Skip to content

di entot kakak ipar

November 9, 2011

Cerita Anak Onani Sesama Pria, Aku, sebut saja namaku Ardi. Umurku 25 tahun. Saat ini aku tinggal bersama
kakak sepupu perempuanku yang sudah menikah di
Jakarta, dan bekerja pada sebuah bank terkenal di
Jakarta. Hal ini karena kakakku itu mengharapkan aku
tinggal di sana untuk menemani dia dan suaminya
tinggal di rumahnya yang besar. Meskipun sudah beberapa kali aku minta ijin kepada kakakku untuk
kost sendiri, tapi tetap saja kakakku itu tidak
mengijinkanku. Sudah dua tahun ini aku tinggal di rumah ini, dan aku
melihat bahwa keluarga kakakku ini termasuk keluarga
yang cukup harmonis, meskipun dalam 5 tahun
pernikahannya mereka belum mempunyai anak.
Dikatakan harmonis bukan berarti mereka tidak pernah
bertengkar atau ribut-ribut, karena beberapa kali aku pernah mendengar mereka ribut-ribut kecil, terutama
pada waktu tengah malam. Dan kalau sudah begitu,
maka suami kakak iparku (sebut saja Mas Andre) itu
tidak lagi tidur sekamar dengan kakak dan tidur di sofa
ruang santai keluarga. Pernah beberapa kali aku menawarinya untuk tidur di
kamarku, tapi dia selalu menolaknya. Malam ini
kudengar kakak ribut-ribut lagi dengan suaminya, tapi
kelihatannya lebih hebat dari biasanya, dan seperti
biasa kemudian Mas Andre keluar dari kamar dan tidur
di sofa. Dan seperti biasanya aku pun mencoba menawarkan kepada Mas Andre untuk tidur di
kamarku, dan dan kali ini dia tidak menolak tawaranku
itu. Mungkin karena saat ini sedang musim hujan,
sehingga dingin dan banyak nyamuk di luar. Sesampainya di kamar, Mas Andre tidak langsung tidur
tapi mengajak aku mengobrol sambil rebahan di kasur
berdua denganku. Dia banyak cerita tentang rumah
tangganya yang tetap harmonis meskipun kadang ada
ribut-ribut sedikit, dan katanya ia memang sangat cinta
sama kakakku. Sampai akhirnya Mas Andre bertanya apakah aku sudah punya pacar, dan aku jawab terus
terang bahwa aku belum punya pacar. Dia agak heran
kenapa orang seumurku belum punya pacar. Aku juga
tidak tahu mengapa aku tidak berpikir untuk itu
sampai sekarang, atau mungkin karena aku orang
yang pendiam, sehingga cewek enggan mendekatiku. Aku, meskipun tidak teramat tampan, tapi kupikir
cukup menarik. Dengan tinggi 170 cm, berat 62 kg serta
kulit meskipun tidak terlalu putih dan hidung sedikit
mancung cukup menarik bagi perempuan. Saat aku
berpikr tentang diriku, tiba-tiba aku dikejutkan oleh
pertanyaan Mas Andre yang menurutku agak sedikit vulgar.
“Di, kalau boleh Mas tahu, berapa ukuran penismu,
Di..?”
Aku terkejut bukan main, dan untuk meyakinkan aku
malah beberapa kali mencoba meminta Mas Andre
untuk mengulangi pertanyaannya, seolah aku tidak mendengarnya. Setelah yakin, akhirnya dengan terbata-bata aku
menjawab, “Ng.., nggak tahu Mas, soalnya aku tidak
pernah mengukurnya.”
Mendengar jawabanku itu, Mas Andre mendekatiku dan
langsung menyentuh dan memegang daerah terlarang
itu sambil berkata, “Coba Di, kita ukur. Kamu punya penggaris, khan..? Dan kita lihat bedanya dengan
punya Mas.”
Aku makin malu bukan kepalang karena tanpa
kusadari bocah kecil di selangkangan itu mulai
menegang dan membengkak.
“Jangan malu Di, aku kan kakakmu. Sudah kamu ambil penggarisnya sana!” suruh Mas Andre sambil
melepaskan pegangannya di bocah kecilku. Setelah mengambil penggaris aku kembali mendekati
Mas Andre.
“Lho, lepas donk celananya. Gimana mau diukur kalo
kamu pakai celana begitu. Mas cuma pingin tahu kok.
Ayo cepat..!”
Dengan agak tergesa-gesa dan malu, akhirnya kulepaskan celana dalam warna putih bersih itu dari
badanku. Dan serta merta terlihatlah batang
kemaluanku yang menegang dan berdiri tegak itu.
“Lho Di, kamu nggak pakai CD. Tapi nggak apa-apa,
Mas biasanya juga nggak pakai kalau mau tidur.”
Aku diam saja sambil mengangguk mengiyakan. Sambil memegang kemaluanku, Mas Andre kemudian
meletakkan penggaris itu di batang kemaluanku.
Berdetak-detak mau meledak rasanya jantung ini
menahan kenikmatan pegangannya.
“Cukup panjang Di. Panjangnya 18 cm dan
diameternya ini kira-kira 4 cm.” katanya sambil memain-mainkan dan mengurut-urut penis itu ke atas
bawah.
Aku mengelinjat-gelinjat merasakan kenikmatan itu,
dan dengan santainya Mas Andre tetap memain-
mainkan penis itu seakan-akan tidak mau tahu
kenikmatan yang kurasakan. “Enak ya Di..? Kamu mau nggak kalau kuperkeras
dikit urutanku ini?” kata Mas Andre sambil
mengeraskan urutannya sebelum akhirnya
melepaskannya.
Aku merasakan kenikmatan itu menjalar ke seluruh
tubuhku meski tidak sampai ejakulasi. Luar biasa, meskipun aku sering melakukan onani, tapi ini lain. “Sudah Di, sekarang ganti punya Mas, kamu ukur..!”
suruh Mas Andre sambil membuka baju dan celananya
sekaligus.
Tubuh itu ternyata begitu kekar dan menggairahkan.
Meskipun agak kecoklatan, tapi kekar dan berisi.
Dengan tinggi sekitar 175 cm dan berat yang sangat ideal, Mas Andre memang kelihatan sangat gagah.
Meskipun tidak ganteng, tapi ia sangat manis dan
bibirnya yang berkumis tipis itu membuatnya semakin
manis. Bulu-bulu yang hampir memenuhi perut dan
dadanya itu semakin menambah kejantanannya. Aku
terpana memandanginya dari kepala sampai kaki, apalagi melihat tonjolan di bawah perut itu, aku
semakin terpana. Tonjolan itu meskipun belum
menegang dan kelihatan lebih kecil dari punyaku itu
tapi tetap menarik bagiku yang belum pernah kulihat
sebelumnya. Dan tanpa kusadari, penisku pun ternyata telah
menegang.
Dengan tiba-tiba Mas Andre menepuk bahuku, “Hei Di,
kamu terangsang ya. Ayo, ganti ukur punya Mas,
jangan bengong gitu..!”
Aku pun segera memegang dan meletakkan penggaris itu ke penis Mas Andre.
“Di, bukan gitu, agak kocok dikit dong..! Emangnya
punya kamu..? Yang langsung bisa menegang.”
Sambil terus memegangi penis itu, akhirnya kukocok
pelan-pelan penis itu. Seiring dengan kocokan itu, penis
Mas Andre pun mulai menegang. Dan sungguh tidak kukira setelah menegang, penis itu ternyata punya
ukuran yang sangat besar. Sambil terus kukocok, Mas Andre pun mengelinjat-
gelinjat sambill mengerang-erang merasakan
kenikmatan kocokanku. Setelah kulihat ketegangan itu
maksimum, akhirnya kuletakkan penggaris pada
batang penis itu dan aku mulai mengukur panjangnya.
“21 cm mas. Dan diameternya kurang lebih 5 cm.” Mas Andre diam saja tidak menghiraukan perkataanku
itu. Ia lebih menikmati nikmatnya pegangan dan
kocokanku itu sambil menggelinjat-gelinjat dan
mendesah-desah merasakan kenikmatan itu. Entah mengapa, tiba-tiba tanpa sadar aku
mendekatkan mulutku ke depan penis yang seperti
rudal itu, dan mulai menjilat-jilatnya dengan lidahku.
Dan ternyata Mas Andre merasakan kenikmatan,
bahkan menekan-nekan kepalaku untuk terus
memasukkan penis itu ke mulutku. Dengan rakusnya kulumat habis penis ukuran jumbo itu hingga ke
kerongkonganku sambi memasukkan dan
mengeluarkannya berulang kali.
“Ough, ough, terus Sayang, nikmat Sayang, terus..!”
desah Mas Andre sambil melepaskan kaos yang masih
melekat di tubuhku. Kali ini aku sudah benar-benar telanjang bulat dan Mas
Andre mulai mengangkat kepalaku dan mulai
memainkan puting susuku dengan lidahnya. Jilatan Mas
Andre kini mulai naik ke bibirku, dimain-mainkannya
bibirku dengan lembutnya oleh lidahnya. Bau
mulutnya semakin menambah gairahku. Mas Andre mulai seperti orang kelaparan. Setelah puas ia bermain
di wajahku, kini jilatan lidahnya beralih ke bawah
menurun hingga sampai ke pangkal penisku yang
ditumbuhi bulu lebat itu.
“Terus Mas, oug, ough..!” desahku penuh nafsu.
Disedotnya dalam-dalam penisku dan aku terus merasakan kenikmatan itu. Saat aku merasakan bahwa maniku mulai akan keluar,
bergegas aku berkata dengan lembut pada Mas Andre,
“Sebentar dulu, Mas. Kita bareng-bareng aja..!”
Kemudian Mas Andre melepaskan sedotannya itu.
Direbahkannya tubuh kekarnya itu dan dengan serta
merta kutindih dengan tubuhku. Ia hanya tersenyum, sungguh manis. Dengan manja kupandangi wajah
manis itu. Ya, dia memang begitu mempesona. Dengan
tidak sabar kudekap tubuh itu erat-erat, kurasakan
kehangatan yang luar biasa yang selama ini belum
pernah kurasakan. Kemudian mulai kujelajahi tubuh penuh bulu itu
dengan lidah dan bibirku, erangan-erangan kecil dari
Mas Andre semakin menambah gairahku. Sampai di
pangkal selangkangan yang penuh bulu itu aku
berhenti menjelajah. Kumain-mainkan rudal besar itu
dengan mulutku, kusedot sedikit kemudian kulepas, demikian berkali-kali kupermainkan rudal itu. Kadang-
kadang dengan agak gemas kugigit rudal itu.
Sementara itu, Mas Andre terus menggelinjat-gelinjat
merasakan kenikmatan yang kuberikan. Beberapa saat kemudian, tangan Mas Andre menarik
kakiku, dan tanpa terasa kami sudah dalamposisi 69.
“Ough, ough, ough..!” jeritku ketika penisku sudah
mulai terlumat oleh bibir Mas Andre.
Kami saling memainkan penis-penis itu dan menyedot-
nyedotnya. “Terus, Sayang, terus.., sebentar lagi keluar..!” kata
Mas Andre.
Tanpa kusadari maniku pun sudah di ujung kepala
penisku, dan dekapan Mas Andre semakin erat
kurasakan, hingga akhirnya, “Ah, ah, ah..!” kedua
penis itu mengeluarkan mani secara bersamaan. Desahan-desahan saling sahut menyahut menandakan
kenikmatan itu telah tiba. Benar-benar kenikmatan
yang luar biasa yang belum pernah kurasakan. Meskipun aku pernah merasakan nikmatnya ejakulasi
karena onani, tapi tiada senikmat ini. Sesaat kemudian
kami pun terkulai lemas dan terhanyut dalam mimpi.
Sungguh malam yang luar biasa yang tidak terlupakan
bersama-sama. Malam itu aku benar-benar tidur dengan
pulas, hingga kurasakan ada sesuatu yang basah di anus. Dengan agak terkejut kubuka mataku, kulihat
Mas Andre tengah asyik menjilat-jilat anusku. Melihat
aku terbangun dia hanya tersenyum dan mengedipkan
mata seolah memberi isyarat agar aku mengijinkannya.
Kubiarkan bibir nakal Mas Andre terus mempermainkan
anusku, sementara tangannya mulai menggerayang menggapai-gapai penisku dan meremas-remasnya.
Sekali lagi aku merasakan kenikmatan itu. Setelah puas menjilat-menjilat anusku dan memainkan
penisku, ditariknya kakiku dan disuruhnya aku
melumat penisnya yang mulai menegang itu. Benar-
benar keperkasaan yang sempurna, kataku dalam hati.
“Sayang, kamu nungging, ya..! Mas mau masukin ini
ke anusmu, boleh kan..? Udah lama nih penis cuma dikocok-kocok saja, boleh ya Sayang..?” rengeknya
dengan manja.
Dengan sedikit ragu kuanggukkan kepalaku
menyetujui permintaan pacar baruku ini. Dalam hatiku
berpikir bagaimana mungkin barang sebesar itu dapat
masuk ke anusku yang masih perawan ini. Dengan kasar bagai macan kelaparan, Mas Andre memasukkan
penis yang sudah menegang dan penuh liurku itu ke
anusku. “Aduh, sakit Mas, sakit. Aduh.., pelan-pelan, Mas..!”
erangku kesakitan.
“Tenang Sayang, nanti kalau sudah masuk tidak sakit.
Tenang, dikit lagi nih..!”
Beberapa saat kemudian penis yang besar itu pun
sudah hilang tertelan anusku. Kurasakan maju mundur Mas Andre menggenjot pantatku, dan ketika penis itu
amblas ke dalam anusku kurasakan gelitikan kecil bulu-
bulu kasar di pinggir penis Mas Andre menyetuh
pantatku, hingga menambah kenikmatan yang
kurasakan. Dan benar saja, kini sudah tidak terasa sakit
lagi. Yang terasa hanyalah kenikmatan yang benar- benar belum pernah kurasakan. Sambil terus menggenjot pantatku, tangan Mas Andre
ternyata dengan lincah tengah mengocok penisku
seiring gerakan maju mundur pantat itu. Tiada terasa
sudah hampir satu jam permainan kedua ini
berlangsung, hingga, “Ough, ough, aku mau keluar
Sayang, aku mau keluar..!” teriak Mas Andre menahan kenikmatan itu.
“Aku juga Mas, genjot, terus, genjot. Di dalam aja, Mas
di dalam..!” pintaku.
Mas Andre terus menggenjot ayunan maju mundurnya,
dan akhirnya tanpa terasa kehangatan semburan mani
Mas Andre kurasakan telah membasahi lubang anusku. Seiring dengan itu ternyata kocokan Mas Andre di
penisku pun telah membuahkan hasil yang sama. Kenikamatan itu benar-benar kurasakan bersama-sama.
Sungguh, luar biasa. Tanpa mau melepaskan tancapan
penisnya dari anusku, Mas Andre pun mulai
merebahkan badannya ke spring bed empuk itu seiring
rebahnya tubuhku. Dipeluknya tubuhku erat-erat
seakan-akan ingin memberikan kehangatan sepenuhnya kepadaku. Dengan penis Mas Andre tetap
menancap di anusku, kami pun mulai terbuai dalam
mimpi-mimpi yang tiada berakhir. Dan sejak saat itu,
aku dan Mas Andre melakukannya secara intesif
minimal sekali dalam seminggu. Setelah beberapa kali kami melakukan itu, belakangan
baru kuketahui kalau sudah dua tahun ini Mas Andre
sudah tidak melakukan hubungan badan dengan
kakakku. Kalaupun Mas Andre minta, paling penis itu
hanya dikocok pakai tangan sama kakakku. Dan itu
membuat Mas Andre mencari pelampiasan kepadaku. Mas Andre, nama yang takkan pernah kulupakan. Dan
kenikmatan itu biarlah terus saja kugapai. Kakakku
biarlah kumiliki suamimu, tanpa aku harus merebutnya
darimu. Bagi yang mau kirim e-mail ke aku, silakan saja.
Dengan senang hati aku akan membacanya dan pasti
kubalas. Cerita Anak Onani Sesama Pria

No comments yet

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: