Skip to content

cerita burung cenge’

Juni 6, 2011

Cengnge` adalah nama
seekor burung bersuara
merdu dan berbulu indah
yang terdapat di daerah
Mandar, Sulawesi Barat,
Indonesia. Di kalangan
masyarakat Mandar, ada
sebuah cerita menarik
yang mengisahkan
tentang seorang gadis
cantik yang menjelma
menjadi seekor burung
Cengnge`. Mengapa gadis
cantik itu menjelma
menjadi burung
Cengnge`? Kisah menarik
ini dapat Anda ikuti dalam
cerita Cengnge` berikut ini.
* * *
Alkisah, di sebuah
kampung di daerah
Mandar, Sulawesi Barat,
hidup sepasang suami-
istri yang miskin dan tidak
mempunyai anak. Hampir
setiap malam mereka
berdoa agar dikaruniai
seorang anak, namun
Tuhan belum juga
mengambulkan doa
mereka. Meski demikian,
sepasang suami-istri itu
tidak pernah berputus asa
untuk terus berdoa
kepada Tuhan.
“Ya Tuhan! Jika Engkau
berkenan mengaruniakan
kami seorang anak laki-
laki, hamba bersedia
membuatkannya ayunan
dari emas,” doa sang
Suami.
Sebulan kemudian, sang
Istri pun hamil. Alangkah
senang dan bahagianya
sang Suami mengetahui
hal itu. Namun hatinya
juga bingung, karena ia
harus memenuhi janjinya
untuk membuatkan
anaknya ayunan dari
emas. Padahal,
kehidupannya sendiri tidak
berkecukupan.Akhirnya,
ia pun memutuskan untuk
pergimerantau ke Pulau
Jawa.
“Dik, Abang akan
merantau ke Pulau Jawa,
agar dapat membuatkan
ayunan dari emas untuk
anak kita,” kata sang
Suami kepada istrinya.
“Baik, Bang! Jika sudah
berhasil, segeralah
pulang,” pinta sang Istri.
“Iya, Abang berjanji
segera kembali setelah
kelahiran anak kita. Abang
akan membawakan anak
kita ayunan dari emas,”
jawab sang Suami.
Keesokan harinya, sang
Suami pun bersiap-siap
untuk berangkat ke Pulau
Jawa dengan
menumpang kapal besar
yang sedang berlabuh di
pelabuhan Teluk Mandar.
Namun, sebelum
meninggalkan rumahnya,
ia berpesan kepada
istrinya.
“Dik, jika Adik melahirkan
anak laki-laki, tolong
dirawat dengan baik. Tapi,
jika anak perempuan,
segeralah Adik
membunuhnya,” pesan
sang Suami lalu bergegas
pergi tanpa memberikan
alasan mengapa ia tidak
menyukai anak
perempuan.
Alangkah terkejutnya sang
Istrimendengar
permintaan suaminya. Ia
baru akan menanyakan
hal itu, tetapi suaminya
sudah hilang dari
pandangannya. Dengan
perasaan sedih dan pilu, ia
pun kembali masuk ke
rumahnya sambil
mengelus-elus perutnya.
Setiap malam ia sangat
sulit memejamkan
matanya karena
memikirkan permintaan
suaminya. Sebagai
seorang ibu, tentu ia tidak
tega membunuh darah
dagingnya sendiri.
Beberapa bulan kemudian,
sangIstri melahirkan
seorang bayi perempuan
yang cantik jelita. Hatinya
gembira bercampur
sedih. Ia gembira karena
telah melahirkan seorang
anak yang sudah lama ia
idam-idamkan. Namun ia
juga sedih, karena harus
segera membunuh
bayinya itu. Akhirnya, ia
memutuskan untuk
menitipkan bayinya
kepada keluarganya yang
tinggal di sebuah
kampung yang letaknya
cukup jauh.
Sepulang dari rumah
keluarganya, sang Istri
segera menyembelih
seekor ayam jantan lalu
menguburnya di belakang
rumahnya. Ia melakukan
hal itu untuk meyakinkan
suaminya, bahwa ia
benar-benar sudah
membunuh anak
perempuan mereka yang
baru lahir. Agar tidak
menimbulkan kecurigaan,
sang Istri mengoleskan
darah ayam pada batu
nisan kuburan itu.
Beberapa hari setelah
kelahiran bayinya, sang
Suami pun kembali dari
perantauan. Di
punggungnya tergantung
beberapa tas yang berisi
perlengkapan bayi laki-laki.
Tangannyamenjinjing
seperangkat ayunan bayi
dari emas.
“Dik…! Abang pulang…!”
teriak sang Suami sambil
mengetuk pintu
rumahnya yang tertutup
rapat.
Mendengar suara itu, sang
Istri pun segera membuka
pintuuntuk menyambut
kedatangan suaminya.
“Mana anak kita? Kenapa
Abang tidak mendengar
suara bayi?” tanya sang
Suami sudah tidak sabar
ingin menimang anaknya.
“Maaf, Bang! Anak kita
perempuan. Sesuai
dengan pesan Abang,
anak kita sudah Adik
bunuh dan menguburnya
di belakang rumah,”
jawab sang Istri.
Alangkah terkejutnya sang
Suami mendengar ucapan
istrinya.Tanpa
disadarinya, ayunan emas
di genggaman dan tas-tas
di punggungnya terjatuh
seketika. Seluruh
badannya tiba-tiba terasa
lemas. Ia sangat kecewa
karena istrinya melahirkan
seorang anak perempuan,
sementara ia sendiri tidak
menyukainya. Untuk
membuktikan ucapan
istrinya, ia pun segera ke
belakang rumahnya untuk
melihat kuburan putrinya
itu. Ternyata benar, di
belakang rumahnya
terdapat tumpukan galian
tanah berukuran kecil dan
di atasnya terdapat
sebuah batu nisan dengan
bercak darah. Tanpa rasa
curiga sedikit pun, sang
Suami percaya saja
bahwa isi kuburan itu
adalah putrinya.
Sejak itu, sang Suami
selalu tampak murung
dan sedih. Ia seakan-akan
tidak memiliki gairah dan
semangat untuk hidup. Ia
selalu gelisah, entah kapan
ia akan memiliki anak laki-
laki. Sementara sang Istri
tetap bersikap ceria,
karena ia tahu bahwa
anaknya masih hidup.
Meski demikian, ia tidak
terlalu menampakkan
keceriaannya, agar tidak
menimbulkan kecurigaan
pada suaminya. Setiap kali
melihat suaminya duduk
termenung seorang diri, ia
senantiasa menghiburnya.
“Sudahlah, Bang! Ini
semua kehendak Tuhan.
Kita hanya bisa berusaha
dan berdoa. Lupakanlah
semua kejadian ini!” bujuk
sang Istri.
Setelah berkali-kali
dibujuk, akhirnya sang
Suami kembali
bersemangat. Siang hari ia
bekerjaseperti biasanya,
dan pada malam harinya
ia terus berdoa agar
kembali dikaruniai seorang
anak laki-laki.
Waktu terus berjalan. Bayi
perempuan yang
dititipkan sang Ibu telah
tumbuh menjadi seorang
gadis yang cantik jelita.
Kini, ia sudah mengetahui
keradaan kedua
orangtuanya dan
berkeinginan untuk
menemui mereka. Setelah
mandi di sungai dan
berdandan rapi, gadis itu
memanggil seluruh
burung peliharaannya. Ia
ingin menjelmakan dirinya
menjadiseekor burung
agar dapat dengan mudah
mencariorangtuanya.
Namun, ia bingung ingin
menjadi burung apa,
karena ia memiliki
beberapa jenis burung
peliharaan.
Setelah seluruh burung
peliharaannya berkumpul,
ia pun menjatuhkan
pilihannya pada burung
Cengnge`. Ia memilih
burung Cengnge` karena
selain dapat terbang
tinggi, juga memiliki suara
merdu dan bulu yang
sangat indah.
Akhirnya, gadis itu
memilih menjadi burung
Cengge`, sehingga ia
dapat terbang dengan
leluasa di udara. Setelah
berhari-hari terbang ke
sana kemari, akhirnya ia
pun menemukan
keberadaan kedua
orangtuanya. Ia berputar-
putar di atas bubungan
atap rumah ayah dan
ibunya sambil bernyanyi:
“Cengge`….Cengge`….inilah
aku yang terbuang,
terbuang oleh orang tuaku
sendiri.Kini aku sudah
mengerti siapa orang
tuaku, meskipun tidak
mungkin kembali
kepadanya…”
Mendengar suara
nyanyian itu, kedua
orangtua Cengnge` yang
sedang asyik beristirahat
segera bangkit dan keluar
dari dalam rumah.
Alangkah terkejutnya
mereka saat melihat
seekor burung Cengnge`
sedang terbang berputar-
putar sambil bernyanyi.
Belum sempat mereka
berkata apa-apa,
Cengnge` berpesan
kepada mereka sebelum ia
pergi.
“Hai… orangtuaku,
kedatangan Ananda
kemari hanya ingin
berpamitan. Ananda ingin
pergi ke Tanah Jawa. Tak
ada gunanya Ananda
tinggal bersama kalian,
karena kehadiran Ananda
tidak dibutuhkan,” kata
Cengnge` lalu terbang
pergi tinggi ke udara
meninggalkan kedua
orangtuanya.
Akhirnya, rahasia sang
Istri terbongkar juga di
hadapan sang Suami.
Sang Istri pun
menceritakan semuanya
lalu meminta maaf kepada
suaminya, karena tidak
berterus terang. Sang
suami pun merasa
menyesal karena
menyuruh istrinya untuk
membunuh anak
perempuan mereka.
Namun apa hendak
dibuat, semuanya sudah
terjadi. Sang Anak pun
telah pergi meninggalkan
mereka.
Sementara itu, Cengnge`
terus terbang menuju ke
Tanah Jawa. Setelah
berhari-hari menempuh
perjalanan di udara,
sampailah ia di sebuah
lapangan luas. Orang
Jawa menyebutnya alun-
alun. Di tengah alun-alun
itu terdapat beberapa
batang pohon beringin
yang tumbuh subur dan
rindang. Cengnge`
kemudian terbang rendah
dan bertengger di atas
salah satu pohon beringin
tersebut. Di atas pohon
itu, Cengnge` terbang dari
satu dahan ke dahan yang
lain sambil bernyanyi.
“Cengnge`….Cengnge`…
Cengnge`….!!!”
Tanpa disadarinya,
seorang pemuda tampan
sedang
memerhatikannya. Ia
adalah putra Raja Jawa.
Rupanya, ia sangat tertarik
melihat bulu dan
mendengar suara merdu
Cengnge`.
“Waaah… baru kali ini aku
menemukan burung
sebagus itu. Suaranya
merdu dan bulunya pun
sangat indah,” ucap putra
raja dengan takjub.
Putra Raja Jawa itu ingin
sekali memiliki burung
Cengnge` itu. Ia pun
segera memerintahkan
seorang pengawalnya
untuk menangkapnya.
Baru pengawal itu akan
memanjat pohon beringin
tempat Cengnge`
bertengger, tiba-tiba
Cengnge` kembali
bernyanyi.
“Cengnge`… aku adalah
burung Cengnge` dari
Mandar. Aku adalah anak
rantau yang terbuang oleh
keduaorangtuaku…,” kata
Cengnge` dalam lagunya.
Mendengar suara merdu
Cengnge` itu, putra raja
semakin penasaran ingin
segera memilikinya. Ia
pun memerintahkan
pengawalnya agar segera
memanjat pohon itu.
Ketika pengawal itu
mendekati dahan tempat
Cengge` bertengger,
Cengnge` segera terbang
ke pohon beringin yang
lain. Melihat gelagat
burung Cengnge` itu,
akhirnya putra raja
memutuskan untuk
memanjat pohon beringin
itu dan ingin menangkap
sendiri burung itu. Saat ia
akan memanjat pohon
beringin itu, tiba-tiba
Cengnge` kembali
bernyanyi dengan suara
merdunya.
“Aku ini anak rantau
sedang mencari anak raja
yang bersedia
merawatku, walaupun
harus menjadi abdinya…”
Demikian kata Cengnge`
dalam lagunya seraya
terbang mendekat ke arah
putra raja yang masih
berada di bawah pohon
beringin. Maka putra raja
pun dapat menangkapnya
dengan mudah. Akhirnya,
burung Cengnge` itu
dibawa pulang ke istana
Raja Jawa dan dan
dipelihara secara
istimewa. Berbeda dengan
burung peliharaan lainnya,
putraraja tidak
memasukkan Cengnge`
ke dalam sangkar, karena
Cengnge` termasuk
burung yang jinak dan
bersedia mengabdi
kepadanya.
Sejak kehadiran Cengnge`,
muncul keanehan di istana
RajaJawa. Setiap pagi,
seluruh air persiapan
untuk mandi pagi raja dan
keluarganya selalu saja
habis. Peristiwa aneh itu
terus terjadi hingga
berminggu-minggu dan
bahkan berbulan-bulan.
Keanehan itu kemudian
menimbulkan kecurigaan
raja. Akhirnya, Raja Jawa
melakukan penyeledikan
secara diam-diam.
Pada suatu malam yang
sepi, sang Raja mengintip
tempat pemandiannya.
Alangkah terkejutnya saat
ia melihat seorang gadis
cantik jelita sedang mandi.
“Siapa gadis itu?
Sepertinya aku belum
pernah melihatnya,” kata
sang Raja dalam hati
sambil terus mengamati
gadis itu.
Sementara si gadis tidak
menyadari jika ada
sepasang mata yang
sedang
memerhatikannya. Ia
terus saja mandi dengan
sepuas-puasnya. Setelah
menghabiskan seluruh air
di bak mandi itu, ia pun
segera mengenakan
pakaian (bulu)-nya yang
diletakkan di pinggir bak
mandi. Beberapa saat
kemudian, ia pun kembali
menjelma menjadi seekor
burung Cengnge`.
Akhirnya, malam itu,
penyamaran Cengnge`
ketahuan juga oleh sang
Raja.
“Mmm… rupanya dialah
yang selama ini selalu
menghabiskan air di bak
mandiku,” gumam sang
Raja lalu menghampiri
gadis itu.
“Hei…gadis cantik! Siapa
sebenarnya kamu ini?
Kenapa menyamar
menjadi seekor burung?”
tanya sang Raja kepada
Cengnge`.
“Ammm… Ammmp..
Ampun, Tuan! Hamba
menjelmakan diri menjadi
burung Cengnge`, karena
hamba adalah anak
perempuan yang tidak
diinginkan oleh orangtua
hamba,” jawab Cengnge`
gugup ketakutan.
Mendengar jawaban
Cengnge` yang
menyedihkan itu, sang
Raja tiba-tiba merasa iba
kepadanya. Akhirnya,
sang Raja memutuskan
untuk menikahkan
Cengnge` dengan
putranya yang selama ini
merawatnya. Tiga hari
kemudian, pesta
pernikahan Cengnge`
dengan putra Raja Jawa
pun dilangsungkan
dengan meriah. Berbagai
pertunjukan seni
dipentaskan. Tamu
undangan pun datang dari
berbagaipenjuru. Mereka
turut berbahagia
menyaksikan sepasang
pengantin yang sangat
serasi sedang duduk di
atas pelaminan. Putra raja
seorang pemuda yang
tampan, sedangkan
Cengnge` seorang gadis
yang cantik jelita. Sejak
saat itu, Cengnge` tinggal
bersama suaminya di
dalam istana Raja Jawa.
Mereka pun hidup bahagia
dan rukun.
* * *

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: