Skip to content

Cerita asal usul danau toba dan pulau samosir

Juni 6, 2011

Pada zaman dahulu di
suatu desa di
Sumatera Utara
hiduplah seorang
petani bernama Toba
yang menyendiri di
sebuah lembah yang
landai dan subur.
Petani itu mengerjakan
lahanpertaniannya
untuk keperluan
hidupnya.
Selain mengerjakan
ladangnya, kadang-
kadang lelaki itu pergi
memancing ke
sungai yang berada
tak jauh dari
rumahnya. Setiap kali
dia memancing,
mudah saja ikan
didapatnya karena di
sungai yang jernih itu
memang banyak
sekali ikan. Ikan hasil
pancingannya dia
masak untuk dimakan.
Pada suatu sore,
setelah pulang dari
ladang lelaki itu
langsung pergi ke
sungai untuk
memancing. Tetapi
sudah cukup lama ia
memancing tak seekor
iakanpun didapatnya.
Kejadian yang seperti
itu,tidak pernah
dialami sebelumnya.
Sebab biasanya ikan di
sungai itu mudah saja
dia pancing. Karena
sudah terlalu lama tak
ada yang memakan
umpan pancingnya,
dia jadi kesal dan
memutuskan untuk
berhenti saja
memancing. Tetapi
ketika dia hendak
menarik pancingnya,
tiba-tiba pancing itu
disambar ikan yang
langsung menarik
pancing itu jauh
ketengah sungai.
Hatinya yang tadi
sudah kesal berubah
menjadi gembira,
Karena dia tahu bahwa
ikan yang menyambar
pancingnyaitu adalah
ikan yang besar.
Setelah beberapa lama
dia biarkan
pancingnya ditarik ke
sana kemari, barulah
pancing itu
disentakkannya, dan
tampaklah seekor ikan
besar tergantung dan
menggelepar-gelepar
diujung tali
pancingnya. Dengan
cepat ikan itu
ditariknya ke darat
supaya tidak lepas.
Sambil tersenyum
gembira mata
pancingnya dia lepas
dari mulut ikan itu.
Pada saat dia sedang
melepaskan mata
pancing itu, ikan
tersebut
memandangnya
denganpenuh arti.
Kemudian, setelah ikan
itudiletakkannya ke
satu tempat dia pun
masuk ke dalam
sungai untuk mandi.
Perasaannya gembira
sekali karena belum
pernah dia mendapat
ikan sebesar itu. Dia
tersenyum sambil
membayangkan
betapaenaknya nanti
daging ikan itu kalau
sudah dipanggang.
Ketika meninggalkan
sungai untuk pulang
kerumahnya hari
sudah mulai senja.
Setibanya di rumah,
lelaki itu langsung
membawa ikan besar
hasil pancingannya itu
ke dapur. Ketika dia
hendak menyalakan
api untuk
memanggang ikan itu,
ternyata kayu bakar di
dapur rumahnya
sudah habis. Dia
segera keluar untuk
mengambil kayu
bakar dari bawah
kolong rumahnya.
Kemudian, sambil
membawa beberapa
potong kayu bakar dia
naik kembali ke atas
rumah dan langsung
menuju dapur.
Pada saat lelaki itu tiba
di dapur, dia terkejut
sekali karena ikan
besar itu sudah tidak
ada lagi. Tetapi di
tempat ikan itu tadi
diletakkan tampak
terhampar beberapa
keping uang emas.
Karena terkejut dan
heran mengalami
keadaan yang aneh
itu, dia meninggalkan
dapur dan masuk
kekamar.
Ketika lelaki itu
membuka pintu
kamar, tiba-tiba
darahnya tersirap
karena didalam kamar
itu berdiri seorang
perempuan dengan
rambut yang panjang
terurai. Perempuan itu
sedang menyisir
rambutnya sambil
berdiri menghadap
cermin yang
tergantung pada
dinding kamar. Sesaat
kemudian perempuan
itu tiba-tiba
membalikkan
badannya dan
memandang lelaki itu
yang tegak
kebingungan di mulut
pintu kamar. Lelaki itu
menjadi sangat
terpesona karena
wajah perempuan
yang berdiri
dihadapannya luar
biasa cantiknya. Dia
belum pernah melihat
wanita secantik itu
meskipun dahulu dia
sudah jauh
mengembara ke
berbagai negeri.
Karena hari sudah
malam, perempuan
itu minta agar lampu
dinyalakan. Setelah
lelaki itu menyalakan
lampu, dia diajak
perempuan itu
menemaninya
kedapurkarena dia
hendak memasak nasi
untuk mereka. Sambil
menunggu nasi
masak, diceritakan
oleh perempuan itu
bahwa dia adalah
penjelmaan dari ikan
besar yang tadi
didapat lelaki itu ketika
memancing di sungai.
Kemudian
dijelaskannya pula
bahwa beberapa
keping uang emas
yang terletak di dapur
itu adalah penjelmaan
sisiknya. Setelah
beberapa minggu
perempuan itu
menyatakan bersedia
menerima lamarannya
dengan syarat lelakiitu
harus bersumpah
bahwa seumur
hidupnya dia tidak
akan pernah
mengungkit asal usul
istrinya myang
menjelma dari ikan.
Setelah lelaki itu
bersumpah demikian,
kawinlah mereka.
Setahun kemudian,
mereka dikaruniai
seorang anak laki-laki
yang mereka beri
nama Samosir. Anak
itu sngat dimanjakan
ibunya yang
mengakibatkan anak
itu bertabiat kurang
baik dan pemalas.
Setelah cukup besar,
anak itu disuruh
ibunya mengantar
nasi setiap hari untuk
ayahnya yang bekerja
di ladang. Namun,
sering dia menolak
mengerjakan tugas itu
sehingga terpaksa
ibunya yang
mengantarkan nasi ke
ladang.
Suatu hari, anak itu
disuruh ibunya lagi
mengantarkan nasi ke
ladang untuk ayahnya.
Mulanyadia menolak.
Akan tetapi, karena
terus dipaksa ibunya,
dengan kesl pergilah ia
mengantarkan nasi itu.
Ditengah jalan,
sebagian besar nasi
dan lauk pauknya dia
makan. Setibanya
diladang, sisa nasi itu
yang hanya tinggal
sedikit dia berikan
kepada ayahnya. Saat
menerimanya, si ayah
sudah merasa sangat
lapar karena nasinya
terlambat sekali
diantarkan. Oleh
karena itu, maka si
ayah jadi sangat
marah ketika melihat
nasi yang diberikan
kepadanya adalah
sisa-sisa. Amarahnya
makin bertambah
ketika anaknya
mengaku bahwa dia
yang memakan
sebagian besar dari
nasinya itu. Kesabaran
si ayah jadi hilang dan
dia pukul anaknya
sambil mengatakan:
“Anak kurang ajar.
Tidak tahu diuntung.
Betul-betul kau anak
keturunan perempuan
yang berasal dari
ikan!”
Sambil menangis,
anak itu berlari pulang
menemui ibunya di
rumah. Kepada ibunya
diamengadukan
bahwa dia dipukuli
ayahnya. Semua kata-
kata cercaan yang
diucapkan ayahnya
kepadanya di ceritakan
pula. Mendengar cerita
anaknya itu, si ibu
sedih sekali, terutama
karena suaminya
sudah melanggar
sumpahnya dengan
kata-kata cercaan yang
diaucapkan kepada
anaknya itu. Si ibu
menyuruh anaknya
agar segera pergi
mendaki bukit yang
terletak tidak begitu
jauh dari rumah
mereka dan memanjat
pohonkayu tertinggi
yang terdapat di
puncak bukit itu.
Tanpa bertanya lagi, si
anak segera
melakukan perintah
ibunya itu. Dia berlari-
lari menuju ke bukit
tersebut dan
mendakinya.
Ketika tampak oleh
sang ibu anaknya
sudah hampir sampai
ke puncak pohon kayu
yangdipanjatnya di
atas bukit , dia pun
berlari menuju sungai
yang tidak begitu jauh
letaknya dari rumah
mereka itu. Ketika dia
tiba di tepi sungai itu
kilat menyambar
disertai bunyi guruh
yang megelegar.
Sesaat kemudian dia
melompat ke dalam
sungai dan tiba-tiba
berubah menjadi
seekor ikan besar.
Pada saat yang sama,
sungai itu pun banjir
besar dan turun pula
hujan yang sangat
lebat. Beberapa waktu
kemudian, air sungai
itu sudah meluap
kemana-mana dan
tergenanglah lembah
tempat sungai itu
mengalir. Pak Toba tak
bisamenyelamatkan
dirinya, ia mati
tenggelam oleh
genangan air. Lama-
kelamaan, genangan
air itu semakin luas
dan berubah menjadi
danau yang sangat
besar yang di
kemudian hari
dinamakan orang
Danau Toba. Sedang
Pulau kecil di tengah-
tengahnya diberi
nama Pulau Samosir.

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: