Skip to content

hot gay

November 10, 2011

Pada suatu hari *jiaah kaya ngedongeng aja hehe* gak
jadi, emm di suatu kota bernama Bandung, baru saja
terbentuk suatu boy band yang bernama De’javu dan
para personilnya bernama Putra, Randy, Nanda, Sam,
Vicky dan Andy. sudah seminggu para member tinggal satu asrama dan
masih dalam proses saling mengenal karena mereka di
audisi sebuah perusahaan musik jadi belum saling
mengenal satu sama lain. Mari kita lihat kondisi asrama. Terlihat di hari minggu yang panasnya semakin terik ini,
Randy, Nanda, Sam, Vicky dan Putra sedang mengobrol
di depan teras. Rupanya mereka berniat hangout untuk
menikmati hari libur, tapi karena panasnya cuaca yang
memang lagi musim panas ini, Putra jadi malas keluar
buat jalan, dia memilih istirahat, sama halnya dengan Andi, dia lebih memilih berguling-guling di ruangan berAC
dari pada menghabiskan tenaga diluar. Putra melambaikan tangannya dan tersenyum pada
teman-temannya yang sudah mulai menaiki mobil dan
melaju kencang. Oiya mari saya perkenalkan, ini Putra,
leader dan member paling senior di grub de’javu, umur
25 tahun, postur tubuh sedang namun padat dengan
otot yang kencang, tinggi 178, kulitnya coklat namun bening dengan senyuman menawan dan berwibawa. Sekarang, mari kita lihat kondisi Andi, apakah masih
berguling-guling ria di kamarnya? ‘Eeenghhh…. Aaaaaahh…. Ooooooohhh….’ Terdengar
desahan suara gadis dari hp yang Andi genggam, tentu
kalian tau dia sedang apa? Kondisi yang sepi Andi
manfaatkan untuk menonton bluefilm dan bermain-main
dengan ‘juniornya’. Hmmm… si bungsu satu ini walaupun memiliki angel face
dan masih muda tapi sangatlah mesum hohoho… mari
perkenalkan Andi, umur 18 tahun, keturunan cina jadi
mukanya imut-imut gimana gitu, selalu sopan dan
menurut pada seniornya, dan semua member sangat
menyayangi dia. “Panas banget sih… jadi sange ga jelas ‘kan,” gerutu
Andi sambil memeluk guling erat dan terus menatap layar
hpnya. Andi menciumi gulingnya penuh nafsu dan meremas-
remas penisnya dari balik celananya, tapi tiba-tiba… KREEEAKK… “Loh.. dede ngapain?” Tanya putra yang mendadak
membuka pintu kamar Andi. “Yaampun… kaka, kok gak ngetuk pintu dulu?” teriak
Andi dengan wajah yang sangat shock. “Maaf, lupa de. Hayoo lagi ngapain nih??” goda Putra
dengan senyuman iseng. “Ughh… mau tau saja!” Andi langsung menarik
selimutnya. Putra semakin iseng saja denga tiduran di samping Andi,
“Kaka liat kok de, masa coli gak ngajak-ngajak sih
de?” kata Putra sambil menarik selimut Andi. “Ih.. kaka, aku kan malu masa begituan saja harus
rame-rame?” “Gapapalah dede, kan kebersamaan namanya biar
hubungan tim kita makin erat,” kata Putra dengan
gemasnya menarik pipi Andi. “Iya kaka…” “Kaka bantuin pijet ya, de?” kata Putra sambil
memijat-mijat penis Andi yang sudah mengeras dari dari. “Akh… jangan ka, aku malu di pegang-pengang orang
lain,” kata Andi sambil menepis tangan Putra. “Bohong nih dede, padahal sering tuh dimainin
ceweknya, atau jangan-jangan sudah sering ‘ehem’
nih,” kata Putra sambil membentuk tanda kutib dengan
jari-jarinya. “Aaah… kaka ini…” kata Andi sambil memonyong-
monyongkan bibirnya. “ Makin imut saja nih si dede, hahaha… udah ya, dede
rileks aja jangan takut, mumpung dorm lagi sepi kita
senang-senang ya de?” Tanya Putra dan kembali
meremas-remas penis Andi. “Ughhh… ngikut apa kata kaka sajalah,” balas Andi
dengan pasrah, Putra pun tersenyum dengan lebarnya. “Buka semua pakaiannya ya de, biar leluasa,” kata
Putra sambil melucuti celana Andi. Dengan cekatan Putra mengocok penis Andi sehingga
membuat Andi mengeluarkan desahan-desahan
menggoda, “Ahhhh… ka, uuuuughh… enak banget ka,
teruskan aaaaahhh…” “Hehehehe dede keenakan rupanya,” kemudian Putra
memasukkan penis Andi kedalam mulutnya, lagi-lagi Andi
tersontak kaget dan menarik tubuhnya menjauh dari
wajah Putra. “Ka-kaka ngapain? Jangan sejauh ini… aku risih,” kata
Andi dengan wajah ketakutan. Putra merangkul bahu Andi dengan lembut, “Dede
jangan takut gitu dong, nyantai aja ya, nanti kaka kasih
kepuasan deh, dijamin dede tepar, yaaa.. dede mau
kan?” “Errr… ka…” kata Andi sambil menggigit bibir
bawahnya. Rupanya dia mulai menyadari ada
kejanggalan dari kakaknya ini. “Iya de?? Hm…” Putra mengecup pelan bibir Andi. Andi berusaha mendorong tubuh putra dengan hati-hati,
“Maaf ka, aku normal, aku ga berani bertindak lebih…” Tanpa memperdulikan Andi, Putra terus mengecup bibir
Andi dengan liar, Andi yang tadinya berontak terpaksa
pasrah juga karena tidak sanggup menahan kekuatan
seniornya yang lebih hebat. “Dede, maafin kaka, kaka gak tahan lagi,” ciuman
Putra berpindah ke leher Andi, dijilat, dan kadang
gigitnya perlahan leher jenjang Andi. “Enghhhh… aaaahhhh…. O-ooooohhh…. Geli ka…” “Tuh kan.. dede malah menikmatinya.. udah dede
jangan takut, ayo kita bermain sampai puas,” katanya
yang menjilati kuping Andi. “Ughhhh… ahhh… ka…” Andi memeluk erat pinggang
Putra. Ciumannya kembali turun keleher Andi kemudian turun
ke dada Andi, dia jilat dan Hisap puting dada Andi
dengan gemas sehingga membuat Andi tidak bisa
menahan erangan, “Aaaakhh… uuuuhhh…
oooooohhh… kaka, geli aaaahk… makin sange rasanya…
ughh.. kaka nih gak adil nih, masa Cuma aku yang telanjang? Kaka juga dong!” “Hahahaha si dede udah berani nuntut ya… nih kaka
buka,” katanya sambil melucuti pakaiannya, mata Andi
sedikit terbelalak melihat begitu indahnya lekuk tubuh
Putra, seperti sebuah karya seni. “Badan kaka bagus sekali, aku jadi iri kurus banget nih
badanku.” “Nanti juga badan dede bagus, emm gak kurus kok,
badan dede sedang dan sangat nikmat untuk dijilati,”
katanya kemudian menjilati perut Andi dan memainkan
lidahnya di pusar Andi. “Aaaaah… enak ka… enghhhhh… uuuuuh….” “De, kita ambil posisi 69 yuk!” “Emmmh… iya.. aku nurut apa kata kaka saja,” kata
Andi, dengan segera dia ubah posisinya seperti yang
direncanakan, Andi kini mulai berani bertindak extrim,
mungkin terbawa hawa nafsu yang semakin tinggi, Andi
mengocok penis putra dan menghidap bola-bola milik
seniornya tersebut. Putra hanya terseyum senang melihat partnernya sudah
mulai aktif, dia juga tidak mau kalah, dia hisap penis Andi
kuat-kuat dan meremas-remas bola Andi, kadang juga
dia masukkan jari tengahnya ke lubang anus Andi, dan
Andi sedikit menggerang disela-sela aktifitasnya. Tak lama kemudian, setelah puas saling isap Putra
mempercepat kocokannya pada penis Andi dan Andi pun
tidak bisa menahan lagi… CROOTTT… CROOOTTT…
CROOT… “Oooooooohhh… aaaakhhhhhh….” Erangan Andi
semakin kencang dan Andi juga berniat melakukan hal
yang sama pada penis Putra, tapi sempat Putra cegah. “Jangan dulu de, belum waktunya permainan kita
berakhir,” katanya sambil mengecup bibir Andi lagi. “Kenapa sih ka?? Kan belum adil.” “Tunggu sebentar ya de,” Putra mengambil pelicin
yang kemudian ia gunakan pada tangan dan penisnya,
Andi sedikit menelan air liurnya melihat pemandangan
yang begitu nikmat, musim panas ini membuat orang-
orang cepat berkeringat dan lelehan keringat di tubuh
sexy Putra membuatnya semakin menggiurkan. “Maaf ya de,” dia buka lebar paha Andi dan
masukkannya jari satu persatu dalam lubang Andi dan
sukses membuat Andi berteriak sejadi-jadinya. “Argghhhh…. Aaaaaaaahhhh… sakitt.. hikh..” erang
Andi. “Sabar ya saying, ini belum seberapa,” tanpa
memikirkan rasa takut Andi karna menurutnya lubang
Andi sudah siap dijamah, dia masukkan penisnya yang
masih keras itu ke dalam lubang sempit Andi. “Akkkkhhhh… Ooooohhh…. Aaaaaah… Ah.. hikh…”
erangan Andi disertai tangisan menggema di ruangan itu. ‘’Sabar ya dede sayang ngeeehhh… oooohh…”
Putra mulai menggerakkan pinggulnya maju mundur, dia
hisap juga puting dada Andi untuk memberikan
rangsangan lagi, dia kocok juga penis Andi yang sempat
lemas namun kini tegang lagi. “Sakiiittt… oooooohh… aaaaaahhh..” Andi memeluk
erat pinggul Putra. “dede, udah mau keluar aahhhh…” Putra
mempercepat enjotannya dan remasan tangannya pada
penis Andi CROOTT… CROOOTTT.. CROOTT… Tubuh mereka berdua menjadi basah bermandikan
sperma saat mereka klimaks secara bersamaan. “Maaf ya dede, kamu jangan nangis lagi dong,” kata
Putra sambil mengecuk kelopak mata Andi yang
berlinang air mata. “Sakit banget di bawah situ ka.” “Sabar ya de, nanti juga hilang dan lama kelamaan akan
enak.” “Hikh…” “Maaf ya de, kaka janji akan bahagiakan dede asal dede
nurut terus sama kaka.” Andi menatap Putra seolah minta belas kasihan dan Putra
mengecup kening Andi, “Kaka… aku saying kaka,”
kata Andi tanpa terduga. “Iya de, kaka juga saying banget sama dede,” Putra
langsung memeluk kepala Andi dan mereka tertidur.

No comments yet

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: