Skip to content

cerita sejarah perkembangan kemerdekaan indonesia

Juni 7, 2011

Saya akan mengulas
sejarah dibalik
kemerdekaan Republik
Indonesia
Dari berbagai sisi baik
dalam negeri maupun luar
negeri
Dari Luar Negeri
Mari kita mengenang
kembali sejarah yang
seringkali tidak
diungkapkan. Tetapi
berperan sangat penting
dalam perubahan status
bangsa Indonesia, dari
yang bangsa yang dijajah
menjadi bangsa yang
merdeka. Proses
kemerdekaan Indonesia
tidak saja ditandai dengan
pembacaan proklamasi
kemerdekaan oleh
Soekarno– Hatta yang
disertai upacara
pengibaran bendera yang
diiringi lagu Indonesia
Raya. Kemerdekaan
bangsa ini belum berarti
apa-apa sebelum adanya
pengakuan dari negara
lain. Bangsa Indonesia
berutang budi pada
negara-negara yang telah
membantu proses
kemerdekaan bangsa
tersebut.
Pengakuan kedaulatan
Indonesia pertama kali
bukanlah dilakukan oleh
negara-negara Barat,
apalagi Amerika Serikat
yang sering mengklaim
dirinya sebagai promotor
kebebasan dan jaminan
HAM! Perjuangan
kemerdekaan Indonesia
dibantu oleh negara-
negara muslim di Arab
secara heroik tidak lain
karena faktor Islam.
Adanya kedekatan
emosional (ukhuwah
Islamiyyah) antara bangsa
Indonesia yang tengah
memperjuangkan
kemerdekaannya dengan
bangsa-bangsa Arab.
Mesir tercatat sebagai
negara pertama yang
mengakui proklamasi
kemerdekaan Indonesia.
Hal ini tidak terlepas dari
kedekatan emosional
tokoh-tokoh nasional
seperti, M. Natsir, Sutan
Syahrir, H. Agus Salim dll
dengan tokoh-tokoh
pergerakkan Islam di Mesir
seperti Hasan Albana
dengan gerakkan
Ikhwanul Muslimin yang
juga turut
memperjuangkan
kemerdekaan bumi-bumi
Islam yang lainnya.
Negara-negara yang
tercatat sebagai pemberi
pengakuan pertama
kepada RI selain Mesir
adalah Syria, Iraq,
Lebanon, Yaman, Saudi
Arabia dan Afghanistan.
Selain negara-negara
tersebut Liga Arab (Arab
League) juga berperan
penting dalam Pengakuan
RI. Secara resmi
keputusan sidang Dewan
Liga Arab tanggal 18
November 1946
menganjurkan kepada
semua negara anggota
Liga Arab (Arab League)
supaya mengakui
Indonesia sebagai negara
merdeka yang berdaulat.
Alasan Liga Arab
memberikan dukungan
kepada Indonesia merdeka
didasarkan pada ikatan
keagamaan, persaudaraan
serta kekeluargaan.
Dukungan dari Liga Arab
dijawab oleh Presiden
Soekarno dengan
menyatakan bahwa antara
negara-negara Arab dan
Indonesia sudah lama
terjalin hubungan yang
kekal“karena di antara kita
timbal balik terdapat
pertalian agama”.
Sementara pernyataan
Sutan Syahrir atas
dukungan negara-negara
Arab yang diungkapkan di
Harian Ikhwanul Muslimin,
Mesir pada 5 Oktober
1947 … “Adalah suatu
kenyataan adanya
kecenderungan
mengembang dalam
ummat Islam di dunia ke
arah persatuan dan
peleburan dalam satu
persudaraan Islam yang
bertujuan memutuskan
rantai-rantai penjajahan
asing… Indonesia
menyokong Pakistan
sepenuhnya. Indonesia
negeri Islam dan akan
berjuang di barisan kaum
Muslimin.”
Pengakuan Mesir dan
negara-negara Arab
tersebut melewati proses
yang cukup panjang dan
heroic. Begitu informasi
proklamasi kemerdekaan
RI disebarkan ke seluruh
dunia, pemerintah Mesir
mengirim langsung
konsul Jenderalnya di
Bombay yang bernama
Mohammad Abdul
Mun’im ke Yogyakarta
(waktu itu Ibukota RI)
dengan menembus
blokade Belanda untuk
menyampaikan dokumen
resmi pengakuan Mesir
kepada Negara Republik
Indonesia. Ini merupakan
pertama kali dalam sejarah
perutusan suatu negara
datang sendiri
menyampaikan
pengakuan negaranya
kepada negara lain yang
terkepung dengan
mempertaruhkan jiwanya.
Ini juga merupakan
Utusan resmi luar negeri
pertama yang
mengunjungi ibukota RI
Pengakuan dari Mesir
tersebut kemudian
diperkuat dengan
ditandatanganinya
Perjanjian Persahabatan
Indonesia – Mesir di Kairo.
Situasi menjelang
penandatanganan
perjanjian tersebut duta
besar Belanda di Mesir
”menyerbu’ masuk ke
ruang kerja Perdana
Menteri Mesir Nokrasi
Pasha untuk mengajukan
protes sebelum
ditandatanganinya
perjanjian tersebut.
Kedatangan Duta besar
Belanda bertujuan
mengingatkan Mesir
tentang hubungan
ekonomi Mesir dan
Belanda serta janji
dukungan Belanda
terhadap Mesir dalam
masalah Palestina di PBB.
Menanggapi protes dan
ancaman Belanda tersebut
PM Mesir memberikan
jawaban sebagai berikut:
”menyesal kami harus
menolak protes Tuan,
sebab Mesir selaku negara
berdaulat dan sebagai
negara yang berdasarkan
Islam tidak bisa tidak
mendukung perjuangan
bangsa Indonesia yang
beragama Islam. Ini
adalah tradisi bangsa Mesir
dan tidak dapat diabaikan”.
Raja Farouk Mesir juga
menyampaikan alasan
dukungan Mesir dan Liga
Arsb kepada Indonesia
dengan mengatakan
”karena persaudaran
Islamlah, terutama, kami
membantu dan
mendorong Liga Arab
untuk mendukung
perjuangan bangsa
Indonesia dan mengakui
kedaulatan negara itu”
Dengan adanya
pengakuan Mesir tersebut
Indonesia secara de jure
adalah negara berdaulat.
Masalah Indonesia
menjadi masalah
Internasional. Belanda
sebelumnya selalu
mengatakan masalah
Indonesia“masalah dalam
negeri Belanda”.
Pengakuan Mesir dan Liga
Arab mengundang
keterlibatan pihak lain
termasuk PBB dalam
penyelesaian masalah
Indonesia.
Suatu kondisi yang patut
kita kritisi selang beberapa
tahun dari kemerdekaan
Indonesia, Israel
memproklamasikan
kemerdekaannya pada
tanggal 14 Mei 1948 pada
pukul 18.01. Sepuluh
menit kemudian, pada
pukul 18.11, Amerika
Serikat langsung
mengakuinya. Pengakuan
atas Israel juga dinyatakan
segera oleh Inggris,
Prancis dan Uni Soviet.
Seharusnya hal yang
sama bisa saja dilakukan
oleh Amerika Serikat,
Inggris, Prancis dan Uni
Soviet untuk mengakui
kemerdekaan Indonesia
pada saat itu. Tetapi hal
tersebut tidak terjadi,
justru negara-negara
Muslim lah yang
berkontribusi konkret
dalam mengakui dan
mempertahankan
kemerdekaan Indonesia.
Buktinya pada 11
November 1945 melalui
pidato dari radio Delhi,
Jinnah menginstruksikan
agar tentara India Muslim
tidak ikut bertempur
melawan pejuang
Indonesia. Akibatnya,
empat hari kemudian, 400
orang tentara India Muslim
melakukan disersi. Di
Surabaya disersi itu
melibatkan Kapten
Mohammad Zia Ul-Haqq
yang belakangan menjadi
Presiden Pakistan. Pada 8
November itu juga
Masyumi menghubungi
Raja Ibnu Suud dan
memohon agar beliau
memaklumkan
kemerdekaan Indonesia
kepada jama’ah haji yang
sedang wuquf di Padang
Arafah dan meminta agar
jama’ah haji mendoakan
perjuangan bangsa
Indonesia.
Simpati rakyat Mesir
terhadap perjuangan di
Indonesia antara lain juga
diperlihatkan pada rapat
umum partai-partai politik
dan organisasi massa
pada 30 Juli 1947, di antara
pembicara bahkan
terdapat (Presiden) Habib
Burguiba dari Tunisia dan
Allal A Fassi, pemimpin
Maroko. Rapat umum itu
menyetujui satu resolusi.
Antara lain: (1).
Pemboikotan barang-
barang buatan Belanda di
seluruh negara-negara
Arab; (2). Pemutusan hub
diplomatik antara negara-
negara Arab dan Belanda.
(3). Penutupan pelabuhan-
pelabuhan dan lapangan-
lapangan terbang di
wilayah Arab terhadap
kapal-kapal dan pesawat-
pesawat Belanda (secara
konkret poin ini
dilaksanakan di Terusan
Suez); (3). Pembentukan
tim-tim kesehatan untuk
menolong korban-korban
agresi Belanda (secara
konkret Mesir mengirim
misi Bulan Merah ke
Indonesia lengkap dengan
obat, alat kesehatan dan
tim dokter).
Setiap aksi Belanda di
tanah air kita yang
mengancam kemerdekaan
Indonesia disambut
dengan demonstrasi-
demonstrasi anti Belanda
di negara-negara Timur
Tengah. Mengingat
perjalanan sejarah
tersebut, adalah suatu
keharusan bangsa dan
negara Indonesia berperan
aktif dalam menyelesaian
krisis di Palestina, Libanon
dan negara-negara Islam
lainnya khususnya di
Timur Tengah.

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: