongan pergi ke Celuk
Terima, untuk menyelidiki
perahu yang hancur dan
orang-orang Bajo
menembak binatang yang
ada di kawasan pengulan.
Demikian isi pertimbangan
salah seorang perbekel
yang bernama I
Saunggaling, yang telah
disepakati oleh Sang Raja.
Sekarang tersebutlah I
Jayaprana yang sangat
berbahagia hidupnya
bersama istrinya. Tetapi
baru tujuh hari lamanya
mereka berbulan madu,
datanglah seorang utusan
raja ke rumahnya, yang
maksudnya memanggil I
Jayaprana supaya
menghadap ke paseban. I
Jayaprana segera pergi ke
paseban menghadap Sri P
aduka Raja bersama
perbekel sekalian. Di
paseban mereka dititahkan
supaya besok pagi-pagi ke
Celuk Terima untuk
menyelidiki adanya perahu
kandas dan kekacauan-
kekacauan lainnya. Setelah
senja, sidang pun bubar. I
Jayaprana pulang kembali
ia disambut oleh istrinya
yang sangat dicintainya
itu. I Jayaprana
menerangkan hasil-hasil
rapat di paseban kepada
istrinya.
Hari sudah malam Ni
Layonsari bermimpi,
rumahnya dihanyutkan
banjir besar, ia pun
bangkit dari tempat
tidurnya seraya
menerangkan isi
impiannya yang sangat
mengerikan itu kepada I
Jayaprana. Ia meminta
agar keberangkatannya
besok dibatalkan
berdasarkan alamat-
alamat impiannya. Tetapi I
Jayaprana tidak berani
menolak perintah raja.
Dikatakan bahwa kematian
itu terletak di tangan
Tuhan Yang Maha Esa.
Pagi-pagi I Jayaprana
bersama rombongan
berangkat ke Celuk
Terima, meninggalkan Ni
Layonsari di rumahnya
dalam kesedihan. Dalam
perjalanan rombongan itu,
I Jayaprana sering kali
mendapat alamat yang
buruk-buruk. Akhirnya
mereka tiba di hutan Celuk
Terima. I Jayaprana sudah
merasa dirinya akan
dibunuh. Kemudian I
Saunggaling berkata
kepada I Jayaprana sambil
menyerahkan sepucuk
surat.
I Jayaprana menerima
surat itu terus langsung
dibaca dalam hati isinya:
“Hai engkau Jayaprana
Manusia tiada berguna
Berjalan berjalanlah
engkau
Akulah menyuruh
membunuh kau
Dosamu sangat besar
Kau melampaui tingkah
raja
Istrimu sungguh milik
orang besar
Kuambil kujadikan istri raja
Serahkanlah jiwamu
sekarang
Jangan engkau melawan
Layonsari jangan kau
kenang
Kuperistri hingga akhir
jaman.”
Demikianlah isi surat Sri
Baginda Raja kepada I
Jayaprana. Setelah I
Jayaprana membaca surat
itu lalu ia pun menangis
tersedu-sedu sambil
meratap. “Yah, oleh
karena sudah dari titah
baginda, hamba tiada
menolak. Sungguh
semula baginda menanam
dan memelihara hambat
tetapi kini baginda ingin
mencabutnya, yah silakan.
Hamba rela dibunuh demi
kepentingan baginda,
meski pun hamba tiada
berdosa. Demikian
ratapnya I Jayaprana
seraya mencucurkan air
mata. Selanjutnya I
Jayaprana meminta
kepada I Saunggaling
supaya segera bersiap-
siap menikamnya. Setelah
I Saunggaling
mempermaklumkan
kepada I Jayaprana bahwa
ia menuruti apa yang
dititahkan oleh raja dengan
hati yang berat dan sedih
ia menancapkan kerisnya
pada lambung kirinya I
Jayaprana. Darah
menyembur harum
semerbak baunya
bersamaan dengan alamat
yang aneh-aneh di
angkasa dan di bumi
seperti: gempa bumi,
angin topan, hujan bunga,
teja membangun dan
sebagainya.
Setelah mayat I Jayaprana
itu dikubur, maka seluruh
perbekel kembali pulang
dengan perasaan sangat
sedih. Di tengah jalan
mereka sering mendapat
bahaya maut. Di antara
perbekel itu banyak yang
mati. Ada yang mati
karena diterkam harimau,
ada juga dipagut ular.
Berita tentang
terbunuhnya I Jayaprana
itu telah didengar oleh
istrinya yaitu Ni Layonsari.
Dari itu ia segera
menghunus keris dan
menikan dirinya.
Demikianlah isi singkat
cerita dua orang muda
mudi itu yang baru saja
berbulan madu atas cinta
murninya akan tetapi
mendapat halangan dari
seorang raja dan akhirnya
bersama-sama meninggal
dunia.

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: