Skip to content

cerita sejarah masukx agama islam ke indonesia

Juni 7, 2011

Pada tahun 30 Hijri atau
651 Masehi, hanya
berselang sekitar 20 tahun
dari wafatnya Rasulullah
SAW, Khalifah Utsman ibn
Affan RA mengirim
delegasi ke Cina untuk
memperkenalkan Daulah
Islam yang belum lama
berdiri. Dalam perjalanan
yang memakan waktu
empat tahun ini, para
utusan Utsman ternyata
sempat singgah di
Kepulauan Nusantara.
Beberapa tahun kemudian,
tepatnya tahun 674 M,
Dinasti Umayyah telah
mendirikan pangkalan
dagang di pantai barat
Sumatera. Inilah
perkenalan pertama
penduduk Indonesia
dengan Islam. Sejak itu
para pelaut dan pedagang
Muslim terus berdatangan,
abad demi abad. Mereka
membeli hasil bumi dari
negeri nan hijau ini sambil
berdakwah.
Lambat laun penduduk
pribumi mulai memeluk
Islam meskipun belum
secara besar-besaran.
Aceh, daerah paling barat
dari Kepulauan Nusantara,
adalah yang pertama
sekali menerima agama
Islam. Bahkan di Acehlah
kerajaan Islam pertama di
Indonesia berdiri, yakni
Pasai. Berita dari
Marcopolo menyebutkan
bahwa pada saat
persinggahannya di Pasai
tahun 692 H / 1292 M,
telah banyak orang Arab
yang menyebarkan Islam.
Begitu pula berita dari Ibnu
Battuthah, pengembara
Muslim dari Maghribi.,
yang ketika singgah di
Aceh tahun 746 H / 1345
M menuliskan bahwa di
Aceh telah tersebar
mazhab Syafi’i. Adapun
peninggalan tertua dari
kaum Muslimin yang
ditemukan di Indonesia
terdapat di Gresik, Jawa
Timur. Berupa komplek
makam Islam, yang salah
satu diantaranya adalah
makam seorang Muslimah
bernama Fathimah binti
Maimun. Pada makamnya
tertulis angka tahun 475
H / 1082 M, yaitu pada
jaman Kerajaan Singasari.
Diperkirakan makam-
makam ini bukan dari
penduduk asli, melainkan
makam para pedagang
Arab.
Sampai dengan abad ke-8
H / 14 M, belum ada
pengislaman penduduk
pribumi Nusantara secara
besar-besaran. Baru pada
abad ke-9 H / 14 M,
penduduk pribumi
memeluk Islam secara
massal. Para pakar sejarah
berpendapat bahwa
masuk Islamnya
penduduk Nusantara
secara besar-besaran pada
abad tersebut disebabkan
saat itu kaum Muslimin
sudah memiliki kekuatan
politik yang berarti. Yaitu
ditandai dengan berdirinya
beberapa kerajaan
bercorak Islam seperti
Kerajaan Aceh
Darussalam, Malaka,
Demak, Cirebon, serta
Ternate. Para penguasa
kerajaan-kerajaan ini
berdarah campuran,
keturunan raja-raja
pribumi pra Islam dan
para pendatang Arab.
Pesatnya Islamisasi pada
abad ke-14 dan 15 M
antara lain juga
disebabkan oleh surutnya
kekuatan dan pengaruh
kerajaan-kerajaan Hindu /
Budha di Nusantara seperti
Majapahit, Sriwijaya dan
Sunda. Thomas Arnold
dalam The Preaching of
Islam mengatakan bahwa
kedatangan Islam
bukanlah sebagai penakluk
seperti halnya bangsa
Portugis dan Spanyol.
Islam datang ke Asia
Tenggara dengan jalan
damai, tidak dengan
pedang, tidak dengan
merebut kekuasaan politik.
Islam masuk ke Nusantara
dengan cara yang benar-
benar menunjukkannya
sebagai rahmatan
lil’alamin.
Dengan masuk Islamnya
penduduk pribumi
Nusantara dan
terbentuknya
pemerintahan-
pemerintahan Islam di
berbagai daerah kepulauan
ini, perdagangan dengan
kaum Muslimin dari pusat
dunia Islam menjadi
semakin erat. Orang Arab
yang bermigrasi ke
Nusantara juga semakin
banyak. Yang terbesar
diantaranya adalah berasal
dari Hadramaut, Yaman.
Dalam Tarikh Hadramaut,
migrasi ini bahkan
dikatakan sebagai yang
terbesar sepanjang
sejarah Hadramaut.
Namun setelah bangsa-
bangsa Eropa Nasrani
berdatangan dan dengan
rakusnya menguasai
daerah-demi daerah di
Nusantara, hubungan
dengan pusat dunia Islam
seakan terputus. Terutama
di abad ke 17 dan 18
Masehi. Penyebabnya,
selain karena kaum
Muslimin Nusantara
disibukkan oleh
perlawanan menentang
penjajahan, juga karena
berbagai peraturan yang
diciptakan oleh kaum
kolonialis. Setiap kali para
penjajah – terutama
Belanda – menundukkan
kerajaan Islam di
Nusantara, mereka pasti
menyodorkan perjanjian
yang isinya melarang
kerajaan tersebut
berhubungan dagang
dengan dunia luar kecuali
melalui mereka. Maka
terputuslah hubungan
ummat Islam Nusantara
dengan ummat Islam dari
bangsa-bangsa lain yang
telah terjalin beratus-ratus
tahun. Keinginan kaum
kolonialis untuk
menjauhkan ummat Islam
Nusantara dengan
akarnya, juga terlihat dari
kebijakan mereka yang
mempersulit pembauran
antara orang Arab dengan
pribumi.
Semenjak awal datangnya
bangsa Eropa pada akhir
abad ke-15 Masehi ke
kepulauan subur makmur
ini, memang sudah terlihat
sifat rakus mereka untuk
menguasai. Apalagi
mereka mendapati
kenyataan bahwa
penduduk kepulauan ini
telah memeluk Islam,
agama seteru mereka,
sehingga semangat
Perang Salib pun selalu
dibawa-bawa setiap kali
mereka menundukkan
suatu daerah. Dalam
memerangi Islam mereka
bekerja sama dengan
kerajaan-kerajaan pribumi
yang masih menganut
Hindu / Budha. Satu
contoh, untuk
memutuskan jalur
pelayaran kaum Muslimin,
maka setelah menguasai
Malaka pada tahun 1511,
Portugis menjalin
kerjasama dengan
Kerajaan Sunda Pajajaran
untuk membangun
sebuah pangkalan di
Sunda Kelapa. Namun
maksud Portugis ini gagal
total setelah pasukan
gabungan Islam dari
sepanjang pesisir utara
Pulau Jawa bahu
membahu menggempur
mereka pada tahun 1527
M. Pertempuran besar
yang bersejarah ini
dipimpin oleh seorang
putra Aceh berdarah Arab
Gujarat, yaitu Fadhilah
Khan Al-Pasai, yang lebih
terkenal dengan gelarnya,
Fathahillah. Sebelum
menjadi orang penting di
tiga kerajaan Islam Jawa,
yakni Demak, Cirebon dan
Banten, Fathahillah sempat
berguru di Makkah.
Bahkan ikut
mempertahankan Makkah
dari serbuan Turki
Utsmani.
Kedatangan kaum
kolonialis di satu sisi telah
membangkitkan semangat
jihad kaum muslimin
Nusantara, namun di sisi
lain membuat pendalaman
akidah Islam tidak merata.
Hanya kalangan pesantren
(madrasah) saja yang
mendalami keislaman,
itupun biasanya terbatas
pada mazhab Syafi’i.
Sedangkan pada kaum
Muslimin kebanyakan,
terjadi percampuran
akidah dengan tradisi pra
Islam. Kalangan priyayi
yang dekat dengan
Belanda malah sudah
terjangkiti gaya hidup
Eropa. Kondisi seperti ini
setidaknya masih terjadi
hingga sekarang. Terlepas
dari hal ini, ulama-ulama
Nusantara adalah orang-
orang yang gigih
menentang penjajahan.
Meskipun banyak diantara
mereka yang berasal dari
kalangan tarekat, namun
justru kalangan tarekat
inilah yang sering bangkit
melawan penjajah. Dan
meski pada akhirnya
setiap perlawanan ini
berhasil ditumpas dengan
taktik licik, namun sejarah
telah mencatat jutaan
syuhada Nusantara yang
gugur pada berbagai
pertempuran melawan
Belanda. Sejak perlawanan
kerajaan-kerajaan Islam di
abad 16 dan 17 seperti
Malaka (Malaysia), Sulu
(Filipina), Pasai, Banten,
Sunda Kelapa, Makassar,
Ternate, hingga
perlawanan para ulama di
abad 18 seperti Perang
Cirebon (Bagus rangin),
Perang Jawa (Diponegoro)
, Perang Padri (Imam
Bonjol), dan Perang Aceh
(Teuku Umar).

No comments yet

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: