Skip to content

SEEKOR ANAK SINGA

Juni 7, 2011

Alkisah, di sebuah hutan
belantara ada seekor induk
singa yang mati setelah
melahirkan anaknya. Bayi
singa yang lemah itu
hidup tanpa perlindungan
induknya. Beberapa waktu
kemudian serombongan
kambing datang melintasi
tempat itu. Bayi singa itu
menggerakgerakkan
tubuhnya yang lemah.
Seekor induk kambing
tergerak hatinya. Ia
merasa iba melihat anak
singa yang lemah dan
hidup sebatang kara. Dan
terbitlah nalurinya untuk
merawat dan melindungi
bayi singa itu.Sang induk
kambing lalu
menghampiri bayi singa
itu dan membelai dengan
penuh kehangatan dan
kasih sayang. Merasakan
hangatnya kasih sayang
seperti itu, sibayi singa
tidak mau berpisah
dengan sang induk
kambing. Ia terus
mengikuti ke mana saja
induk kambing pergi.
Jadilah ia bagian dari
keluarga besar
rombongan kambing itu.
Hari berganti hari, dan
anak singa tumbuh dan
besar dalam asuhan induk
kambing dan hidup dalam
komunitas kambing. Ia
menyusu, makan,
minum, bermain bersama
anak-anak kambing
lainnya.
Tingkah lakunya juga
layaknya kambing. Bahkan
anak singa yang mulai
berani dan besar itu pun
mengeluarkan suara
layaknya kambing yaitu
mengembik bukan
mengaum! la merasa
dirinya adalah kambing,
tidak berbeda dengan
kambing-kambing lainnya.
Ia sama sekali tidak pernah
merasa bahwa dirinya
adalah seekor singa.
Suatu hari, terjadi
kegaduhan luar biasa.
Seekor serigala buas
masuk memburu
kambing untuk dimangsa.
Kambing-kambing
berlarian panik. Semua
ketakutan. Induk kambing
yang juga ketakutan
meminta anak singa itu
untuk menghadapi
serigala.
“Kamu singa, cepat hadapi
serigala itu! Cukup
keluarkan aumanmu yang
keras dan serigala itu pasti
lari ketakutan!” Kata induk
kambing pada anak singa
yang sudah tampak besar
dan kekar. tapi anak singa
yang sejak kecil hidup di
tengah-tengah komunitas
kambing itu justru ikut
ketakutan dan malah
berlindung di balik tubuh
induk kambing. Ia
berteriak sekeras-kerasnya
dan yang keluar dari
mulutnya adalah suara
embikan. Sama seperti
kambing yang lain bukan
auman. Anak singa itu
tidak bisa berbuat apa-apa
ketika salah satu anak
kambing yang tak lain
adalah saudara
sesusuannya diterkam
dan dibawa lari serigala.
Induk kambing sedih
karena salah satu anaknya
tewas dimakan serigala. Ia
menatap anak singa
dengan perasaan nanar
dan marah,“Seharusnya
kamu bisa membela kami!
Seharusnya kamu bisa
menyelamatkan
saudaramu! Seharusnya
bisa mengusir serigala
yang jahat itu!”
Anak singa itu hanya bisa
menunduk. Ia tidak
paham dengan maksud
perkataan induk kambing.
Ia sendiri merasa takut
pada serigala sebagaimana
kambing-kambing lain.
Anak singa itu merasa
sangat sedih karena ia
tidak bisa berbuat apa-apa.
Hari berikutnya serigala
ganas itu datang lagi.
Kembali memburu
kambing-kambing untuk
disantap. Kali ini induk
kambing tertangkap dan
telah dicengkeram oleh
serigala. Semua kambing
tidak ada yang berani
menolong. Anak singa itu
tidak kuasa melihat induk
kambing yang telah ia
anggap sebagai ibunya
dicengkeram serigala.
Dengan nekat ia lari dan
menyeruduk serigala itu.
Serigala kaget bukan
kepalang melihat ada
seekor singa di
hadapannya. Ia
melepaskan
cengkeramannya. Serigala
itu gemetar ketakutan!
Nyalinya habis! Ia pasrah,
ia merasa hari itu adalah
akhir hidupnya!
Dengan kemarahan yang
luar biasa anak singa itu
berteriak keras,
“Emmbiiik!”
Lalu ia mundur ke
belakang. Mengambil
ancang ancang untuk
menyeruduk lagi.
Melihat tingkah anak singa
itu, serigala yang ganas
dan licik itu langsung tahu
bahwa yang ada di
hadapannya adalah singa
yang bermental kambing.
Tak ada bedanya dengan
kambing. Seketika itu juga
ketakutannya hilang. Ia
menggeram marah dan
siap memangsa kambing
bertubuh singa itu! Atau
singa bermental kambing
itu!
Saat anak singa itu
menerjang dengan
menyerudukkan
kepalanya layaknya
kambing, sang serigala
telah siap dengan kuda-
kudanya yang kuat.
Dengan sedikit berkelit,
serigala itu merobek
wajah anak singa itu
dengan cakarnya. Anak
singa itu terjerembab dan
mengaduh, seperti
kambing mengaduh.
Sementara induk kambing
menyaksikan peristiwa itu
dengan rasa cemas yang
luar biasa. Induk kambing
itu heran, kenapa singa
yang kekar itu kalah
dengan serigala. Bukankah
singa adalah raja hutan?
Tanpa memberi ampun
sedikitpun serigala itu
menyerang anak singa
yang masih mengaduh
itu. Serigala itu siap
menghabisi nyawa anak
singa itu. Di saat yang
kritis itu, induk kambing
yang tidak tega, dengan
sekuat tenaga menerjang
sang serigala. Sang
serigala terpelanting. Anak
singa bangun.
Dan pada saat itu, seekor
singa dewasa muncul
dengan auman yang
dahsyat.
Semua kambing ketakutan
dan merapat! Anak singa
itu juga ikut takut dan ikut
merapat. Sementara sang
serigala langsung lari
terbirit-birit. Saat singa
dewasa hendak
menerkam kawanan
kambing itu, ia terkejut di
tengah-tengah kawanan
kambing itu ada seekor
anak singa.
Beberapa ekor kambing
lari, yang lain langsung
lari. Anak singa itu
langsung ikut lari. Singa itu
masih tertegun. Ia heran
kenapa anak singa itu ikut
lari mengikuti kambing? Ia
mengejar anak singa itu
dan berkata,“Hai kamu
jangan lari! Kamu anak
singa, bukan kambing!
Aku takkan memangsa
anak singa!
Namun anak singa itu
terus lari dan lari. Singa
dewasa itu terus
mengejar. Ia tidak jadi
mengejar kawanan
kambing, tapi malah
mengejar anak singa.
Akhirnya anak singa itu
tertangkap. Anak singa itu
ketakutan,
“Jangan bunuh aku,
ammpuun!”
“Kau anak singa, bukan
anak kambing. Aku tidak
membunuh anak singa!”
Dengan meronta-ronta
anak singa itu berkata,
“Tidak aku anak kambing!
Tolong lepaskan aku!”
Anak singa itu meronta
dan berteriak keras.
Suaranya bukan auman
tapi suara embikan, persis
seperti suara kambing.
Sang singa dewasa heran
bukan main. Bagaimana
mungkin ada anak singa
bersuara kambing dan
bermental kambing.
Dengan geram ia
menyeret anak singa itu ke
danau. Ia harus
menunjukkan siapa
sebenarnya anak singa itu.
Begitu sampai di danau
yang jernih airnya, ia
meminta anak singa itu
melihat bayangan dirinya
sendiri.
Lalu membandingkan
dengan singa dewasa.
Begitu melihat bayangan
dirinya, anak singa itu
terkejut, “Oh, rupa dan
bentukku sama dengan
kamu. Sama dengan
singa, si raja hutan!”
“Ya, karena kamu
sebenarnya anak singa.
Bukan anak kambing!”
Tegas singa dewasa.
“Jadi aku bukan kambing?
Aku adalah seekor singa!”
“Ya kamu adalah seekor
singa, raja hutan yang
berwibawa dan ditakuti
oleh seluruh isi hutan! Ayo
aku ajari bagaimana
menjadi seekor raja
hutan!” Kata sang singa
dewasa.
Singa dewasa lalu
mengangkat kepalanya
dengan penuh wibawa
dan mengaum dengan
keras. Anak singa itu lalu
menirukan, dan
mengaum dengan keras.
Ya mengaum,
menggetarkan seantero
hutan. Tak jauh dari situ
serigala ganas itu lari
semakin kencang, ia
ketakutan mendengar
auman anak singa itu.
Anak singa itu kembali
berteriak penuh
kemenangan,“Aku adalah
seekor singa! Raja hutan
yang gagah perkasa!”
Singa dewasa tersenyum
bahagia mendengarnya.

No comments yet

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: