Lanjut ke konten

bercinta dengan anak bos part 1

November 9, 2011

Jogja, Aku mengenal Revo sebagai anak
boss-ku. Dia sering main ke kantorku sambil
menjemput bapaknya pulang. Oleh karena itu aku
sering melihatnya di kantor, entah sedang membaca
koran sambil menunggu bapaknya, atau ngobrol
dengan anak buahku yang tentunya juga anak buah bapaknya. Selama itu hubungan kami biasa-biasa saja,
maksudnya tidak lebih dari sekedar saling tegur kalau
aku keluar ruangan. Biar bagaimanapun aku harus
berbasa-basi juga dengan anak boss. Tidak pernah
lebih dari itu. Maklumlah, aku merupakan orang yang
tidak terlalu mudah akrab dengan orang lain. Namun ceritanya jadi lain ketika ternyata belakangan
ini Revo membuat perusahaan dengan teman-
temannya dan berniat jadi rekanan di kantorku.
Sebagai anak boss, tentu aku harus membantunya.
Apalagi boss-ku sudah menitipkan Revo kepadaku
supaya membantu Revo, termasuk memberi order pekerjaan kalau ada. Alasannya ingin mempersiapkan
Revo supaya bisa mandiri, sebab ayahnya akan
memasuki masa pensiun 8 bulan lagi. Sebenarnya dalam
hati kecilku, aku merasa janggal dan tidak enak hati.
Kok di jaman reformasi seperti ini masih ada yang
berniat KKN dengan memasukkan anaknya jadi rekanan. Tapi yah sudahlah, dengan tulus kubantu
mengurus ini dan itu. Karena sering mencari informasi, kami jadi sering
bertemu dan ngobrol. Apalagi Revo sepertinya tipe
anak papi yang segala sesuatunya minta diurusi dan
dibantu oleh orang lain. Jadi setiap ada kesulitan pasti
masuk ke ruanganku dan tanya ini itu. Hal inilah yang
membuat kami menjadi lebih dekat. Apalagi dia memanggilku dengan sebutan mas. Memang umurnya
hanya 3 tahun di bawahku. Sejak menjadi rekanan, aku mulai sering
memperhatikan penampilan Revo mulai berubah, mulai
rapi dan sering berdasi, membuat penampilannya
menjadi lebih menarik dan ganteng. Namun tetap saja
kesan sebagai anak papi tidak bisa ditanggalkan. Suatu ketika, saat jam istirahat siang, aku masih asyik
di ruangan kerja. Aku memang selalu makan siang di
ruanganku sendiri, tidak ke kantin seperti yang lain.
Jadi suasana kantor sepi. Jam-jam seperti ini biasanya
kumanfaatkan untuk membuka situs-situs gay di
internet. Monitor komputer memang kutempatkan di sisi kiri, sehingga posisi pintu masuk ke ruang kerjaku
menjadi berada di belakangku dan untuk melihat siapa
yang masuk, aku harus membalikkan badan. Suasana
kantor yang sepi membuatku begitu asyik sampai-
sampai tidak menyadari kehadiran Revo di ruangan
kerjaku. Aku masih terus asyik melihat gambar cowok- cowok bugil sampai aku tersadar dan kaget ketika tiba-
tiba Revo berbicara, “Wah asyik tuh Mas gambarnya,
ada yang lain tidak?” Deg… jantungku serasa copot mendengar suara
seseorang yang ternyata sejak tadi ikut nimbrung
melihat situs-situs yang kubuka. Aku tidak tahu sudah
berapa lama Revo ada di ruanganku, namun yang jelas
aku jadi salah tingkah karena takut ada yang tahu
siapa aku sebenarnya. Kubalikkan badanku dan terlihat Revo berdiri di
depanku di sisi meja sambil terus melihat ke layar
monitor. Melihat ekspresinya yang sepertinya ikut
menikmati, aku mulai menguasai diri dan mencoba
bersikap tenang meskipun dadaku masih berdebar
karena kepergok oleh orang lain. “Ehm… Revo… ehm… kamu udah datang… eh udah
lama?”
“Mas, senang liat gambar-gambar begini?”
Aku tidak bisa jawab ya atau tidak, tapi kujawab saja
sekenanya, “Ehm… kebetulan aja… lagi iseng…
Vo…” “Mas, coba liat gambar yang tadi…” pinta Revo
ketika melihat gambar 2 orang cowok yang sedang
action di layar monitor. Untuk memperjelas
penglihatannya, Revo membungkukkan badannya ke
arah monitor, menyebabkan wajahnya hanya
beberapa centi dari wajahku. Kuperhatikan wajahnya dari samping, pipinya yang mulus, hidungnya yang
agak mancung dan bibir yang mungil. Hal ini
membuatku bergairah, dan tiba-tiba saja entah apa
yang mendorongku, kuelus pipinya sambil sedikit
mendorong lebih dekat ke wajahku. Kuelus tangan
kirinya yang berada di kursiku dan kucium pelan pipinya. Revo masih asyik dan karena terpesonanya melihat
gambar cowok-cowok yang sedang berhubungan, ia
tidak menyadari apa yang kulakukan. Kudekatkan
hidungku ke telinganya, menyebabkan udara panas
dari hidungku menerpa telinganya, sambil berguman
pelan, “Daripada liat gambar, mending ngelakonin,vo

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: