Skip to content

CERITA ASAL MULA TELAGA WERABUR

Juni 6, 2011

Menurut cerita, dahulu
suku Wekaburi mendiami
kali sekitar Wekaburi,
penduduknya bermaksud
mengadakan pesta adat di
kampungnya. Untuk
maksud tersebut
sebelumnya mereka
harus menyediakan bahan
perlengkapan yang
dibutuhkan, antara lain
membangun rumah,
menyediakan makanan
dan lain sebagainya.
Hari penentuan
pelaksanaan pesta telah
tiba maka berdatanganlah
masyarakat dari suku
Kandami, Wettebosy,
Sakarnawari dan Torambi
yang mendiami daerah
Azas untuk merayakan
pesta yang dimaksud.
Para pengunjung dan
undangan dipersilakan
mengambil tempat dalam
rumah adat yang telah
dipersiapkan. Dari sekian
banyak orang itu, turut
hadir pula nenek tua
bersama cucunya yang
bernama ISOSI. Sang
nenek membawa pula
anjing kesayangannya ke
pesta tersebut. Acara
pesta sudah dimulai dan
berjalan dengan meriah
sekali. Sementara anjing
sang nenek sedang tidur
nyenyek di pinggir api
yang disediakan untuk
berdiang. Berhubung
banyak orang yang
menari-nari dan bersuka-
sukaan, maka terinjaklah
anjing kesayangannya.
Anjing itu menjerit-jerit
kesakitan.
Melihat peristiwa itu si
nenek sangat marah,
sebaba anjing
kesayangannya terinjak
oleh mereka. Dengan
demikian ia membawa
anjing itu ke dalam kamar
lalu diikatkan cawat ke
anjingnya. Setelah itu ia
keluar sambil memeluk
anjing itu serta menari-
nari dalam pesta.Sang
nenek tau bahwa
perbuatannya itu adalah
suatu pelanggaran. Karena
menurut nenek
moyangnya apabila
penduduk berbuat
demikian akan
mendatangkan
kilat,guntur dan hujan.
Oleh sebab itu ia cepat-
cepat mengambil puntung
api lalu disembunyikan
dalam seruas
bambu,supaya tidak
kelihatan oleh orang
banyak. Setelah itu ia
bergegas untuk keluar
sambil memanggil
cucunya supaya segera
mengikutinya. Mereka
mengikuti jalan tapak lalu
mendaki gunung
Ainumuwasa pada malam
itu juga.
Di antara sekian banyak
pemuda yang hadir dalam
pesta itu ada seorang
yang bernama ASYA.
Sewaktu Asya melihat
Isosi meninglkan ruangan
maka iapun segera
menyusul gadis
idamannya. Ketika mereka
berada di gunung
Ainumuwasi, dilihatnyan
keadaan cuaca alam
sudah mulai memburuk.
Tidak berapa lama disusul
dengan kilat, guntur dan
hujan di hulu kali
Wekaburi yang makin
lama makin hebat,
sehingga terjadilah banjir
dashyat.
Walaupun hujan lebat
namun keadaan pesta
semakin hangat dan
meriah sehinggah
terlupakan bahaya yang
sedang mengancam.
Banjirpun makin lama
semakin tinggi akhirnya
mencapai lantai rumah.
Para pengunjung kelam
kabut hendak mencari
jalan untuk meluputkan
diri dari bahaya tersebut.
Tetapi terlambat karena
banjir telah
menghanyutkan rumah
dan seluruh isinya ke
muara.
Keesokan harinya si
nenek, Isosi dan Asya
turun dari gunung untuk
melihat kejadian yang
telah terjadi semalam itu.
Setibanya di sana mereka
tidak melihat rumah adat
itu lagi. Orang- orangnya
telah mati dan menjelma
menjadi katak dan buaya.
Sekarang si nenek merasa
puas dengan
perbuatannya.
Untuk mengisi daerah
kosong itu maka atas
kebijaksaan si nenek, Isosi
cucunya dikawinkan
dengan Asya, setelah
kawin mereka
membangunun sebuah
rumah yang besar dan
panjang dan diberi nama
ANIOBIAROI. Dari
perkawinan Asya dan
Isosi lahir banyak anak
yang kemudian saling
kawin sehinggah rumah
itu makin lama penuh
sesak. Oleh sebab itu atas
kebijakan Asya
disambung rumah
aniobiroi itu dan diberi
nama MANUPAPAMI.
Tahun berganti tahun dan
rumah manupapami yang
diperkirakan dapat
menampung sekian
banyak orang itu, pada
akhirnya penuh sesak lagi.
Melihat keadaan itu maka
Asya mengambil
kebijaksanaan lagi untuk
menyambung rumah
aniobiroi kemudian diberi
nama YOBARI. Walaupun
rumah itu sudah dua kali
disambung, namun tetap
tetap, tidak dapat
menampung juga semua
orang yang berada di
Aniobiaroi, Manupapami
maupun Yobari.
Oleh sebab itu untuk
ketiga kalinya Asya
menyambung lagi
kemudian diberi nama
SONESYARI dan
KETARANA. Karena
rumah itu sudah berkali-
kali disambung menjadi
Manupapami, Yobari,
Sonesyari dan Ketarana,
namun tidak tertampung
juga semuanya. Akhirnya
bersepakatlah mereka
untuk memutuskan
sebagian penghuninya
keluar dari rumah- rumah
tersebut, kemudian pergi
mencari tempat tinggal
baru guna membangun
rumah bagi anggota-
anggotanya.
Dengan demikian dari
rumah Manupapami
keluarlah orang-orangnya
yang kemudian menjadi
WETTEBOSY. Dari rumah
Yobari keluarlah orang-
orang yang kemudian
menjadi suku WEKABURI.
Sedangkan dari rumah
Sonesyari dan Keterana
menjadi suku TOREMBI.
Tempat baru yang
didiaminya diberi nama
“WERABUR” yang artinya
kampung yang terletak di
atas air. Jadi kata WER
adalah asal dari nama
NEMBIWER yang berarti
air sehinggah orang-
oramg Nambi memberi
nama WERABUR.

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: