Skip to content

CERITA ASAL USUL KOTA BANYUWANGI

Juni 6, 2011

Pada zaman dahulu di
kawasan ujung timur
Propinsi Jawa Timur
terdapat sebuah
kerajaan besar yang
diperintah oleh
seorang Raja yang adil
dan bijaksana. Raja
tersebut mempunyai
seorang putra yang
gagah bernama Raden
Banterang. Kegemaran
RadenBanterang
adalah berburu. “Pagi
hari ini aku akan
berburu ke hutan.
Siapkan alat berburu,”
kata Raden Banterang
kepada para abdinya.
Setelah peralatan
berburu siap, Raden
Banterang disertai
beberapa
pengiringnya
berangkatke hutan.
Ketika Raden
Banterang berjalan
sendirian, ia melihat
seekor kijang melintas
di depannya. Ia segera
mengejar kijang itu
hingga masuk jauh ke
hutan. Ia terpisah
dengan para
pengiringnya.
“Kemana seekor kijang
tadi?”, kata Raden
Banterang, ketika
kehilangan jejak
buruannya. “Akan ku
cari terus sampai
dapat,” tekadnya.
Raden Banterang
menerobos semak
belukar dan
pepohonan hutan.
Namun, binatang
buruan itu tidak
ditemukan. Ia tiba di
sebuah sungai yang
sangat bening airnya.
“Hem, segar nian air
sungai ini,” Raden
Banterang minum air
sungai itu, sampai
merasa hilang
dahaganya. Setelah
itu, ia meninggalkan
sungai. Namun baru
beberapa langkah
berjalan, tiba-tiba
dikejutkan kedatangan
seorang gadis cantik
jelita.
“Ha? Seorang gadis
cantik jelita? Benarkah
ia seorang manusia?
Jangan-jangan setan
penunggu hutan,”
gumam Raden
Banterang bertanya-
tanya. Raden
Banterang
memberanikan diri
mendekati gadis cantik
itu. “Kau manusia atau
penunggu hutan?”
sapa Raden Banterang.
“Saya manusia,”
jawab gadis itu sambil
tersenyum. Raden
Banterang pun
memperkenalkan
dirinya.Gadis cantik
itu menyambutnya.
“Nama saya Surati
berasal dari kerajaan
Klungkung”. “Saya
berada di tempat ini
karena
menyelamatkan diri
dari serangan musuh.
Ayah saya telah gugur
dalam
mempertahankan
mahkotakerajaan,”
Jelasnya. Mendengar
ucapan gadis itu,
Raden Banterang
terkejut bukan
kepalang. Melihat
penderitaan puteri Raja
Klungkungitu, Raden
Banterang segera
menolong dan
mengajaknya pulang
ke istana. Tak lama
kemudian mereka
menikah membangun
keluarga bahagia.
Pada suatu hari, puteri
Raja Klungkung
berjalan-jalan
sendirianke luar
istana. “Surati! Surati!”,
panggil seorang laki-
laki yang berpakaian
compang-camping.
Setelahmengamati
wajah lelaki itu, ia baru
sadar bahwa yang
berada di depannya
adalah kakak
kandungnya bernama
Rupaksa. Maksud
kedatangan Rupaksa
adalah untuk
mengajak adiknya
untuk membalas
dendam, karena
Raden Banterang telah
membunuh
ayahandanya. Surati
menceritakan bahwa
ia mau diperistri Raden
Banterang karenatelah
berhutang budi.
Dengan begitu, Surati
tidak mau membantu
ajakan kakak
kandungnya. Rupaksa
marah mendengar
jawaban adiknya.
Namun, ia sempat
memberikan sebuah
kenangan berupa ikat
kepala kepada Surati.
“Ikat kepala ini harus
kau simpan di bawah
tempat tidurmu,”
pesan Rupaksa.
Pertemuan Surati
dengan kakak
kandungnya tidak
diketahui oleh Raden
Banterang,
dikarenakan Raden
Banterang sedang
berburu di hutan.
Tatkala Raden
Banterang berada di
tengah hutan, tiba-tiba
pandangan matanya
dikejutkan oleh
kedatangan seorang
lelaki berpakaian
compang-camping.
“Tuangku, Raden
Banterang.
Keselamatan Tuan
terancam bahaya
yang direncanakan
oleh istri tuan sendiri,”
kata lelaki itu. “Tuan
bisa melihat buktinya,
dengan melihat
sebuah ikat kepala
yang diletakkan di
bawah tempat
peraduannya. Ikat
kepala itu milik lelaki
yang dimintai tolong
untuk membunuh
Tuan,” jelasnya.
Setelah mengucapkan
kata-kata itu, lelaki
berpakaian compang-
camping itu hilang
secara misterius.
Terkejutlah Raden
Banterang mendengar
laporan lelaki misterius
itu. Ia pun segera
pulang ke istana.
Setelah tiba di istana,
Raden Banterang
langsung menuju ke
peraaduan istrinya.
Dicarinya ikat kepala
yang telah diceritakan
oleh lelaki berpakaian
compang-camping
yangtelah menemui
di hutan. “Ha! Benar
kata lelaki itu! Ikat
kepala ini sebagai
bukti! Kau
merencanakan mau
membunuhku dengan
minta tolong kepada
pemilik ikat kepala ini!”
tuduh Raden
Banterang kepada
istrinya. ” Begitukah
balasanmu padaku?”
tandas Raden
Banterang.”Jangan asal
tuduh. Adinda sama
sekali tidak bermaksud
membunuh Kakanda,
apalagi minta tolong
kepada seorang lelaki!”
jawab Surati. Namun
Raden Banterang tetap
pada pendiriannya,
bahwa istrinya yang
pernah ditolong itu
akan membahayakan
hidupnya. Nah,
sebelum nyawanya
terancam, Raden
Banterang lebih dahulu
inginmencelakakan
istrinya.
Raden Banterang
berniat
menenggelamkan
istrinyadi sebuah
sungai. Setelah tiba di
sungai, Raden
Banterang
menceritakan tentang
pertemuan dengan
seorang lelaki
compang-camping
ketikaberburu di
hutan. Sang istri pun
menceritakan tentang
pertemuan dengan
seorang lelaki
berpakaian compang-
camping seperti yang
dijelaskan suaminya.
“Lelaki itu adalah kakak
kandung Adinda.
Dialah yang memberi
sebuah ikat kepala
kepada Adinda,” Surati
menjelaskan kembali,
agar Raden Banterang
luluh hatinya. Namun,
Raden Banterang tetap
percaya bahwa
istrinya akan
mencelakakan dirinya.
“Kakanda suamiku!
Bukalah hati dan
perasaan Kakanda!
Adinda rela mati demi
keselamatan Kakanda.
Tetapi berilah
kesempatan kepada
Adinda untuk
menceritakan perihal
pertemuan Adinda
dengan kakak
kandung Adinda
bernama Rupaksa,”
ucap Surati
mengingatkan.
“Kakak Adindalah yang
akan membunuh
kakanda! Adinda
diminati bantuan,
tetapi Adinda tolah!”.
Mendengar hal
tersebut , hati Raden
Banterang tidak cair
bahkan menganggap
istrinya berbohong..
“Kakanda ! Jika air
sungai ini menjadi
bening dan harum
baunya, berarti Adinda
tidakbersalah! Tetapi,
jika tetap keruh dan
bau busuk, berarti
Adinda bersalah!” seru
Surati. Raden
Banterang
menganggap ucapan
istrinya itu mengada-
ada. Maka, Raden
Banterang segera
menghunus keris
yang terselip di
pinggangnya.
Bersamaanitu pula,
Surati melompat ke
tengah sungai lalu
menghilang.
Tidak berapa lama,
terjadi sebuah
keajaiban. Bau nan
harum merebak di
sekitar sungai. Melihat
kejadian itu, Raden
Banterang berseru
dengan suara
gemetar. “Istriku tidak
berdosa! Air kali ini
harum baunya!”
Betapa menyesalnya
Raden Banterang. Ia
meratapi kematian
istrinya, dan
menyesali
kebodohannya.
Namun sudah
terlambat.
Sejak itu, sungai
menjadi harum
baunya. Dalam bahasa
Jawadisebut
Banyuwangi. Banyu
artinya air dan wangi
artinya harum. Nama
Banyuwangi
kemudian menjadi
nama kota
Banyuwangi.

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: