Lanjut ke konten

cerita anak kembar SMP gay

November 10, 2011

Namaku Abby, seorang murid di salah satu SMA di
ibukota, aku gay dan kali ini ingin mencoba menulis sebuah cerita, sebelumnya
kalian perlu tahu cerita yang aku tulis ini adalah fiksi, namun karakter
di dalamnya berdasarkan orang-orang yang ada di
sekitarku, please enjoy. Saat itu hari Kamis, pelajaran pertama di sekolah adalah
Penjaskes, aku sangat menantikan pelajaran ini, karena setiap habis
olahraga, aku selalu mendapat kesempatan melihat tubuh padat berisi
dan berkeringat milik teman-temanku, ada beberapa yang menarik
perhatianku. Yang pertama ada Aldo, seorang aktivis pramuka di sekolahku,
aku paling suka melihat dia memakai seragam pramuka, terlihat
gagah. Ada pula Tommy, anak taekwondo yang tegap dan selalu tampil
menawan. Dan yang terakhir, dan juga satu dari dua tokoh sentral cerita ini,
Dino, sahabatku dari kecil, dia mempunyai kakak kembar
bernama Doni yang aktif di ekskul pramuka, sedangkan Dino mengikuti
ekskul basket, tubuh mereka tinggi & gagah, mereka sangat gemar
berolahraga, tidak hanya itu mereka juga cerdas dalam bidang akademik, tidak
heran kalau mereka jadi incaran cewek-cewek di sekolah, namun sayangnya
(atau untungnya) mereka hanya tertarik pada laki-laki. Aku sudah
mengetahuinya sejak saat kami kelas 7 SMP. -Flashback- Awal Semester genap tahun 2006, Waktu itu sepulang
sekolah aku datang ke rumah mereka, setelah ijin masuk pada tante Mira(ibu
Doni & Dino) aku segera bergegas ke kamar mereka di lantai atas. Aku
sangat tersentak saat membuka pintu kamarnya, karena kulihat
mereka berdua bergulat dengan masih memakai seragam sekolah
mereka, namun resleting celana dan kancing baju atas mereka sudah terbuka. Aku
terangsang melihat mereka, lalu aku masuk dan menonton
pergulatan mereka, mereka menyadari kedatanganku tapi mereka sama sekali tidak
menghentikan aktivitas yang mereka lakukan. Adegan pergulatan itu
berlangsung selama kira-kira 10 menit, lalu mereka mengakhiri
pergulatan dan melepas celana pendek masing-masing, mereka saling
mengisap kejantanan satu sama lain, keberadaanku sama sekali tak dianggap
saat itu, sedangkan kontolku yang masih terbalut celana seragam
ini sudah mulai menegang, mungkin juga sudah mengeluarkan precum.
Beberapa saat kemudian, kedua manusia kembar di hadapanku itu
saling mengerang. “ini bagian terbaiknya” ucapku dalam hati.Tidak lama,
mereka berdua orgasme secara bersamaan, aku dapat mengetahuinya dengan
melihat ekspresi mereka, wajah yang memerah dengan keringat yang
bercucuran.Salah satu dari mereka, Doni, bangkit dan mengubah posisinya,
sekilas dia melihatku dan tersenyum mesum, kini keduanya
berpelukan dan berciuman. Seragam sekolah mereka basah oleh keringat, membuat
tubuh mereka yang gempal tampak menggiurkan, memang pada saat itu
tubuh mereka masih sedikit gemuk dan belum terbentuk karena mereka baru
rutin membentuknya pada saat tahun pertama di SMA.Setelah
bercumbu selama beberapa menit, mereka melepas seragam mereka yang
basah dan menggantinya dengan t-shirt dan boxer, disaat inilah aku
dapat melihat batang kontol mereka tanpa penghalang dan secara
reflek aku menggumam “Wow..” bagaimana tidak, kedua batang itu besar dan
panjang untuk ukuran anak kelas 7, ujung kontolnya tampak merah
mengkilap karena baru saja digunakan dalam pertempuran, pandanganku
terpaku pada kedua kontol itu untuk beberapa saat, hingga Dino
menyadarkanku. “woy By, elu terpesona amat kayaknya” “baru liat kali ini ya By?” Doni menambahi. “eh, iya hehe, jadi kalian gay?” tanyaku dengan
terbata. “yah, begitulah. Lo sekarang ngerti aslinya gue sama
adek gue kan..” Doni menjawab. Lalu tiba2 Dino memotong “eh kak, lo
liat deh tuh celananya si Abby. Lo terangsang juga by? Hahaha” “wah, dugaan kita selama ini bener ternyata” tambah
Doni. “hah, maksud lo apaan Don?” aku kaget mendengar
kata2 Doni. “yah, ni anak belaga bego, kita udah tau semua foto-
video Zeb Atlas sama Vince Ferelli di hape lo” kata Dino. “….” aku hanya terdiam mendengar Dino
menyebutkan nama-nama aktor itu. “ga usah takut gitu lah, kita berdua jadi kaya gini juga
gara-gara liat koleksi lo By, 2 minggu yg lalu si Doni ngeliatin ke
gue koleksi lo, trus kita nyoba deh di rumah, ternyata seru. Jadi kita
mau ucapin terimakasih ke elo By” “tapi itu folder kan kekunci semua di hape gue, gimana
bisa…” “ah itu mah masalah kecil By kalo buat gue” kata Doni
sambil nyengir. Aku sadar bahwa Doni lumayan ahli dalam hal hacking,
buktinya file2 porno yg protected di hapeku dapat dengan mudahnya
dibuka. Dino beranjak dari peraduannya dan menuju kamar
mandi, pada saat itu aku sempatkan sedikit ngobrol dengan Doni… “kalo lo udah tau gue gay, kenapa ga ngajak kalo ada
acara begini, pasti udah beberapa kali kan?” tanyaku dengan nada
bercanda. “hah? oh sori By, tapi….. gue sama Dino udah sepakat
ga bakal ngefuck ato difuck ama orang lain selain kita berdua”
jawab Doni dengan nada datar. “oh gitu, oke gue paham kok” balasku, memang
sedikit kecewa, tapi aku menghargai prinsip mereka berdua, itu artinya mereka
benar-benar ‘bermain aman’ dengan tidak berhubungan badan
dengan orang luar dan tentunya mencegah penularan penyakit kelamin.- Usai pelajaran olahraga, di kamar mandi sekolah. Tepukan
tangan Dino di pundakku membuyarkan lamunanku akan memori 5
tahun yang lalu itu.”Napa lo ngelamun? kesambet tau rasa…” “Eh, elo Din, gue tiba-tiba keinget waktu gue pertama
kali nonton Live Show lo sama kakak lo” kataku sedikit berbisik. “hmmm, itu kan udah lama, waktu kita kelas 1 SMP kan
yak?-” Dino sedikit melirik selangkanganku sebelum melanjutkan
kalimatnya, “-yaelah, inget gitu aja ngaceng By” katanya sambil
tertawa kecil. Saat itu suasana kamar mandi sudah sangat sepi, hanya
ada aku dan Dino, dua makhluk pencinta sesama jenis. Setelah selesai
ganti seragam, aku memutuskan untuk menunggu Dino sambil
sesekali mengelus-elus tonjolan di celanaku yang tegang karena
mengingat hal itu. Dino yang melihat aksiku langsung menarik tanganku
dan memasukkanku ke dalam salah satu bilik kamar mandi,
sebelumnya dia telah mengunci pintu masuk kamar mandi. “Daripada maen sendiri–” kata Dino sambil melepas
seragam olahraganya, “–mendingan bareng-bareng.” lanjutnya
seraya melepas celana, dan voila, dia tidak memakai celana dalam! kini di
depanku terlihat sebuah tubuh yang amat menggiurkan, otot-
ototnya menggelembung dan aku suka itu. “Lo gak pake CD Din? Berani amat lo, kalo ketauan
temen gimana?” tanyaku heran. “Ga masalah dong, emang kenapa? Malu gitu? Punya
kontol gede gini ngapain malu?” “Boleh gue isep?” “Emang tujuan gue ngajak lo kesini buat apa By?”
jawabnya sambil mencium bibirku. Aku tidak mau kalah, aku balas
ciumannya sambil tanganku menggerayangi putting susunya, kupilin dan
kutarik hingga dia mengeluarkan erangan-erangan kenikmatan. Dia
mengakhiri ciuman dan segera melucuti seragam bagian atasku, “badan lo
bagus juga kok By, ga beda jauh dari kita (Dino & Doni).” katanya sambil
mengelus perutku, lalu tangannya naik ke dadaku, menemukan
putting susuku dan menjilatinya, aku serasa disetrum saking nikmatnya,
puting susu memang area paling sensitif setelah kontol, sedikit rangsangan
akan membuat pemiliknya bergairah, bahkan ada orang yang langsung
memuncratkan sperma saat dirangsang putingnya. Dengan kenikmatan seperti itu, aku tidak bisa menahan
untuk tidak mengerang, kukerahkan seluruh eranganku sambil
memanggil-manggil nama Dino disertai berbagai kalimat erotis. “Dinooo… ahhh, enak banget Din…. lo jago Din….
ahhhh, emutin kontol gue Din… ahhh.” Dino segera berlutut
dihadapanku, dengan semangat menjilat seluruh batang kontolku, saat
lidahnya menyapu bagian kepala penisku, aku menggelinjang dengan kuat
dan aku tidak tahan lagi untuk segera menikmati hisapannya..
“buruan Din…. ahhh.. isep kontol guehh….” Dino segera mengikuti keinginanku, seluruh batangku
dilumatnya, sesekali dibiarkan terdiam di dalam mulutnya, dan
gantian aku yang menyodok-nyodok mulutnya, tak lama kemudian tibalah
saat aku ngecrot, “Din…. ohhh…. gue mau ke… keluar… ahhh….”
kupancarkan spermaku ke dalam mulut Dino dan dia meminum
semuanya, kontolku kukeluarkan dari mulutnya, masih ada sedikit
ketegangan pada kontolku. “lo belom ngecrot Din… hosh… hosh… gue kocokin
yah?” kataku dengan terengah-engah. “boleh By, dengan senang hati” balasnya sambil
tersenyum mesum. Saat kugenggam kontolnya, aku baru sadar kalau
kontolnya sedikit lebih besar daripada punyaku, urat-uratnya terasa lebih keras,
satu kesan yang muncul : PERKASA! Aku mengurut kontolku untuk mengeluarkan sisa
spermaku dan menggunakannya sebagai pelumas untuk mengocok
kontol Dino. Kulumuri kontolnya, lalu kukocok dengan penuh semangat,
kulihat lubang kencingnya membuka dan menutup seirama dengan
gerakan kocokanku, kepala kontol Dino seakan mengundangku untuk
melumatnya, maka tanpa pikir panjang aku langsung melahap kontol itu,
kurasakan urat-uratnya menyentuh lidah dan dinding atas mulutku, cukup lama
aku mengoral kontolnya, setelah 10 menit terlewat aku merasa mulutku
mulai pegal, namun terus aku oral hingga beberapa saat kemudian
diapun memuncratkan cairan kejantanannya, untuk pertama kalinya aku
menelan sperma orang lain, rasanya sedikit berbeda dari milikku sendiri, sperma
milik Dino terasa lebih gurih. Kami segera membersihkan diri dari sesuatu yang
mungkin dapat menimbulkan kecurigaan, kulihat jam tanganku, ternyata
kami telah bermain selama 35 menit, jelas tidak memungkinkan bagi
kami untuk masuk kelas di tengah jam pelajaran yang sedang
berjalan, maka aku dan Dino sepakat untuk masuk kelas 10 menit kemudian. 10 menit berlalu, dan bel pergantian jam pun berbunyi,
Dino membuka pintu kamar mandi dan… “Eh… kak, kak Doni” kata Dino terbata-bata. “Abis ngapain aja lo sama Abby?” tanya Doni dengan
nada rendah, sepertinya dia sedikit marah. “Don, jangan salahin Dino, dia ga sepenuhnya salah”
aku mencoba meyakinkan Doni, jika nantinya ini menjadi masalah,
otomatis aku juga harus terlibat. “Lo masuk kelas aja By, gue ga ada urusan sama lo”
Doni memintaku untuk pergi, walaupun dia mencoba mengubah
intonasinya, namun tetap saja terdengar nada kemarahan di kata-katanya. “Bener By, mending lo ke kelas duluan aja” kata Dino
meyakinkan aku. Akhirnya aku memutuskan untuk keluar, kututup pintu
kamar mandi dan aku mencoba mengintip dari lubang kunci di pintu kamar
mandi itu mencoba mencari tahu apa yang dibicarakan Doni kepada
adiknya. “Lo gak inget komitmen kita dulu? Lo udah kelewatan,
kita ga ngerti orang lain punya penyakit apa di dalemnya” kata Doni. “Tapi Abby itu gue yakin ga punya penyakit, kita tau
sendiri dia orangnya kaya gimana-” bantah Dino, “-dan soal
komitmen, gue rasa kalo lo di pihak gue juga ga bakal nolak.” “Eh udah mulai kurang ajar ya? Gue ini kakak lo” “Emang kalo kakak jadi bisa ngatur hidup adiknya,
hah? Gue juga punya hidup sendiri, dan- “ BUKKKK! Terdengar suara pukulan, dan kulihat Dino
mundur beberapa langkah dari tempatnya berdiri, sepertinya Dino cukup
menghormati kakaknya itu, terbukti dia tidak membalas pukulan Doni.
Aku tidak pernah membayangkan hal seburuk ini, selama ini
mereka penuh dengan keceriaan, yah walaupun keceriaan cenderung muncul
dari Dino, sedangkan Doni lebih pendiam. Namun sekarang semua
itu seakan sirna. “Pulang sekolah temuin gue disini, gausah ajak Abby,
dia gak ada sangkut pautnya” ujar Doni sambil berlalu dan
membuka pintu. Aku terkejut dan segera berjalan menjauhi kamar mandi itu,
belum sempat menjauh, aku sudah tertabrak oleh Doni yang berjalan
dengan tergesa. “Lo gausah ikut campur!” gertak Doni padaku sambil
berlalu ke kelasnya. Aku menatap matanya dan sangat kaget
melihat aura kemarahan Doni saat itu. Kuhampiri Dino di kamar mandi, dia masih membersihkan
bibirnya yang berdarah. “Lo gak apa-apa Din?” tanyaku. “Gapapa, udah kita harus cepet-cepet ke kelas, keburu
gurunya dateng, ini kan jam Matematika.” katanya sambil meringis
menahan perih. Lalu kami kembali ke kelas, syukurlah guru Matematika belum
datang. “Lo kenapa Din? itu mulut kenapa berdarah?” tanya
Mirza, teman sekelasku. “Tadi abis kepleset di kamar mandi, muka gue kena
kran” jawab Dino berbohong. “Udah ke UKS?” “Ini juga gue telat masuk gara-gara ke UKS duluan tadi,
ditemenin Abby.” Pelajaran demi pelajaran tidak terasa berlalu, bel sekolah
pun berbunyi, satu persatu murid meninggalkan sekolah,
hingga akhirnya yang tersisa hanya aku dan Dino. “Lo gak pulang By?” tanya Dino kepadaku. “Gue kan mau nemenin lo ketemu Doni, gimanapun
juga, gue terlibat di masalah ini” kataku sambil menepuk pundaknya. “Lo mending pulang aja deh By, Doni sendiri kan yang
bilang kalo lo ga perlu ikut campur” “Gimana kalo lo ntar ditonjok lagi kayak tadi pagi?
yang salah tuh bukan lo doang, gue juga. Minimal kalo ntar di kamar
mandi kalian berantem kan gue bisa jadi penengah.” timpalku. “Terserah lo deh By.” Kami berjalan menyusuri lorong-lorong sekolah, ruang
demi ruang, semuanya kosong, perhatianku beralih pada sekumpulan
anak-anak taekwondo yang sedang berlatih di lapangan, melakukan
gerakan-gerakan yang aku sendiri tak tahu istilahnya sambil terpapar sinar
matahari senja, keringat bercucuran di wajah dan leher mereka. Akhirnya kami sampai di kamar mandi, Dino membuka
pintu kamar mandi, aku mengikuti di belakangnya, ternyata di dalam sana
sudah ada Doni, berpakaian seragam olahraga, aku baru ingat kalau kelas
Doni mendapat jadwal pelajaran olahraga di hari Kamis jam terakhir,
sungguh kejam mereka yang memberi jadwal olahraga di bawah terik
matahari. Untuk sesaat aku terkesima melihat tubuhnya yang terbalut
seragam basah berkeringat itu, sebelum akhirnya aku kaget saat
dibentak Doni. “Ngapain lo ikut campur, hah?” “Gue ga peduli lo marah ato apa Don, yang pasti kita
bertiga udah sahabatan dari SD, lo harusnya tau dong, ini bukan
masalah sepele, sebagai sahabat kalian, gue juga punya andil disini.”
kataku. “Cih, gue ga peduli-” kata Doni dan dia mengalihkan
pandangannya ke Dino “Pake baju olahraga lo, cepet!” Dino pun bergegas mengganti seragamnya dengan kaos
olahraga, begitu pula dengan celananya. Aku sedikit heran, kenapa Doni
menyuruh saudaranya mengganti baju hanya untuk sekedar
berbicara. Kini keduanya berhadapan sama-sama mengenakan
seragam olahraga, aku yang pada dasarnya fetish dengan seragam ini langsung
terangsang melihat penampilan sepasang anak kembar itu, ditambah
aroma tubuh mereka memenuhi kamar mandi yang tertutup ini.
Keduanya saling mendekat, dan berciuman, hey, apa maksudnya ini?
Kenapa tiba-tiba mereka berciuman disaat seperti ini? Bibir mereka saling
berpagutan. Tangan Dino masuk ke dalam baju olahraga Doni dan
menjelajah dada kakaknya itu, sedangkan tangan Doni meremas-remas
lengan adiknya yang berotot itu. Penis keduanya saling bergesekan walaupun
masih dibalut celana olahraga yang tipis. Mereka benar-benar bersatu
dalam aktivitas itu. Dan aku, walaupun heran dengan keadaan ini, tapi
aku sangat menikmatinya, aku merogoh kontolku dan mengelus-
elusnya. Sebenarnya pemandangan ini tidak jauh berbeda dari pemandangan 5
tahun yang lalu, bedanya adalah kalau dulu mereka masih gemuk,
sekarang mereka telah tumbuh menjadi 2 remaja yang gagah perkasa. Aku mengambil ponselku dan mengambil gambar,
kebetulan mereka tidak keberatan, setelah memotret beberapa kali, aku berpikir
untuk merekam aktivitas mereka. Mulailah aku merekam adegan demi
adegan. Kini mereka berdua sedikit memelorotkan celana dan mengeluarkan
penis masing-masing, aku senang mereka tidak melepas celana. Doni meminta Dino untuk mengoralnya, Dino pun
menurut, dia jongkok dan segera mengulum kontol kakaknya, aku baru sadar kalau
kontol Doni sama persis dengan milik Dino, panjang, warna dan
ketebalannya benar-benar sama, tidak terkecuali urat-uratnya yang menonjol, Dino
terlihat amat menikmati kontol milik kakaknya. Setelah beberapa
menit Doni mengeluarkan kontolnya dari mulut Dino, kupikir dia
akan memuncratkan spermanya, ternyata bukan, dia ingin membobol pantat
Dino. Dino memposisikan dirinya di depan wastafel,
menggunakannya untuk bertopang, dari cermin wastafel itu dia melihat kakaknya
sedang memelorotkan celana dan melumuri pantatnya dengan
ludah. Merasa ludahnya tidak cukup melicinkan, Doni mulai
melakukan rimming, dia menjilati lubang Dino dan setelah cukup licin dia
mencoba memasukkan dua jarinya sekaligus dan masuk dengan
mudah, kurasa Dino sudah beberapa kali menikmati sodokan kakaknya itu. “Gimana Din?” tanya Doni. “Udah cukup kak, ahh…” jawab Dino sambil
mendesah. Mendengar ucapan itu, Doni langsung mengambil ancang-ancang untuk
menghujamkan kontolnya, percobaan pertama Doni masih mengalami
kesulitan, hanya sedikit bagian kepala kontolnya yang dapat masuk, lalu
percobaan kedua, Doni menghujamkan kontolnya secara kasar dan
tiba-tiba, membuat Dino berteriak karena kesakitan, keringat mengucur di
keningnya, turun ke dagu dan jatuh ke permukaan kaos olahraganya,
membuat kaos itu semakin basah kuyup, rasanya aku ingin melepas kaos
mereka, memeras dan meminum peluh segar kedua anak kembar ini, namun
aku sudah cukup senang dengan pemandangan seperti ini, jadi
kuurungkan niatku tadi. Kontol Doni sudah berhasil menembus lubang pantat
Dino, dan membiarkannya sesaat agar Dino dapat beradaptasi. “Udah enakan sayang?” tanya Doni pada Dino. “Udah kak, pompain aja.. ssshh” jawab Dino sambil
mendesis. Mendengar jawaban Dino, Doni memulai genjotannya
dengan perlahan, dia melakukannya dengan sangat gentle, tidak ingin adiknya
merasa tersakiti oleh kontol supernya itu. Merasa tidak nyaman
dengan permainan pelan itu, Dino protes ke kakaknya. “mana tenaganya kak? Banci ah!” kata Dino sambil
memandang kakaknya lewat cermin wastafel. “Oke, jangan nyesel kalo lubangmu sobek ya” balas
Doni sambil meraba dada adiknya, lalu merangkulnya dari belakang. Doni
mulai mempercepat sodokannya, kini dia berubah dari berhati-hati menjadi
tidak peduli akan perih yang diterima adiknya. Dalam pelukan
kakaknya, Dino merintih-rintih menahan rasa sakit sambil mengocok
kontolnya sendiri. Aku langsung berinisiatif untuk mengoralnya, aku
letakkan ponselku pada salah satu wastafel agar tetap dapat merekam
dengan baik, dan segera aku berjongkok di bawah Dino dan mengulum
kontolnya, rasa gurih precum dan keringat langsung terasa di lidahku, urat-
uratnya menggesek dinding mulutku, kombinasi yang sangat sempurna. Beberapa menit kemudian, aku merasa batang kontol
Dino menggembung diikuti dengan erangan Dino yang makin keras. “Ahhh… gue udah mau keluar kaak.. ahh..” erang
Dino. “Tahan dulu sayang, gue bentar lagi nih, uuhhh…
keluarin bareng yaah..” balas Doni. “By, lepas seragam lo! Uhhh…” perintah Doni padaku,
aku menurut, kulepas seragam atasku sambil tetap mengulum kontol
Dino. Melihat aku telah melakukan yang telah diperintahkan, Doni langsung
mengeluarkan kontolnya dari pantat Dino, dan Dino mengeluarkan
kontolnya dari mulutku. Lalu mereka berdua berdiri di hadapanku sambil
mengocok kontol mereka, aku paham aku akan mendapat cum
shower, maka aku jongkok dan bersiap menerima semburan mani segar dari
dua lelaki perkasa ini, tidak sampai 10 detik dan… Crooot Croot Crot…. Kontol Dino memancarkan mani tepat ke wajahku, lalu
disusul oleh Doni yang muncrat tidak lama setelah itu Croot Crooot Croot… Pancarannya lebih kuat daripada
Dino, beberapa malah mengenai tembok di belakangku, mungkin karena
Dino sudah mengeluarkannya tadi pagi sedangkan Doni baru kali ini.
Wajah, leher, dan rambutku penuh dengan sperma, nafasku terengah-
engah begitu pula dengan Doni dan Dino. Aku mencolek sperma di wajahku dan menjilatinya
sampai habis, sperma itu meninggalkan rasa lengket di wajahku. Aku berdiri
dan mengambil facial scrub di tasku, kubersihkan wajah dari sisa-sisa
sperma. Dari pantulan cermin kulihat Doni dan Dino mengganti pakaian
mereka, aku jadi penasaran apakah mereka juga fetish dengan
seragam? “Sori ya By, kita ngasih kadonya telat.” kata Dino
sambil mengenakan dasi seragamnya. “Hah, kado apaan maksudnya?” tanyaku terheran. “Kado ulang tahun, lo kan kemaren Senin ulang tahun
tuh.” jawab Dino sambil nyengir. “Oiya By, gue juga masih ada kado, hampir aja lupa.”
kata Doni sambil merogoh sesuatu di tasnya “Nih.” “Loh, apa maksudnya Don? Kok ngasih gue kaos
olahraga lo?” “Udahlah, lo suka kan? Gue tau kok kalo lo fetish ama
seragam.” “Tapi ntar kalo lo ada pelajaran olahraga gimana?” “Gue kan bisa pinjem punya Dino, lagian sekolah juga 3
bulan lagi kelar.” “Oh, yaudah kalo gitu. Thanks Don, kayaknya ini kaos
ga bakal gue cuci dah.” “Heh, jorok lu.” sergah Dino yang sedari tadi sibuk
dengan ponselnya. “Yee, kalo dicuci jadi wangi dong. Kalo bau keringetnya
Doni gini kan jantan.” timpalku. “hehe, yaudahlah terserah mau lo apain, kan ini udah
jadi punya lo.” kata Doni sambil tersenyum, senyumnya menawan, saat
itu aku secara tidak sengaja mengamati wajahnya, lalu tubuhnya yang
terbalut seragam lengkap dengan dasi, terlihat sesak di bagian dada. “Woy By, By, haloo…” Doni berusaha membuyarkan
lamunanku sambil melambaikan tangannya ke wajahku. “Oh, eh Don…” kataku gelagapan. “Yah, elu ngelamun.. Gue balik dulu yah, Dino udah
keluar tuh.” kata Doni seraya meninggalkanku. “Oh iya iya, lo duluan aja, thanks yah” balasku sambil
memasukkan kaos olahraga kado dari Doni ke dalam tas, sengaja aku
pisahkan jauh dari buku mengingat kaos itu basah kuyup. —- Keesokan harinya, di kantin sekolah bersama Doni dan
Dino, aku menanyakan sesuatu yang menggangguku seharian
kemarin. “Don Din, yang kemaren itu emang udah kalian
rencanain ya?” tanyaku dan dibalas dengan anggukan oleh keduanya. “Trus yang bagian lo nonjok Dino, itu beneran?”
tanyaku kepada Doni. “Hehehe ya nggaklah, kemaren gue cuma mukul tangan
gue.” jawab Doni sambil memperagakan gerakannya. “Bibir gue berdarah-darah itu juga boongan, hahaha”
timpal Dino. “Ahelah, gue pikir beneran, gila aja kalo beneran”
gerutuku. “Emang akting kita bagus ya kemaren By? Hihihi”
balas Dino. “Kaga, sompret lu berdua.” Dan mereka tertawa terbahak-bahak. Hubunganku
dengan mereka tidak berubah sama sekali, tetap bersahabat bahkan semakin
erat.

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: