Skip to content

cerita abunawas dan pengemis

Juni 6, 2011

Ada seorang saudagar di
Bagdad yang mempunyai
sebuah kolam yang airnya
terkenal sangat dingin.
Konon tidak seorangpun
yang tahan berendam
didalamnya berlama-lama,
apalagi hingga separuh
malam.
“Siapa yang berani
berendam semalam di
kolamku, aku beri hadiah
sepuluh ringgit,” kata
saudagar itu. Ajakan
tersebut mengundang
banyak orang untuk
mencobanya. Namun
tidak ada yang tahan
semalam, paling lama
hanya mampu sampai
sepertiga malam.
Pada suatu hari datang
seorang pengemis
kepadanya.“Maukah
kamu berendam di dalam
kolamku ini semalam? Jika
kamu tahan aku beri
hadiah sepuluh ringgit,”
kata si saudagar.
“Baiklah akan kucoba,”
jawab si pengemis.
Kemudian dicelupkannya
kedua tangan dan kakinya
ke dalam kolam, memang
air kolam itu dingin sekali.
“Boleh juga,” katanya
kemudian.
“Kalau begitu nanti malam
kamu bisa berendam
disitu,” kata si saudagar.
Menanti datangnya malam
si pengemis pulang dulu
ingin memberi tahu anak
istrinya mengenai rencana
berendam di kolam itu.
“Istriku,” kata si pengemis
sesampainya di rumah.
“Bagaimana pendapatmu
bila aku berendam
semalam di kolam
saudagar itu untuk
mendapat uang sepuluh
ringgit? Kalau kamu setuju
aku akan mencobanya.”
“Setuju,” jawab si istri,
“Moga-moga Tuhan
menguatkan badanmu.”
Kemudian pengemis itu
kembali ke rumah
saudagar.“Nanti malam
jam delapan kamu boleh
masuk ke kolamku dan
boleh keluar jam enam
pagi,” kata si saudagar,
“Jika tahan akan ku bayar
upahmu.”
Setelah sampai waktunya
masuklah si pengemis ke
dalam kolam, hampir
tengah malam ia
kedinginan sampai tidak
tahan lagi dan ingin keluar,
tetapi karena mengharap
uang upah sepuluh
ringgit, ditahannya
maksud itu sekuat tenaga.
Ia kemudian berdoa
kepada Tuhan agar airnya
tidak terlalu dingin lagi.
Ternyata doanya
dikabulkan, ia tidak merasa
kedinginan lagi. Kira-kira
jam dua pagi anaknya
datang menyusul. Ia
khawatir jangan-jangan
bapaknya mati kedinginan.
Hatinya sangat gembira
ketika dilihat bapaknya
masih hidup. Kemudian ia
menyalakan api di tepi
kolam dan menunggu
sampai pagi.
Siang harinya pengemis
itu bangkit dari kolam dan
buru-buru menemui si
saudagar untuk minta
upahnya. Namun
saudagar itu menolak
membayar,“Aku tidak
mau membayar, karena
anakmu membuat api di
tepi kolam, kamu pasti
tidak kedinginan.”
Namun si pengemis tidak
mau kalah,“Panas api itu
tidak sampai ke badan
saya, selain apinya jauh,
saya kan berendam di air,
masakan api bisa masuk
ke dalam air?”
“Aku tetap tidak mau
membayar upahmu,” kata
saudagar itu ngotot.
“Sekarang terserah kamu,
mau melapor atau
berkelahi denganku, aku
tunggu.”
Dengan perasaan gondok
pengemis itu pulang ke
rumah,“Sudah kedinginan
setengah mati, tidak dapat
uang lagi,” pikirnya. Ia
kemudian mengadukan
penipuan itu kepada
seorang hakim. Boro-boro
pengaduannya di dengar,
Hakim itu malahan
membenarkan sikap sang
saudagar. Lantas ia
berusaha menemui
orang-orang besar lainnya
untuk diajak bicara,
namun ia tetap disalahkan
juga.
“Kemana lagi aku akan
mengadukan nasibku ini,”
kata si pengemis dengan
nada putus asa.“Ya Allah,
engkau jugalah yang tahu
nasib hamba-Mu ini,
mudah-mudahan tiap-tipa
orang yang benar engkau
menangkan.” Doanya
dalam hati.
Ia pun berjalan mengikuti
langkah kakinya dengan
perasaan yang semakin
dongkol. Dengan takdir
Allah ia bertemu dengan
Abu Nawas di sudut jalan.
“Hai, hamba Allah,” Tanya
Abu Nawas, ketika melihat
pengemis itu tampak
sangat sedih.“mengapa
anda kelihatan murung
sekali? Padahal udara
sedemikian cerah.”
“Memang benar hamba
sedang dirundung
malang,” kata si
pengemis, lantas
diceritakan musibah yang
menimpa si pengemis
sambil mengadukan
nasibnya.
“Jangan sedih lagi,” kata
Abu Nawas ringan.
“Insyaallah aku dapat
membantu menyelesaikan
masalahmu. Besok
datanglah ke rumahku dan
lihatlah caraku, niscaya
kamu menang dengan izin
Allah.”
“Terima kasih banyak,
anda bersedia
menolongku,” kata si
pengemis. Lantas
keduanya berpisah. Abu
Nawas tidak pulang ke
rumah, melainkan
menghadap Baginda
Sultan di Istana.“Apa
kabar, hai Abu Nawas?”
sapa Baginda Sultan begitu
melihat batang hidung
Abu Nawas.“Ada masalah
apa gerangan hari ini?”
“Kabar baik, ya Tuanku
Syah Alam,” jawab Abu
Nawas. “jika tidak
keberatan patik silahkan
baginda datang kerumah
patik, sebab patik punya
hajat.”
“Kapan aku mesti datang
ke rumahmu?” tanya
baginda Sultan.
“Hari Senin jam tujuh
pagi, tuanku,” jawa Abu
Nawas.
“Baiklah,” kata Sultan, aku
pasti datang ke
rumahmu.”
Begitu keluar dari Istana,
Abu Nawas langsung ke
rumah saudagar yang
punya kolam, kemudian
ke rumah tuan hakim dan
pembesar-pembesar
lainnya yang pernah
dihubungi oleh si
pengemis. Kepada mereka
Abu Nawas
menyampaikan undangan
untuk datang kerumahnya
senin depan.
Hari senin yang ditunggu,
sejak jam tujuh pagi
rumah Abu Nawas telah
penuh dengan tamu yang
diundang, termasuk
baginda Sultan. Mereka
duduk di permadani yang
sebelumnya telah di gelar
oleh tuan rumah sesuai
dengan pangkat dan
kedudukan masing-
masing. Setelah
semuanya terkumpul,
Abu Nawas mohon
kepada sultan untuk pergi
kebelakang rumah, ia
kemudian menggantung
sebuah periuk besar pada
sebuah pohon,
menjerangnya– menaruh
di atas api.
Tunggu punya tunggu,
Abu Nawas tidak tampak
batang hidungnya, maka
Sultan pun memanggil
Abu Nawas,“kemana
gerangan si Abu Nawas,
sudah masakkah nasinya
atau belum?” gerutu
Sultan.
Rupanya gerutuan Sultan
di dengar oleh Abu
Nawas, ia pun menjawab,
“Tunggulah sebentar lagi,
tuanku Syah Alam.”
Baginda pun diam, dan
duduk kembali. Namun
ketika matahari telah
sampai ke ubun-ubun,
ternyata Abu Nawas tak
juga muncul dihadapan
para tamu. Perut baginda
yang buncit itu telah
keroncongan.“Hai Abu
Nawas, bagaimana
dengan masakanmu itu?
Aku sudah lapar, kata
Baginda.
“Sebentar lagi, ya Syah
Alam,” sahut tuan rumah.
Baginda masih sabar, ia
kemudian duduk kembali,
tetapi ketika waktu dzuhur
sudah hampir habis tak
juga ada hidangan yang
keluar, baginda tak sabar
lagi, ia pun menyusul Abu
Nawas dibagian belakang
rumah, di ikuti tamu-tamu
lainnya. Mereka mau tahu
apa sesungguhnya yang
dikerjakan tuan rumah,
ternyata Abu Nawas
sedang mengipa-ngipas
api di tungkunya.
“Hai Abu Nawas,
mengapa kamu membuat
api di bawah pohon
seperti itu? Tanga baginda
Sultan.
Abu Nawas pun bangkit,
demi mendengar
pernyataan baginda. “Ya
tuanku Syah Alam, hamba
sedang memasak nasi,
sebentar lagi juga masak,”
jawabnya.
“Menanak nasi?” tanya
baginda, “Mana
periuknya?”
“Ada, tuanku,” jawab Abu
nawas sambil
mengangkat mukanya ke
atas.
“Ada?” tanya beginda
keheranan. “Mana?” ia
mendongakkan mukanya
ke atas mengikuti gerak
Abu Nawas, tampak di
atas sana sebuah periuk
besar bergantung jauh
dari tanah.
“Hai, Abu Nawas, sudah
gilakah kamu?” tanya
Sultan. “Memasak nasi
bukan begitu caranya,
periuk di atas pohon,
apinya di bawah, kamu
tunggu sepuluh hari pun
beras itu tidak bakalan jadi
nasi.”
“Begini, Baginda,” Abu
Nawas berusaha
menjelaskan
perbuatannya.“Ada
seorang pengemis berjanji
dengan seorang saudagar,
pengemis itu disuruh
berendam dalam kolam
yang airnya sangat dingin
dan akan diupah sepuluh
ringgit jika mampu
bertahan satu malam. Si
pengemis setuju karena
mengharap upah sepuluh
ringgit dan berhasil
melaksanakan janjinya.
Tapi si saudagar tidak mau
membayar, dengan alasan
anak si pengemis
membuat api di pinggir
kolam.” Lalu semuanya
diceritakan kepada Sultan
lengkap dengan sikap tuan
hakim dan para pembesar
yang membenarkan sikap
si saudagar.“Itulah
sebabnya patik berbuat
seperti ini.”
“Boro-boro nasi itu akan
matang,” kata Sultan,
“Airnya saja tidak bakal
panas, karena apinya
terlalu jauh.”
“Demikian pula halnya si
pengemis,” kata Abu
Nawas lagi. “Ia di dalam
air dan anaknya membuat
api di tanah jauh dari
pinggir kolam. Tetapi
saudagar itu mengatakan
bahwa si pengemis tidak
berendam di air karena
ada api di pinggir kolam,
sehingga air kolam jadi
hangat.”
Saudagar itu pucat
mukanya. Ia tidak dapat
membantah kata-kata Abu
Nawas. Begitu pula para
pembesar itu, karena
memang demikian halnya.
“Sekarang aku ambil
keputusan begini,” kata
Sultan. “Saudagar itu
harus membayar si
pengemis seratus dirham
dan di hukum selama satu
bulan karena telah berbuat
salah kepada orang
miskin. Hakim dan orang-
orang pembesar di
hukum empat hari karena
berbuat tidak adil dan
menyalahkan orang yang
benar.”
Saat itu juga si pengemis
memperoleh uangnya dari
si saudagar. Setelah
menyampaikan hormat
kepada Sultan dan
memberi salam kepada
Abu Nawas, ia pun pulang
dengan riangnya. Sultan
kemudian memerintah
mentrinya untuk
memenjarakan saudagar
dan para pembesar
sebelum akhirnya kembali
ke Istana dalam keadaan
lapar dan dahaga.
Akan halnya Abu Nawas,
ia pun sebenarnya
perutnya keroncongan
dan kehausan.

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: